We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)


35 Komentar

When Love Must Protect the Love (Chapter 15)

Title : When Love Must Protect the Love
Author : Cahya Khosyiah
Main Cast : Kim Myungsoo | Bae Suzy
Other Cast :Nichkhun | Tiffany | Joongeum | Minho | Soojung | Seunghom| Jieun | Jiyeon | Sungjong | Hyeri
Original Cast : Choi Doctor’s | Chun Unjeonsa | Ok Biseo | Oh Ajuhmma | Wang Biseo | Seo Nara
Pairing : Myungzy (Myungz+Suzy)
Genre : Angst, Romance
Rate : 17+
Disclaimer : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.
Huruf tebal untuk flashback
R&R

Baca lebih lanjut


29 Komentar

When Love Must Protect the Love (Chapter 14)

Title                 : When Love Must Protect the Love

Author             : Cahya Khosyiah

Main Cast        : Kim Myungsoo | Bae Suzy

Other Cast       :Nichkhun | Tiffany | Joongeum | Minho | Soojung | Seunghom| Jieun | Jiyeon | Sungjong | Hyeri

Original Cast   : Choi Doctor’s | Chun Unjeonsa | Ok Biseo | Oh Ajuhmma | Wang Biseo | Seo Nara

Pairing             : Myungzy (Myungz+Suzy) Baca lebih lanjut


23 Komentar

When Love Must Protect the Love (Chapter 13)

Title                 : When Love Must Protect the Love

Author             : Cahya Khosyiah

Main Cast        : Kim Myungsoo | Bae Suzy

Other Cast       :Nichkhun | Tiffany | Joongeum | Minho | Soojung | Seunghom| Jieun | Jiyeon | Sungjong | Hyeri

Original Cast   : Choi Doctor’s | Chun Unjeonsa | Ok Biseo | Oh Ajuhmma | Wang Biseo | Seo Nara

Pairing             : Myungzy (Myungz+Suzy)

Genre              : Angst, Romance

Rate                 : 17+

Disclaimer       : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback

R&R

 

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

‘Ku rasa aku tak bisa bernafas tanpamu’

Suzy membolak-balikan tubuhnya, berbaring diatas kasur dengan keadaan gusar seakan tidak ada posisi yang pas untuk tidur.

Kalimat Myungsoo sungguh menganggu pikirannya. Saat dia membuka mata kalimat itu mengiang ditelinganya namun ketika Suzy menutup mata justru wajah Myungsoo yang hadir.

Suzy duduk dipinggir ranjang. Dulu Suzy juga pernah merasakan ini tapi sekarang berbeda, Suzy tidak lagi meresa dadanya sesak saat teringat Myungsoo. Seperti dia merasa bebas.

Apakah kali ini Myungsoo membuat Suzy nyaman? Atau terapi Minho benar-benar berguna.

 

‘Terima kasih,,’

Menunggu sejenak sebelum akhirnya Suzy menyentuh tombol send.

‘Kenapa kau belum tidur?’

Suzy mendongakkan kepala melihat jam dinding yang terpasang dikamarnya. Pukul 01.25. Hampir pagi. Kenapa Minho belum tidur?

‘Kau sendiri?’ Balas Suzy.

‘Tadinya aku sudah tidur, tapi pesan dari Putri Frozen membangunkanku.’

Jadi Minho terbangun karna pesan darinya. Minho bisa saja mengabaikan Suzy dan membalas pesannya besok pagi, tapi kenapa Minho membalasnya sekarang?

Pikiran Suzy tiba-tiba teralih pada Myungsoo. Apakah Myungsoo juga akan membalas jika Suzy mengirim pesan?

‘Kau sudah tidur?’

Send. Satu pesan terkirim pada Myungsoo. Beberapa detik kemudian Ponsel Suzy berbunyi, tanda sebuah panggilan masuk.

Myungsoo menelfonnya. Suzy buru-buru mencari sisir kemudian merapikan wajahnya. Tunggu,,, Bodoh.  Bukankah ini sebuah telfon? Myungsoo tidak akan melihat penampilannya.

Suzy berdehem lalu mendekatkan ponsel ke tinganya

Suzy?” Myungsoo dari seberang telfon.

