We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

When Love Must Protect the Love (Chapter 11)

26 Komentar

Title                 : When Love Must Protect the Love

Author             : Cahya Khosyiah

Main Cast        : Kim Myungsoo

Bae Suzy

Other Cast       :Nichkhun

Tiffany

Joongeum

Minho

Soojung

Seungho

Jieun

Jiyeon

Sungjong

Hyeri

Original Cast   : Choi Doctor’s

Chun Unjeonsa

Ok Biseo

Oh Ajuhmma

Wang Biseo

Park Nayoon

Seo Nara

Pairing             : Myungzy (Myungz+Suzy)

Genre              : Angst, Romance

Rate                 : 17+

Disclaimer       : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing.

Huruf tebal untuk flashback

R&R

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Petanyaan-pertanyaan dikepala Myungsoo berhenti. Betapa terkejutnya dia ketika kursi berputar dan menampilkan seorang wanita dewasa memakai dress hitam duduk disana.

“Kim Myungsoo-ssi.”

Kakak ipar Suzy? Wajar jika Myungsoo mengenal Tiffany, tapi darimana dia mengenal Myungsoo. “Tiffany noona.”

“Sepertinya kau sudah mengenalku tapi biar ku perjelas. Aku Tiffany Hwang istri Wakil Direktur sekaligus menantun Presiden Utama Irwol Grup. Ini masih jam kantor jadi tolong lebih sopan.” Menatap dengan mata tajam adalah khas wanita kelurga Bae. Suzy, Ibunya, bahkan kakak iparnya juga punya mata tak bersahabat itu.

“Saya menebak bahwa anda bertemu saya bukan ingin membicarakan masalah kantor.”

Tiffany mengendus tak percaya dengan timpalan Myungsoo. “Presiden benar, tidak ada gunanya berbicara dengan sampah sepertimu. Bahkan sampah saja sebelumnya berguna tapi kau hanya datang sebagai kotoran.”

Apakah menurut mereka Myungsoo sehina itu? “Tolong gunakan kata yang lebih pantas pada saya.”

“Kenapa? Jika kau kau ingin diperlakukan baik seharusnya kau bersikap lebih baik.”

L (23)

“Apa yang anda inginkan?” Myungsoo geram.

“Aku tidak tau tujuanmu datang ke perusahaan ini tapi jika itu tentang Suzy, berhenti sekarang sebelum kau menyesal.”

Myungsoo tersenyum miring. Apa mereka tidak pernah mendengar kalimat ‘jangan mencegah orang yang jatuh cinta karna itu hanya membuatnya merasa seperti Romeo dan Juliet’ itulah yang dirasakan Myungsoo sekarang, semakin banyak orang yang melarang Myunsoo maka dia semakin bergairah untuk mendapatkan Suzy.

“Kau meremehkan? Setelah proyek selesai, jika kau masih disekitar Suzy maka aku pastikan Nickhun mengetahui apa yang kau di Amerika.”

Myungsoo menegakkan kepalanya.“Bagaimana,,,,”

L (24)“Bagaimana aku mengetahuinya?” Tiffany memotong ucapan Myungsoo. “Kenapa? Karna kau tau Suzy tidak akan mengatakan apa yang terjadi jadi kau berharap Nickhun tidak akan mengetahuinya?”

Yang bisa Myungsoo lihat sekarang Tiffany lebih menyeramkan daripada Suzy.

“Nickhun tidak akan melepaskanmu jika dia tau kau membentak sampai mencaci adik tersayangnya.” Tiffany menatap lebih tajam. “Kau tidak akan bisa mengubur perbuatanmu dimasa lalu. Aku sudah memberi peringatan, jangan menyesal.”

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Keesokan harinya,,,

‘Impian terwujud bersama kebahagiaan. Masukkan kedalam vas  berisi air. :)’

“Hyeri, bawakan vas berisi air.” Perintah Suzy menekan angka 2 pada telfon mejanya. Suzy mengambil sebucket bunga dandelion lalu mendekatkan ke hidung. Harumnya memberi ketenangan.

“Siapa yang menaruh bunga dimejaku?” Tanya Suzy ketika Hyeri masuk membawa vas bening berisi air.

“Saya kira anda memesannya. Bunga itu ada sebelum saya datang.” Jawab Hyeri.

Jangan buang tenaga untuk berfikir, Suzy sudah tau sang pengirim. “Apa schedule-ku hari ini?”

