We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

When Love Must Protect the Love (Chapter 2)

39 Komentar

Title                  : When Love Must Protect the Love

Author             : Cahya Khosyiah

Main Cast        : Kim Myungsoo

Bae Suzy

Other Cast       : Park Jiyeon

Joon Geum

Pairing             : Myungzy (Myungsoo+Suzy)

Genre              : Angst, Romance

Rate                 : 17

Disclaimer       : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk Flashback

R&R

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Semua orang punya ambisi untuk mewujudkan keinginannya, walaupun harus mengabaikan orang lain.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Suzy bangun dari tidurnya ditengah malam. Setiap malam, selama 2 tahun dia selalu terbangun ditengah malam. Mimpi buruk, pasti. Suzy tak bisa bayangkan jika tak ada kapsul-kapsul ini.

===

Awalnya Suzy tak berfikir untuk menkonsumsi obat, tapi keberaniannya mulai muncul ketika dia tak bisa menahan tekanan dalam dirinya. Tanpa sepengetahuan Ibu dan kakak tirinya, Suzy datang ke dokter untuk meminta obat penenang. Jika satu dokter tak bersedia, dia datang ke dokter lainnya.

===

            Suzy menyandarkan tubuhnya pada jendela kaca, memperhatikan keadaan luar rumah yang sunyi.

Kenapa? Kenapa semakin banyak orang yang ia cintai maka ia semakin tersiksa? Kenapa harus Suzy yang merasakannya?

Suzy mengacak rambut dengan kasar, beberapa saat kemudian dia berhenti. Ini tidak baik, Suzy tidak boleh emosi. Diraihnya gelas putih diatas meja. Sial… Suzy sudah menghabiskannya tadi saat meminum kapsul.

Dengan langkah terburu Suzy menuruni tangga, menuju dapur. Lalu menuangkan air pada gelas, namun tangannya bergetar sehingga air yang ia tuangkan justru membasahi meja dan piamanya.

“Apa anda menginginkan sesuatu, nona?”

Suzy segera meminum sedikit air yang berhasil ia tuang pada gelas. “Oh Ajuhma.” Ia menengok kebelakang dengan wajah datar. “Aku hanya haus.”

“Apa anda bermimpi buruk?” Oh Ajuhmma mengelap air diatas meja.

“Apa aku membangunkanmu?”

“Aku mendengar anda berlari dari atas, jadi saya khawatir.” Jawab Oh Ajuhmma.

“Aku baik-baik saja.”

“Nona.” Oh Ajuhmma memegang tangan Suzy. “7 tahun sudah berlalu, meskipun anda terlihat baik-baik saja tapi saya tetap mengkhawatirkan anda.”

“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Jiyeon bangkit dari tempat tidur lalu memungut kemeja Myungsoo yang ada dilantai dan menggunakan untuk menutupi tubuh telanjangnya.

“Pergilah ke dokter. Wajahmu terlihat pucat.” Ucap Myungsoo dengan mata masih terpejam.

Jiyeon melihat pantulan dirinya depan kaca. Benarkan? Tapi berat badannya naik. Diliriknya kalender diatas meja rias. Jiyeon membulatkan matanya saat menyadari sesuatu. Seolma?

“Dengan pakaian itu kau masih disana?” Myungsoo membuka sedikit matanya. “cepat mandi atau kau mau aku terkam?”

Jiyeon segera masuk ke kamar mandi. Bukan takut dengan ancaman Myungsoo tapi menyembunyikan diri sebelum Myungsoo juga menyadari sesuatu.

WLP 2 -l1  Sedang Myungsoo tersenyum kecil melihat tingkah kekasihnya.

“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””‘””””””””””””””””‘

Jiyeon memberanikan diri untuk membuka mata. Menyiapkan diri untuk hasil dari tes yang dia lakukan.

Kring….kring…kring.

Jiyeon menahan nafas saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.

“Suzy-ah.” Jiyeon berusaha meringankan suaranya.

“Ayo bertemu.”

“neo eodi?” sekeras apapun Jiyeon berusaha, suaranya tetap terdengar bergetar.