“Hai,,,” Sapa Suzy. Hai? OhGod! Kata yang menjijikkan untuk dikatakan ‘seorang Suzy’.

            “Ada apa?’

“Geunyang,,, Apa yang sedang kau lakukan?”

“Memikirkanmu,,”

Jawaban Myungsoo menyelimuti hati Suzy.

“Kau?”

“Tidak ada.” Jawabnya.

Tidak bisa tidur karna aku?”

Ucapan Myungsoo sangat tepat. Suzy ingin menjawab ‘Ya.’ namun itu akan menjadi sebuah bumerang untuk dirinya sendiri serta membahayakan Myungsoo.

“Tidurlah. Aku disini baik-baik saja. Dan setelah ini  jangan tersenyum didepanku atau kau memang berencana menghancurkan dunia.”

Suzy hendak menjawab perkataan Myungsoo namun Myungsoo sudah lebih dulu memutuskan sambungan.

Jangan tersenyum didepannya, dia bilang? Suzy tidak akan pernah melakukan itu. Tidak ada hubungan antara tersenyum dan menghancurkan dunia.

Apa senyum Suzy jelek?

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

 

Tak berbeda jauh dari Suzy, Myungsoo pun teramat senang karna Suzy mengirimnya sebuah pesan. Bahkan perasaan itu tak bisa hilang sampai pagi hari. Dia tak bisa berhenti tersenyum.

Myungsoo mengambil benda pipih berwarna putih yang ia letakkan dimeja samping ranjangnya. Menekan tombol Inbox.

‘Kau sudah tidur?’

Myungsoo hanya bisa berteriak, mengekspresikan perasaanya. Dia tidak bermimpi. Suzy benar-benar mengiriminya pesan.

Myungsoo rasa hari ini adalah hari keberuntungannya.

~

 

“Chun Unjeonsa, siapkan mobil. Aku akan ke suatu tempat, belum berangkat kerja.” Ucap Myungsoo sambil merapikan dasi garis-garis yang ia kenakan.

“Myungsoo,,,”

Mendengar namanya disebut Myungsoo pun mendongakkan kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang pria paruh baya berdiri diruang tamu sambil tersenyum.

Belum sembuh dari keterkejutan atas kedatangan sang Ayah, kini Muyungsoo lebih terkejut karna ternyata Ayahnya tidak datang sendiri.

“Oppa,,,” Seorang wanita berambut panjang bergelombang muncul dibalik tubuh Ayah Myungsoo.

“Park,,, Jiyeon.” Ucap Myungsoo pelan.

~

“Kenapa ayah datang tiba-tiba?”

Rencana Myungsoo ingin menjemput Suzy sebelum berangkat harus digagalkan karna kedatangan sang Ayah. Dan disinilah Myungsoo berakhir, sarapan pagi bersama Ayahnya juga Jiyeon.

“Apanya yang tiba-tiba? Ayah juga warga negara korea, apa salahnya kembali ke kampung halaman? Terlebih anak ayah ada disini.”

“Maksudku Ayah tidak memberi tahu lebih dulu.”

“Memberi kejutan.” Ucap Jiyeon.

Mereka berhasil. Myungsoo amat terkejut. “Kenapa Ayah bisa besama Jiyeon?” Tanya Myungsoo.

“Sejak kau kembali ke korea, aku mencari Jiyeon dan kami tinggal bersama.” Jawab Hojin.

L (6)

 

 

 

 

 

“Bagaimana kabarmu?” Pertanyaan Myungsoo beralih pada Jiyeon.

“Baik.” Jawab Jiyeon.

“Apa rencanamu?”

“Bekerja, tentu saja.” Jawab Jiyeon lagi. “Sebelum itu Aku akan menemui Soojung, hanya dia seseorang yang ku kenal sekarang. Kau pasti sudah bertemu dengannya?”

“Beberapa kali.” Jawab Myungsoo jujur.

“Jiyeon,,, pergilah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan pada Myungsoo.”

“Baik paman.” Jiyeon menurut.