“Pertemuan dengan dewan direksi sampai jam 10, kemudian bertemu relasi lalu ke lokasi pembangunan bersama ketua perancang.” Terang Hyeri.

Bersama Myungsoo? Oh,,tidak. Berangkat sore, besar kemungkinan sampai malam. Itu artinya mereka akan kenginap. Suzy tidak mau bersama Myungsoo semalaman.  “Bagaimana perkembangan Dream Island?”

“Dari laporan saya terima, semua baik-baik saja.”

“Kau akan bilang baik-baik saja tentang Lee Sungjong. Batalkan perjalanku.”

“Apa kita akan ke Irwol Property?” Tanya Hyeri penuh harap.

“Kita tidak perlu kesana, hubungi Soojung dan Sungjong untuk datang.”

“Allguesamida,,” Hyeri patuh sambil tersenyum.

“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

“Saya diminta kembali ke kantor.” Sungjong kembali masuk ke dalam mobil. Soojung dan Sungjong ada didepan kantor utama Irwol Grup. Setelah mendapat telfon dari Hyeri yang mengatakan bahwa Suzy ingin bertemu Sungjong sangat bersemangat tapi sekarang dia bergegas pergi hanya karna sebuah telfon dari kantor.

“Dan membiarkan aku membawa berkas-berkas ini sendiri?” Soojung.

“Maafkan saya. Anda bisa minta tolong Office Boy”

“Aku akan mengatakan pada Hyeri bahwa kau laki-laki tidak bertanggung jawab.”

Sungjong (3)

“Katakan padanya saya akan menelfon nanti malam.” Sungjong sudah melajukan mobil, tak ada gunanya berteriak. Akan lebih baik bila Soojung segera ke ruangan Suzy lalu meletakkan berkas yang tingginya hampir sedagu ini.

“Perlu saya bantu?” Tawar Myungsoo, dari arah lain Myungsoo melihat seorang wanita kesulitan berjalan, mungkin karna barang yang dia bawa terlalu banyak. Bagaimana bisa seorang wanita membawa barang sebanyak ini, pikir Myungsoo.

“Terimakasih,,” Soojung meletakkan berkas ke tangan seorang, menerima bantuan dari entah siapa –ia tak kenal- dengan senang hati.

Ting,, masalah. Alarm berbunyi, terlalu banyak muatan. Orang-orang didalam lift saling menatap satu-sama-lain tak ada yang mau mengalah.

“Ayo lewat tangga.” Ajak Myungsoo keluar dari lift. Karna memang mereka –Myungsoo dan Soojung- yang terakhir masuk jadi mereka harus mengalah.

“Anda bisa meminta bantuan karyawan lain.” Ucap Myungsoo.

“Telinga mereka tidak berfungsi, tidak ada yang menghiraukanku. Semua sibuk dengan dirinya sendiri.”

“Karna Irwol sangat ketat. Aura persaingan terasa disini, semua ingin ada diurutan paling depan.”

“Untung ada kau.”

“Dimana?” Tanya Myungsoo saat sampai dilantai tujuan.

“Disana.” Tunjuk Soojung pada ruangan utama dilantai ini. Myungsoo sangat mengenal ruang tersebut, ruangan Suzy. “Aku dari perusahaan cabang. Dream Island, kau tau?”

Myungsoo mengangguk, Draem Island adalah projek dari Irwol Property karna alasan itulah Irwol mencari perusahaan property lain untuk membangun proyek Resort.

“Aku teman baik Suzy tapi aku tidak mendapat pekerjaan ini lewat jalur istimewa.”

Myungsoo setengah tertawa, gadis yang lucu. Dia tidak perlu menceritakan silsilah kehidupannya.

“Biarkan aku.” Soojung mengambil kembali berkas miliknya. “Kau juga harus bersaing dengan karyawan lain kan?”

Untuk yang kedua kali Myungsoo mengangguk.

“Jadilah yang paling depan, oke?” Soojung mengedipkan sebelah mata.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

“Tebak tadi aku bertemu siapa?”

Suzy menutup map berwarna hijau, map terakhir yang diberikan Soojung sebagai laporan.“Siapa Kang Dong Wo?”

“Kau pikir aku dirimu?” berdesis. “Aku bertemu seseorang, dia sangat baik. Coba kau bayangkan, dia membantuku membawakan berkas-berkas ini dengan naik tangga. So, gentlemen” Cerita Soojung dengan mata berbinar.