“ Tempat biasa”

“arraso, keuno.” Jiyeon melapaskan nafas yang sulit keluar beberapa saat tadi. Ditatapnya pantulan dirinya pada cermin.

Inilah saat, keputusanya sudah bulat. Jiyeon menyisir rambut yang sebenarnya sudah rapi.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jiyeon melangkah mantap ke dalam kedai pizza, tempat dimana Suzy berada. Kemudian duduk didepan Suzy yang sibuk dengan ponselnya.

“Aku sudah memesan, sebentar lagi tiba.” Suzy melatakkan ponselnnya. Disebrang meja, Jiyeon memperhatikan ponsel suzy yang menyala sebentar tanda pesan terkirim pada Myungsoo.

Ditempat ini, di bangku ini.

Kedai pizza ini adalah tempat kesukaan Suzy, Jiyeon, dan Soojung. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama disini. Sedih, bahagia, bosan, mengungkapkan hati masing-masing kepada satu sama lain. Suzy duduk didepan Jiyeon kemudian Soojung duduk disamping Suzy.

Semuanya masih sama atau mungkin ‘Tidak’ sebentar lagi.

“Apa Soojung menghubungimu?” tanya Suzy.

“Tidak, sejak 6 bulan yang lalu.” Jawab Jiyeon.

“Gadis itu sungguh menyebalkan.” Suzy sedikit tersenyum. “Aku tau dia akan mewarisi perusahaan keluarganya tapi tidakkah ada waktu untuk sekedar mengirim email pada kita?”

Jiyeon hanya mendengarkan sambil mengelapkan sendok Suzy. Suzy tidak bisa makan jika peralatannya belum dilap didepan matanya.

“Berhenti melakukan itu.” Suzy mengambil peralatannya yang belum selesai dibersihkan. “Aku tidak pernah memintamu. Kau dan Soojung sama saja, selalu mengelapkan sendokku.” Suzy mengelap peralatannya sendiri. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

Suzy memang tidak pernah meminta Soojung maupun Jiyeon untuk membersihkan peralatan makannya tapi entahlah kenapa seperti sudah menjadi keharusan untuk mereka melakukannya.

Ini adalah satu-satunya dan hal terakhir yang bisa Jiyeon lakukan untuk Suzy, pikir Jiyeon.

“Apakah menjadi selebritis sangat menyenangkan?” Suzy memasukkan satu sendok ice cream vanila kedalam mulutnya. “Semakin banyak orang yang rela melapas hal berharga hanya untuk menjadi public figure. Termasuk Suyeon eonnie.” Ucap Suzy entah sengaja atau tidak, ada satu orang lagi yang melakukan sama seperti kakak soojung tersebut.

“Aku berani bertaruh bahwa sekarang Soojung pasti sangat kegirangan. Kau tahu kan bagaimana Soojung terobsesi memiliki perusahaan keluarganya tersebut?”

Jiyeon hanya diam,

“Apa kau masih mengingat Seungho sunbae?”

“Tidak. Sama sepertimu, aku hanya merindukan Soojung.” Jawab Jiyeon jujur.

“Kau tenang saja sebentar lagi kita akan ,,,,,”

“Suzy.” Jiyeon memotong. “Aku berencana ke London.”

wlp 2 -SZ

“Ye?” Tanya Suzy dengan nada hampir terkejut. “Kenapa tiba-tiba?”

“Paman memintaku untuk kesana.” Jawab Jiyeon menyembunyikan kegugupan.

“Aku tidak tahu kau punya saudara di London.”

“Benarkah?” Jiyeon meminum jus strowberry-nya untuk menghilangkan kepanikan. “Aku pikir pernah mengatakannya padamu dan Soojung.”

“Ani… Kami tak pernah tahu.”

“Aku pernah mengatakannya, mungkin kau lupa.”

“A…”

“Aku akan menghubungimu nanti.” Potong Jiyeon lalu segera pergi, berbicara pada suzy saja membuatnya gemetar apalagi berbohong.

Setelah kepergian Jiyeon, Suzy masih bertahan dikedai menatap satu cup ice crime yang belum sempat ia habiskan.