~

Setelah kepergian Jiyeon, Myungsoo dan Hojin beralih ke ruang tengah mereka. Sesuatu yang ingin dibiacarakan Ayah Myungsoo adalah mengenai perusahaan. Dan Myungsoo sudah mengerti itu.

“Ku dengar harga sahamnya naik?”

“Iya.” Jawab Myungsoo seadanya.

“Karna itu kau menjual semua saham?”

l 4

“Tidak semua, hanya 20%. Aku masih punya 10% dan Ayah 15%, aku tidak menyentuh saham ayah.” Terang Myungsoo.

“Dan 75% saham tidak diketahui pemiliknya.” Timpal Hojin.

“Tapi kesempatan seperti ini tidak datang kedua kali. Kita bisa membeli saham itu kembali saat harga sudah turun.”

“Saat itu terjadi, kau mungkin tidak lagi berhak atas perusahaan.”

“Maksud Ayah?”

“Jika kau memang punya kemampuan, tidak perduli saham naik atau turun kau tetap bisa menjalankan bisnis.”

Myungsoo diam. Jadi maksud ayahnya, Myungsoo terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan?

“Bagaimana hubunganmu dengan Suzy?”

Myungsoo tersentak mendengar pertanyaan Ayahnya. Dari mana Ayahnya tau perihal Suzy? Namanya saja,Myungsoo yakin tidak pernah menyebutnya. Tau sendiri hubungan dia dengan sang ayah. Myungsop tidak merasa nyaman bercerita sesuatu yang bersifat privasi pada sang ayah, Dia pikir ayahnya tak perlu tau kehidupan pribadinya.

“Jiyeon sudah menceritakan semuanya.”

Jiyeon, tentu saja.

Apa yang akan dilakukan sang Ayah sekarang? Setelah mengetahui anak laki-lakinya menghancurkan dua orang gadis. Apapun itu Myungsoo harap Ayahnya mengerti perasaannya terhadap Suzy.

“Apa kau sedang mendekatinya lagi?”

Myungsoo tak menjawab.

“Ada yang seharusnya Ayah katakan padamu tapi Ayah belum bisa.” Ucap Hojin mengakhiri pembicaraan mereka pagi ini.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””“”

 

Suzy menyerit –heran- melihat Hyeri berdiri didepan kantornya.

Sejak Suzy dimutasi, Sekertarisnya ini tidak lagi bekerja untuk dirinya. Suzy dipindahkan ke kantor lain sedang Hyeri tetap di Irwol Property  mendampingi Sungjong. Lalu untuk apa Hyeri ada dikantornya?

“Selamat pagi, sanjangnim.” Sapa Hyeri membungkukkan badan. “Mulai hari ini saya akan bekerja untuk anda. Lagi.”

“Wae?” Suzy berjalan masuk ruangan lalu duduk dikursinya.

Sebelum menjawab, Hyeri meletakkan amplop putih diatas meja Suzy. Surat mutasi. “Anda sendiri yang bilang bahwa sepasang kekasih tidak boleh terlibat diperkerjaan yang sama.”

“Tapi kau senang kan bersama Sunjong?”

“Tidak juga. Dia selalu sibuk jadi saya merasa diabaikan.”

“Kau mungkin akan merasa bosan, disini tidak banyak pekerjaan yang dilakukan.” Jelas Suzy.

“Tapi saya dengar tempo hari anda pulang malam. Karna itulah Wakil Direktur mengeluarkan surat mutasi untuk saya.”

 

“Pekerjaan hanya menumpuk pada awal dan akhir bulan saja.”

“Kalau tidak sibuk kita bisa mengisi waktu dengan ke salon atau berbelanja.” Hyeri antusias. “Atau kita bisa berkeliling apartemen, aku dengar banyak Idol yang membeli apartemen disini. Aku sangat ingin bertemu wajah-wajah tampan member boy grup.” Hyeri semakin antusias dari sebelumnya.

~

‘Aku sudah makan siang.’

            ‘Ya’

Satu kata balasan Suzy terhadap pesan Myungsoo. Tidak tau kenapa Myungsoo ingin berbasa-basi dengan Suzy. Mengobrolkan hal-hal tidak penting sepertinya sangat menyenangkan.