Suzy (19)

“Mungkin dia menyukaimu” Timpal Suzy.

“Kau juga berfikir seperti itu kan? Tapi sepertinya dia bukan karyawan Irwol, dia tidak menggunakan tanda pengenal.”

“Kalian tidak berkenalan?” Tanya Suzy.

“Ah! Aku lupa.” Soojung penepuk keras kepalanya sendiri. “Lee Hyeri kau mengenal banyak orang di perusahaan. Dia tinggi, tampan, juga rapi, umurnya sekitar 2 tahun lebih tua dari kita.”

Girls Day 'hyeri (6)

“Mungkin salah satu dari proyek Irwol Resort.” Jawab Hyeri.

“Maja,,, dia memang terlihat punya visi ke depan, dia pasti pekerja keras.” Puji Soojung lagi.

Suzy dan Soojung berjalan beriringan lalu Hyeri dibelakang mereka. Tiba-tiba Soojung berteriak kepada seorang lelaki yang berjalan didepan mereka.

“Kau!”

Laki-laki tersebut berhenti lalu memutar punggungnya.

L (1)

“Anda yang menolong Nona Jung?” Pertanyaan itu yang ingin diucapkan Suzy, beruntungnya ia punya Hyeri. Jadi dia tak perlu berbicara dengan Myungsoo.

“Benar.” Jawab Soojung sebelum Myungsoo membuka mulutnya. “Siapa namamu?”

“Kim Myungsoo imida.” Jawab Myungsoo menunduk.

“Aku Soojung, Jung Soojung. Aku berharap bisa menelaktirmu tapi sahabatku mengajakku makan siang bersama. Bagaimana ini?”

“Kau bisa menelaktirnya sekarang.” Suzy ketus.

“Ya! ada apa denganmu? Aku tidak serius.”

“Anda bisa membelikan saya makan siang dilain waktu.” Ucap Myungsoo.

“Oke.” Soojung semangat. “Maafkan atasanmu, dia memang agak sensitif…. Ya,,Ya,, Suzy tunggu aku.”

Myungsoo memperhatikan Suzy dan seseorang -yang mengaku sebagai teman Suzy- secara bergantian. Kata orang serigala akan berteman dengan serigala namun yang Myungsoo lihat sekarang serigala berteman dengan kijang.

L (7)

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Seperti bunga matahari yang selalu mengikuti cahaya matahari. Ku harap kau menyukainya.”

Suzy membuang nafas berat. Sudah tujuh kali, itu artinya tujuh hari, tujuh ikat bunga yang berbeda. 1 2 3, tak masalah. Suzy harap untuk hari kelima dia menulis namanya agar Suzy bisa mengembalikan bunga-bunga itu, namun sampai tujuh bunga sang pengirim belum juga menulis nama.

“Saya membelikan vas baru.” Hyeri masuk membawakan vas kaca yang berbeda bentuk dari sebelumnya. “Saya kira dia akan berhenti dalam satu minggu tapi dia tidak menyerah, mungkin saya harus menyiapakan vas selama sebulan.”

“Apa pekerja kebersihan tidak melihat siapa yang menaruh ini?”

“Tidak ada.” Jawab Hyeri. “Mungkin Tuan Choi, dia tidak pernah datang selama seminggu. Seperti permintaan maaf.”

“Bukan, Minho alergi bunga.”

“Jadi anda sudah tau siapa pengerimnya?”

Suzy diam. Benar, sejak hari pertama Dia sudah tau siapa pengirimnya. Myungsoo. Siapa lagi? Jika Dia mengembalikan bunga tersebut tanpa mengetahui nama yang jelas maka sang pengirim mendapatkan tujuannya.

“Apa schedule-ku?”

“Sajangnim,,,,” Kata Hyeri.

“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

“Sekarang harinya.” Entah dari mana, tiba-tiba Soojung muncul didepan Myungsoo. “Karna sudah meneolongku tempo hari bagaimana jika aku tlaktir makan siang sebagai ucapan termakasih.”

Myungsoo mengatakan ‘Aaa’ tanpa suara.

“Kau sedang sibuk ya?”

Myungsoo diam cukup lama, dia memang banyak pekerjaan. Orang Irwol Grup selalu berkata ‘cepat,, cepat,,” sampai-sampai Myungsoo mengabaikan waktu istirahat. Tapi kali ini,,,, “Dimana kita akan pergi?”