Pikirannya kembali pada masa SMP dulu ketika sang Ayah meninggalkannya.

“Appa mencintaimu jadi appa akan melindungimu.” Ucap seorang pria baya, dengan darah dan luka yang memenuhi tubuhnya sedetik kemudian matanya tertutup.

“Appa irona.. appa…” suzy menggoyangkan tubuh sang ayah.

Tangan Suzy mengepal kuat saat merasakan ulu hatinya yang terasa perih. “Appa… appo.” Suzy memukul dadanya dengan ekspresi datar seperti sebelumnya.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Dengan terburu Myungsoo menekan kode Apertemen Jiyeon. Tanpa melepas sepatu dia bergegas masuk kedalam kamar Jiyeon berada. Myungsoo langsung pulang ketika Jiyeon menelfonnya sambil menangis. Sang gadis sedang duduk meringkuk menyembunyikan kepala.

“Jiyi …” Myungsoo menyentuh tubuh Jiyeon yang bergetar.

“Oppa, Na Museowoyo.” Jiyeon menghambur kepelukan Myungsoo.

“Gwenchana.” Myungsoo membelai rambut Jiyeon. “Marheba.”

“Oppa eottoke?” Jiyeon menyerahkan tespack yang ada digenggamannya.

“Neo…….Bagaimana bisa?….” Mata Myungsoo membulat mengatahui Jiyeon hamil.

“Aku mengatakan pada suzy bahwa aku akan pindah ke London.”

“Ye?!” Myungsoo lebih terkejut dari sebelumnya.

“Aku bertemu suzy hari ini. aku sangat takut, oppa.” Jiyeon kembali menangis.

Melihat Jiyeon menangis, Myungsoo sadar bahwa ‘kekasihnya’ memang ketakutan. Diangkatnya tubuh Jiyeon lalu membarinkan di tempat tidur.

“Uri… kita akan selalu bersama kan? Kau tidak akan meninggalkanku?”

Myungsoo mengangguk.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Myungsoo keluar dari kamar sambil mendekatkan ponselnya ke telinga, dia tidak ingin mengganggu Jiyeon yang baru saja tertidur mungkin karna lelah menangis.

“Sungyeol….Naya.”

“…..”

“Urus sesuatu untukku.”

“…..”

“Ya. Aku akan kesana. Abheojhi masih di London kan?”

“…..”

“Aku mengerti. Keuno.”

Myungsoo menutup telfonnya.Entah apa yang ia pikirkan. Melihat Jiyeon menangis sampai ketakutan membuatnya menuruti keinginan sang gadis untuk pergi ke London, menemui ayahnya. Memulai hidup baru disana bersama ,,,, Jiyeon. Jiyeon. Ya, inilah jalan yang dipilih Myungsoo akhirnya.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“wasseoyo.”

“Chagi,, kau sudah pulang.” Joongeum keluar dari ruang kerjanya.

“Nde eomma.”

“Ayo makan. Oh ajuhmma memasakkan sup daging sapi untuk kita.” Joongeum menuntun putrinya ke ruang makan.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

“Kenapa kau tak berselera makan?” tanya Joongeum, pasalnya suzy hanya mengaduk-aduk kuah supnya. “Makan kimchinya juga.” Sang ibu mendekatkan mangkuk kecil berisi kimchi.

“Bagaimana kabar Soojung?”

“Dia belum memberi kabar.” Jawab Suzy

“Apa kau sudah memberi tahu Jiyeon tentang rencanamu?”

“Dia akan ke London.”

“London bukan tempat yang buruk untuk berlibur. Kau bisa mengcancel tiket ke Amerika.”

“Jiyeon akan tinggal bersama kerabatnya disana.”

Joongeum diam. Inilah alasan putrinya terlihat tidak bersemangat.

“Aku sudah selesai.” Suzy berdiri meninggalkan ruang makan.

“Em.” Joongeum mengangguk, sedetik kemudian dia terlihat berfikir.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Myungsoo memberhentikan mobilnya tepat disebrang jalan rumah Suzy. Myungsoo tidak bermaksud untuk datang ke rumah Suzy tapi hatinya mengerakkan mobil yang ia kendarai kesini.