‘Hanya ‘YA?’

Tak menunggu lama, Suzy sudah membelas lagi.

Suzy (47)

‘Lalu apa? Kenapa kau memberitahuku?’

‘Agar kau mengetahuinya. Setidaknya tanya Apa aku menikmatinya.’ Balas Myungsoo.

            ‘Semoga kau menikmati istirahat siangmu. Puas?’

            ‘Tidak. Aku harap kita bisa menikmati setiap waktu luang bersama.’

Myungsoo meletakkan ponselnya. Yakin bahwa Suzy tidak akan membalas pesannya lagi. Myungsoo tidak bohong saat berkata dia tidak bisa bernafas tanpa Suzy. Baginya Suzy adalah oksigennya saat ini.Myungsoo selalu ingin bertemu Suzy. Bertemu lagi dan lagi.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

 

Hari ini tiba. Hari pembukaan Resort. Sebernar hari ini juga hari yang ditunggu Myungsoo. Dia sudah merencanakan jauh-jauh hari bahwa ia akan mengungkapkan perasaanya dan meminta Suzy bersamanya.

Namun rencana itu harus berantakan karna kepulangan Ayahnya dan Jiyeon. Ditambah mereka akan ikut ke pesta pembukaan. Tidak ada masalah Ayah Myungsoo ikut tapi Jiyeon? Ini hanya akan menempatkan Myungsoo dan Jiyeon dalam keadaan tidak nyaman.

“Kau yang menyebabkan mereka begini jadi Kau harus menyelesaikannya. Kau tidak bisa pergi dengan meninggalkan salah satu dari mereka. Perbaiki hubungan Suzy dan Jiyeon.”

Perkataan Hojin pada Myungsoo. Ayahnya meyakinkan Myungsoo untuk membawa Jiyeon ikut serta. Myungsoo tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Suzy nanti, melihat mereka datang bersama.

~

“Kita tidak perlu masuk bersama.” Ucap Hojin ketika Myungsoo memarkirkan mobil. “Aku dan Jiyeon akan masuk duluan.”

Myungsoo merasa sedikit tenang jika begitu, sedikit.

Hojin dan Jiyeon berhenti berjalan ketika sebuah suara memanggil nama Jiyeon. Nampaknya mereka melupakan satu orang, Jung Soojung.

“Kenapa kalian bisa berangkat bersama?” Tanya Soojung pada mereka.

“Jiyeon bekerja untuk ayahku ketika di London.” Jawab Myungsoo sesantai mungkin.

“Annyeonghaseo. Jung Soojung imida.” Soojung memperkenalkan diri pada Ayah Myungsoo yang dibalas Hojin dengan sebuah anggukan.

“Tidak ada yang memberi tahuku tentang ini?” Soojung bertanya lagi.

“Aku baru tau, saat ayahku datang ke Korea.” Myungsoo jujur tentang satu hal ini. Dia baru tau bahwa Jiyeon bekerja untuk ayahnya.

“Aku juga baru tau hari ini.” Dengan memaksakan senyum, Jiyeon ikut menjawab.

“Jiyeon, ayo masuk.” Ajak Hojin.

“Soojung, aku masuk dulu. Kau masuk bersama Myungsoo.”

“Tapi,,”

Myungsoo menarik lengan Soojung yang hendak mengikuti Jiyeon. “Kau tidak dengar? Kau masuk bersamaku.”

~

 

“Para tamu sudah menunggu dan penggelar acara masih sibuk berdandan.” Minho menghampiri Keluarga Bae disuatu ruang khusus.

Acara pembukaan resort dilaksanakan di aula hotel milik Irwol sendiri. Menghemat biaya sekaligus promosi hotel mereka.

Setiap anggota sibuk menyiapkan diri.

Tiffany merapikan dasi kupu-kupu milik Nickhun, satu yang baru dari mereka adalah hanya Nickhun yang mampu menenangkan Hyun Bin saat sedang rewel seperti ini.

Dari tadi Suzy memutar tubuhnya didepan cermin besar, ke kanan lalu ke kiri dan ke kanan lagi, mencari sesuatu yang bisa menjadi celah.