“Anda terlihat sangat dekat dengan Direktur” Myungsoo menurunkan sedok dan mangkoknya. Kini mereka berada di restoran yang tak jauh dari kantor.

“Tidak perlu berbicara formal padaku. Suzy yang atasanmu bukan aku.” Soojung menaikkan kembali mangkok Myungsoo untuk melanjutkan makannya.

“Tapi kau temannya.” Kata Myungsoo. “Apa kalian berteman cukup lama?”

“Kami bertiga berteman sejak kecil. Tapi setelah lulus SMA orang tuaku menyurukku untuk melanjutkan studi di Canada.” Soojung sambil mengunyah nasi.

L (17)

“Bertiga?”

“Ya. sebenarnya ada satu lagi diantara kami. Namanya Jiyeon, tapi dia pindah ke London 3 tahun yang lalu.” Terang Soojung.

“Aku beberapa kali melihat Sajangnim bersama seorang pria.” Myungsoo berkata dengan nada senetral mungkin.

“Choi Minho maksudmu? Dia anak dari dokter pribadi keluarga Suzy. Dia juga seorang dokter tapi aku tidak tau dokter apa. Minho memang menyukai Suzy sejak SMP tapi aku tidak yakin dengan Suzy. Sahabatku itu bukan orang yang mudah untuk dilunakkan hatinya.”

“Apa sajangnim tidak pernah punya kekasih?” Tanya Myungsoo.

“Pernah.” Soojung menjadi serius. “Saat dia masih kuliah, tapi karna waktu itu aku sangat sibuk aku bahkan tidak tau bagaimana wajah lelaki tersebut dan perkembangan hubungan mereka, yang aku tau dari Nickhun oppa laki-laki kuang ajar itu meninggalkan Suzy setelah Jiyeon pergi ke London. Aku sangat menyesal tidak bersama Suzy, dia pasti mengalami masa sulit. Suzy bukan orang yang mudah percaya pada orang lain.”

“Saya rasa Sajangnim baik-baik saja.”

“Tidak mungkin. Suzy orang yang rumit. Aku sendiri meski sahabatnya tidak mengerti jalan pikirannya.”

Myungsoo ingat Jiyeon juga pernah berkata begitu.

“Untung ada Minho.” Soojung. “Mereka menjadi dekat sejak hari pemakaman Ayah Suzy. Aku bisa melihat Minho banyak membantu Suzy, dia selalu ada.”

Myungsoo juga bisa melihat itu.

“Kenapa kita membicarakan Suzy? Kenapa kau menanyakan banyak hal tentang Suzy?”

Gadis aneh, Myungsoo hanya bertanya dua kali kemudian Soojung menceritakan semuanya.

“Kau menyukai Suzy? Kau tidak memanfaatkan aku untuk mendekati Suzy kan?”

“Saya,,” Myungsoo gelagapan.

“Aku kira kau menyukaiku.”

“Ye?!” Apalagi ini? hanya sekedar menolong bukan berarti suka kan? “Maaf membuat anda salah paham.”

“Tidak masalah, kau menyukai Suzy dan tidak menyukaiku. Aku akan senang ada orang yang memperhatikan Suzy.” Soojung tersenyum, Myungsoo kira teman Suzy ini akan melemparnya piring padanya. “Aku sudah bilang untuk tidak berbicara formal.”

“Baik.”

“Mungkin ini bisa membantumu,,” Myungsoo menajamkan pendengarannya. “Suzy dan ayahnya suka air. Sungai, pantai, danau, semua yang berhubungan dengan air. Tapi sejak ayah Suzy meninggal dia tidak pernah ke tempat-tempat tersebut karna Nickhun Oppa takut kedalaman.”

“Apa Suzy juga suka hujan?” Tanya Myungsoo.

“Hujan? Mungkin ia.” Jawab Soojung.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””’

“Tebar pesona adalah salah satu keahlainmu? Aku tidak terkejut.” Suzy bicara. Soojung bilang dia datang ke perusahaan untuk mengajak orang yang menolongnya –Myungsoo- dan Suzy juga  sempat melihat Soojung serta Myungsoo berjalan beriringan di lobi sebelum akhirnya Soojung kembali tanpa menemui Suzy, hanya mengirim sms.

Myungsoo memiringkan kepala menghadap Suzy. Tidak ada orang lain di lift jadi apakah Suzy berbicara dengannya? “Ye?”