Memperhatikan rumah sang kekasih dari kejauhan. Ini adalah hal pertama dan mungkin terakhir yang Myungsoo lakukan. Matanya menatap ruangan berkorden merah muda dilantai dua, tepatnya kamar Suzy. Cahya lampu masih terpancar, tanda sang pemilik belum tidur.

Myungsoo menekan angka 1 lalu call.

“Apa yang kau lakukan?”

“…..”

“Bisakah kau keluar?” masih dengan ponsel yang menempel ditelinga Myungsoo keluar dari mobil.

“Apa yang kau lakukan?” Suzy keluar lalu berdiri ditepi balkon. Myungsoo melambaikan tangannya sambil tersenyum lemah.

“geunyang… bagoshipo.”

“Nado.” Ucap Suzy lesu.

“Kenapa?”

“Jiyeon bilang dia akan ke London.”

Myungsoo diam, dia tak ingin apapun. Dia hanya ingin mendengarkan suara Suzy lebih banyak, lebih lama.

“Kau mencintaiku kan?”

“Saranghae.” Myungsoo mengatakan dengan lembut. Selama mereka bersama ,sudah sering kali Myungsoo mengatakan kata cinta pada Suzy tp Suzy hanya tersenyum, mengangguk, atau bilang ‘nado’. Tak pernah sekalipun Suzy mengungkapkan kata cinta.

“Jadi jangan pergi.”

“Suzy….” Myungsoo diam sejenak. “kadang seseorang pergi bukan karna dia tidak mencintaimu tapi karna dia mencintaimu dan tidak ingin melukaimu.”

“Ani. Itu hanya alasan mereka untuk menghindar.”

“Jiyeon sangat menghargai dirimu sebagai sahabatnya.” Myungsoo hampir tak bisa mengontrol dirinya saat tau arah pembicaraan suzy.

“Tapi dia pergi. Jiyeon dan Soojung sama saja mereka hanya beralasan.”

“Apapun yang terjadi, ingatlah bahwa aku pernah mencintaimu.” Myungsoo menutup telfon tapi masih menatap Suzy diujung sana. Begitupun sebaliknya, Suzy menatap Myungsoo.

WLP 2 -l2

‘Pernah’? Bukankah seharusnya ‘selalu’ atau ‘tetap’. Myungsoo dan Suzy, sama-sama berusaha untuk menafsirkan kalimat terakhir yang diucapkan Myungsoo.

jalja” satu pesan Myungsoo terkirim pada Suzy.

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

A/N                  : Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. 😦

Tanda /////////// (flash) panjang artinya cerita dimulai atau cerita berakhir 🙂

Karna cuaca semakin panas dan polusi serta debu dimana-mana jadi jangan lupa pake masker jika ingin berpergian.

Stay tune on this blog and Wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

39 thoughts on “When Love Must Protect the Love (Chapter 2)

  1. 7th yang lalu ada kejadian yang ngebuat suzy jadi traumakah .. parah deh myungsoo masa dia ngehamilin sahabat kekasihnya sih .. klo aku jadi suzy udah aku bunuh tu myungsoo #Emosi

    Suka

  2. Yaahhh suzy ditinggal lg. Kasian suzy.
    Myung jangan tinggalin suzy dong, eh tapi kasian juga jiyeon. Aduh jiyeonnya hamil lg.. ah suzy bakal makin tersakiti.

    Suka

  3. sumpah aq benci bngt sma myungsoo dan jiyeon!!

    Suka

  4. Aaaaahh sediiiiih….tpi aku suka sih sad story…makasih thor

    Suka

  5. baper.. di kosan sendiri, baca ff ini. jadi baper aw dah!

    Suka

  6. Author bnr2 mo nguras air mata aq ,,..huaaaaaaa …..

    Suka

  7. ya ampun nyesek baca nya..myungsoo bener” tega sama.suzy

    Suka

  8. tanganku ampe bergetar baca ini,,,pengen jambakrambutx myungsoo rasanya 😡😡😡😡😡

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s