Hanya Joongeum yang terlihat tenang dalam kegiatannya.

“Jangan terlalu cantik, kau bisa menjadikan perayaan menjadi perang.”

Sebuah gaun berwarna putih panjang yang menampakkan bahu putih Suzy. Sekitar 10 centi diatas lutut, gaun dibuat transparan sampai bawah. Jangan lupa dengan ramput yang ditata apik sehingga menampakkan leher jenjang sang gadis.

“Berarti aku cantik.” Suzy tersenyum.

“Sangat cantik.”

“Jinjja?” Suzy dengan nada genit.

“Aaaah. Kepalaku panas.” Minho mencakar kepalanya, setengah berteriak.

“Jangan berfikir mencakar adikku.” Tiffany keluar bersama Nickhun kemudian diikuti Ibu Suzy.

“Tiffany Noona selalu berkata tepat.” Minho menyenderkan tubuhnya pada tembok sambil mengamati penampilan Suzy.

“Karna semua laki-laki selalu berfikir ingin mencakar punggungku.”

“Waaah, kepercayaan dirimu semakin berkembang.” Minho geleng-geleng kepala.

“ Aku siap.” Ucap Suzy.

“Malam ini ijinkan aku menjadi pangeranmu.” Minho memasang tangannya.

“Baiklah. Ini yang terakhir.” Suzy maraih lengan Minho.

“Karna setelah malam ini Cinderella akan berubah menjadi ibu tiri yang kejam.” Suzy menyipitkan mata dihadapan Minho.

“Berhenti membuat tubuhku terbakar.”

Suzy tertawa cekikikan atas ucapan Minho. Dia berhasil menggoda Minho.

~

Satu per satu anak tangga dilewati tanpa menghilangkan senyum mereka. Suzy dan Minho sesekali mengucapkan ‘apa kabar’ atau sekedar menunduk memberi salam.

“Kita pasangan yang  sempurna.” Ucap Minho pelan, masih tersenyum.

“Sangat sempurna.” Timpal Suzy dengan ekspresi sama seperti Minho.

“Lihat dua laki-laki diujung sana.” Suzy mengikuti arah pandang Minho, sesuai petunjuk. “Sekarang mereka saling menyikut sebentar lagi mereka akan saling tonjok.”

“Kau harus segera cari pasangan, kau tidak tau banyak wanita yang ingin menjambakku malam ini.”

“Aku belum puas membuat laki-laki yang mendekatimu patah hati.”

Suzy berhenti berjalan. Nafasnya tercekat dengan apa yang ia lihat. Dia mengeratkan tangannya pada lengan Minho, sehingga membuat sang pemilik menoleh pada Suzy.

Minho khawatir melihat wajah Suzy yang berubah merah.

“Tetap bersamaku.” Ucap Suzy.

Minho mengikuti Suzy yang menatap lurus kedepan. Park Jiyeon? Pantas saja Suzy terkejut, Minho saja terkejut. Untuk apa gadis itu ada disini? Sungguh, Dia datang disaat yang tidak tepat.

“Aku selalu bersamamu.” Minho menurunkan tangan Suzy, menautkan jari-jari mereka.

~

“Minho,, jaga Suzy.” Ucap Joongeum pelan menatap Suzy, Minho, dan Jiyeon, lalu kembali pada tamu mereka.

~

Sedangkan disisi lain, seorang pria merasa tak rela Suzy berdampingan dengan Pria lain. Seharusnya Dia yang ada disamping Suzy. Seharusnya dia yang menggenggam tangan Suzy dan seharusnya dia yang menenangkan Suzy.

 

Terimakasih telah datang pada Acara Pembukaan Irwol Resort.”

Myungsoo berusaha mengalihkan perhatiannya pada orang yang berbicara didepan sana. Nickhun.

“Suatu kehormatan bagi kami, anda sekalian berkenan hadir dalam acara ini. Saya Nickhun, putra sulung Irwol Grup menyatakan Irwol Resort resmi dibuka.” Ucap Nickhun yang disambut tepuk tangan oleh seluruh tamu yang hadir.

“Sambil menikmati hidangan anda, perkenankan saya mempersilahkan adik saya untuk memainkan sebuah lagu.”

Suzy naik panggung dengan anggun kemudian menundukkan kepala sekali dan duduk dibelakang piano klasik berwarna senada dengan gaun yang ia kenakan.

Suzy menekan note piano dimulai dari so fa  lalu diikuti note-note yang lain sehingga membentuk sebuah lagu ‘Let It Go’ dari penyanyi muda Demi Lovato. Selama permainan berlangsung Suzy tak melepas padangannya dari Jiyeon juga Myungsoo, dari tempatnya berada mereka terlihat jelas meskipun Myungsoo berdiri jauh dibelakang Jiyeon.

~

“Mengagumkan sekali.” Sambut beberapa wanita ketika Suzy turun dari panggung. Suzy menunduk mengucapkan terimakasih.

“Aku sudah mengatakan bahwa adik iparku sangat mengagumkan.” Tiffany datang membawa minuman untuk Suzy. “Kenalkan teman-teman kakak.  Ini Im Yoona istri pemilik agensi hiburan.” Tiffany mulai memperkenalkan satu per satu teman-temannya pada Suzy. “Kwon Yuri,” Tunjuk Tiffany pada wanita berambut tipis. “Dan,,, kau sudah tau dia. Jessica Jung.”

“Perkumpulan Nyonya-nyonya muda?” Suzy tersenyum.

“Aku tidak suka dipanggil Nyonya, tapi ‘Nyonya muda’ cukup menarik.” Ucap wanita -yang tidak salah- bernama Yuri.

“Permainan pianomu semakin bagus.” Puji Jessica. “Aku harap Krystal punya keahlian sepertimu.”

“Sudah cukup Soojung punya ambisi yang besar, jika dia punya banyak keahlian aku tidak akan terlihat.” Ucap Suzy.

“Jangan ucapkan nama kecilnya disekitarku Soo,, maksudku Krystal tidak suka. Dia bisa mengira itu aku.”

“Sama sepertimu.” Desis Yoona.

“Ngomong-ngomong kemana dia?” Jessica celinguan mencari sang adik.

“Tadi aku lihat berbincang dengan Minho, entah kemana mereka.” Jawab Tiffany.

“Melihatmu begitu bersinar membuatku menyesal menikah muda.” Ucap Yoona.

“Kau tidak akan menyesal jika menikah dengan orang seperti Nickhun Oppa.” Timpal Tiffany.

“Berhenti menyombongkan suamimu, kau membuatku ingin muntah.” Yuri.

“Kakakku memang yang terbaik.” Suzy mengacungkan dua jempol miliknya. “Mana ada seorang pria yang bersedia menggendong bayi ditengah pesta tanpa didampingi istrinya.”

Tiffany cemberut mendengar ucapan terakhir Suzy padahal sebelumnya dia antusias karna Suzy membenarkan perkataannya. “Aku kan mengurus anakku.” Tiffany pergi meninggalkan Suzy bersama teman-temannya.

“Ku dengar nilai akademikmu juga bagus.” Ucap Jessica ketika Tiffany sudah tak bersama mereka. “Cantik, berbakat, dan pintar, kau pasti menjadi bintang saat di universitas.”

“Sebenarnya aku orang yang tertutup saat di universitas.” Ucap Suzy.

“Benar. Orang yang tidak terlalu populer disekolah biasanya berhasil dimasa depan.” Ucap Yoona menggebu.

“Karna mereka lebih suka bekerja keras daripada berkumpul dengan teman-teman tanpa ada guna.” Yuri ikut menambah.

~

“Berarti kerja keras yang menentukan.”

Suzy melirikkan mata, memastikan siapa yang ikut bicara pada perbincangan Suzy bersama Nyonya-nyonya Muda ini. Dan benar saja, dia adalah Jiyeon.

“Kenapa tidak ceritakan masa sekolahmu pada mereka.” Jiyeon berbisik pada Suzy.

“Kau,,,” Jessica memiringkan kepala. Wajahnya tidak asing, tapi Jessica lupa pernah bertemu dia dimana.

“Annyeonghasemikka. Park Jiyeon dari Kim Property imida.”

Tidak hanya melirik, kini Suzy menolehkan kepalanya pada Jiyeon yang berada disamping kanannya.

Dari Kim Property?! Suzy tak bisa percaya ini, Jiyeon bekerja diperusahaan Myungsoo.

“Sejak kejadian itu aku tidak pernah bertemu Jiyeon lagi.” Suzy tersenyum tak menyanggka atas perkataan yang pernah diucapkan Myungsoo di awal pertemuan mereka.

“Kim Property?” Jessica.

“Kim Property yang membantu kami menyelesaikan Irwol Resort.” Jelas Suzy.

“Aku dengar arsiteknya dari Irwol Property yang merancangnya.” Ucap Jessica lagi.

Suzy dan Jiyeon sama-sama menyeritkan dahi. Sebuah rumor yang bisa menghancurkan Kim Property. Kim Property bisa dikira sengaja menyebarkan rumor ini untuk menaikkan nama. Apalagi saham mereka juga sedang naik.

~

“Aku tidak percaya ini. Awalnya aku ingin memperbaiki hubungan kita tapi,,, Kau dan keluargamu masih sama.” Ucap Jiyeon ketika mereka hanya berdua.

“Aku tidak tau.” Ucap Suzy pelan.

“Sekali saja kau menghancurkan hidup Myungsoo Oppa karna mencintaimu, bisakah kau lepaskan dia kali ini?” Ucap Jiyeon lebih menggebu dari sebelumnya. “Aku tau kami salah tapi bersikaplah seperti manusia. Kau menyeramkan, Suzy.”

“Bukan aku.” Ucap Suzy mulai gelagapan.

“Mengertilah, kau bukan lagi gadis berumur 16 tahun. Myungsoo oppa berbeda dengan Jieun.”

“Apa yang ku lalukan?” Suzy mengigit kuku jempol tangan.

“Kau selalu bilang ‘bukan aku’ ‘aku tidak tau’ tapi sebenarnya kau menghancurkan hidup orang yang menurutmu mengganggu.” Jiyeon setengah berteriak lalu meninggalakan Suzy.

Setelah kepergian Jiyeon, Suzy merasakan tubuhnya tak seimbang. Kepalanya pusing dan,,, Suzy tau artinya ini. Dia berpegangan dengan meja didekatnya.

“Minho Oppa,,,” Panggil Suzy, dimana Minho? Dia membutuhkan Minho sekarang.

Dalam penglihatan Suzy, orang-orang dirungan ini sedang menatap tajam kearahnya. Dia merasa teramat takut dengan tatapan-tatapan itu. “Bukan aku,, Minho Oppa.” Suzy tak berhenti memanggil Minho.

Pyaarr!

Seluruh tamu kini benar-benar menatap Suzy, Dia menarik alas meja yang menjadi penggangannya tadi. Suzy membuat hidangan diatas meja tadi menjadi berantakan dilantai.

“Suzy, wae?” Tanya Joongeum berlari mendekati Suzy.

Nickhun segera menangkap tubuh Suzy yang hampir lungsur kebawah.

“Minho Oppa,,,” Suzy terus memanggil Minho.

“Dimana manusia itu,,,” Tiffany lebih panik dari Nickhun dan Joongeum.

“Tidak apa.” Nickhun membopong Suzy meninggalkan para tamu undangan yang mulai ribut, sebagian dari mereka saling berbisik, namun tidak sedikit juga yang menatap khawatir.

“Kenapa Suzy?”

Dua orang yang tidak terlihat sejak tadi akhirnya menampakkan diri mereka. Soojung dan Minho yang tidak tau apa-apa, hanya memasang wajah terkejut melihat Suzy berada digendongan Nickhun.

“Apa yang kau lakukan bodoh? Cepat susul dia.” Teriak Tiffany pada Minho.

 

Begitu juga dengan Myungsoo yang menyaksikan Suzy dibawa Nickhun meninggalkan aula. Bagaimana Suzy tak berhenti memanggil nama Minho. Myungsoo merasa marah dalam dirinya. Apakah sepenting itu Minho bagi Suzy?

“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””’

 

“Apa saja yang kau lakukan semalam?!” Teriak Joongeum pada Minho.

Sedangkan pria yang menjadi pelampiasan kemarahan Joongeum hanya menunduk minta maaf. Minho merasa ini memang salahnya, seharusnya dia tak meninggalkan Suzy karna merasa sang gadis bisa menghadapi Myungsoo dan Jiyeon. Minho tidak berfikir kejadiannya akan sperti ini,

“Kau tau berapa kali Suzy menyebut namamu?!”

“Maaf.” Lagi-lagi hanya itu yang mampu Minho ucapkan.

“Maaf? Bisakah kau menarik pemberitaan ini?” Joongeum melempar koran dengan judul utama ‘LAGI, PUTRI IRWOL MEMBUAT ONAR DI PESTA.’

“Semua orang harus membayar karna sudah mempermalukan Putriku.” Ucap Joongeum dengan mata tajam. Hanya dia yang tau apa yang sedang direncanakan.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

 

Myungsoo terkejut melihat seorang wanita yang ia kenal sedang duduk menyamping. Dia tersadar bahwa Ibu Suzy tidak hanya mengundang dirinya namun juga Jiyeon.

Berbeda dengan Myungsoo, Jiyeon justru nampak tak terkejut ketika Myungsoo duduk dikursi  sampingnya.

“Kalian sudah datang?” Joongeum  menyambut kedua tamunya dengan senyum.

“Item ini adalah salah satu item VIP dari Irwol Resort. Bagaimana menurut kalian?”

Myungsoo dan Jiyeon tau bahwa Joongeum hanya berbasa-basi. Ikuti alur saja, pikir Jiyeon. “Saya merasa bangga bisa berada disini? Apalagi saya yang pertama.”

“Kalian hadir di pesta pembukaan, benar?”

Jiyeon mengangguk tersenyum.

“Kalian pasti melihat penampilan Suzy, banyak yang memuji permainan piononya.” Ucap Joongeum.

“Saya bahkan mendengar sendiri beberapa tamu yang memuji Suzy.” Timpal Jiyeon.

Myungsoo mengamati dua wanita yang saling perang kata. Atmosfer yang buruk, batin Myungsoo.

Joongeum mengambil gelas berisi minuman didepannya, menyesap sekali kemudian berkata, “Sebenarnya aku tidak berniat mengurusi kehidupan percintaan Suzy, tapi kalian membuatku ingin masuk kedalamnya.”

jg (8)

 

 

 

 

 

Myungsoo dan Jiyeon saling berpandangan, mereka sudah ada diinti pertemuan.

“Kalian pernah menjalin hubungan, kenapa tidak berencana menikah?” Joongeum to the point.

“Kami punya satu perusahaan di Cina, kalian bisa kesana dan memulai hidup baru.”

“Kami baru saja datang, kenapa anda mengusir kami?” Myungsoo.

“Itu adalah perusahaan baru jadi Suzy belum mengetahuinya. Akan lebih baik jika kalian segera memutuskan sebelum menyesal.”

Dari sini Jiyeon tau bahwa Ibu Suzy dibalik rumor tentang arsitek Irwol Property. Sama seperti peristiwa orang tua Jieun dulu, Joongeum merencanakan ini tanpa diketahui oleh Suzy.

“Tidak heran, kenapa Suzy sangat rapuh meski terlihat arogan. Dia punya Ibu yang terlalu melindunginya.”

“Itulah gunanya Ibu, kau tidak tau karna kau dibesarkan tanpa orang tua dan tanpa kasih-sayang sebuah keluarga.” Ucap Joongeum menusuk Jiyeon.

“Aku akan mengirim tiketnya besok.”

“Tidak. Saya tidak akan pergi. Kali ini Saya akan membuktikan bahwa saya pantas untuk Suzy.” Ucap Myungsoo lantang.

“Jangan berusaha terlalu keras. Itu tidak akan berhasil. Kau bisa membuat pihak lain menangis.” Joongeum melirik Jiyeon yang menatap dirinya.

 

 

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

 

A/N                  :

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo.  Stay tune on this blog and wait the next chapter. Annyeooooong. 🙂