“Kau pasti merasa sangat tampan.” Suzy tidak berbicara formal seperti biasanya.

“Anda berbicara denganku?”

“Hyeri, Apakah kau seorang laki-laki?”

Hyeri yang tidak mengerti apa-apa tentu saja terkejut, Suzy memang biasa berbicara ketus tapi entah mengapa sekarang suasananya berbeda.

“Ada apa denganmu?” Myungsoo ikut bicara tidak formal.

“Kenapa tak abaikan saja aku?”

Myungsoo tersenyum, menampakkan deretan gigi putihnya.  “Kau cemburu?”

“Jangan gila.” Suzy berdesis.

“Direktur, Anda cemburu” Hyeri ikut bicara.

“Lee Hyeri!” Suzy berteriak.

Na Yoon pernah berkata bahwa Suzy dan Myungsoo dulu menjalin hubungan, tentu saja Hyeri tak percaya –Na Yon seorang penggosip- tapi hari ini sang sekertaris melihatnya sendiri. Bagaimana Suzy uring-uringan hanya karna Myungsoo menolong Soojung.

“Kenapa tidak katakan kita pernah berhubungan? Aku yakin temanmu tidak akan menemuiku lagi.” Myungsoo berbicara dengan jarak yang sangat dekat. “Haruskah aku yang melakukannya?”

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

“Aku akan bekerja bukan berlibur.” Suzy mengeluarkan kembali baju yang dimasukkan Soojung ke dalam tas-nya.

“Setelah sampai sana, mungkin saja kau berubah pikiran.” Soojung memasukkan lagi baju Suzy.

“Meskipun begitu Sajangnim tidak bisa melakukannya. Sajangnim harus kembali sebelum jam 2,,,,”

Soojung melotot tajam pada Hyeri.

“Ada relasi dari Cina yang ingin bertemu.” Tambah Hyeri.

“Tapi kau akan ke pantai. Mungkin saja bajumu akan kotor, terciprat air, dan sebagainya.” Soojung kekeh.

“Jika begitu, aku tidak butuh baju tipis seperti ini. Aku butuh baju resmi.”

“Terserah.” Soojung menghempaskan tubuh ke ranjang.

Suzy menatap Hyeri yang tersenyum kearahnya.

“Sajangnim,,,sebagai sekertaris anda, saya akan bilang untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan Kim Myungsoo terlebih dikeadaan seperti ini. Itu hanya akan menjadi scandal yang buruk.” Hyeri berhenti sejenak. “Tapi sebagai seorang yang mengenal anda, saya akan bilang semua orang pernah melakukan kesalahan. Kenapa tidak memberi Kim Myungsoo kesempatan?” lanjut Hyeri.

“Lalu,, Apa yang kau katakan sebagai temanku?”

“Aku akan mematahkan tulangnya jika dia berani menyakitimu lagi.” Hyeri mengepalkan tangan sambil menggigit bibir bawahnya .

            Waktu yang tepat untuk pergi ke pantai. Bahkan cuacu juga bersahabat dengan Myungsoo. Tidak perduli tujuan mereka. Bukankah ini sama dengan kencan? Ke pantai bersama Suzy. Myungsoo tidak akan mengabaikan kesempatan sedikitpun.

“Aku bisa melakukannya sendiri.” Suzy menghentikan Myungsoo yang hendak membukakan pintu untuknya. “Aku tidak suka diperlakukan seperti itu.”

“Tapi aku pernah melihat dia melakukannya.” Ucap Myungsoo pelan.

“Siapa?”

“Bukan siapa-siapa. Pakai sabuk pengamanmu.” Myungsoo berjalan memutari mobil lalu duduk dibangku kemudi.

“Aktifkan GPSnya aku tidak mau tersesat.” Perintah Suzy.

“Aku pernah ke kesana. Jangan khawatir.”

Sebenarnya yang dimaksud Suzy bukan itu, dia takut Myungsoo akan menggunakan banyak kesempatan. Setelah meng-sett, Suzy menaruh ponsel miliknya didepan Myungsoo.  “Ikuti titik merah.”

“Aku harap ponselmu tertinggal dimobilku nanti.” Myungsoo mulai menjalankan mobil menuju lokasi pembangunan resort.

Butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota tapi terbayar lunas oleh indahnya pemandangan yang disajikan.

Mungkin lebih lama karna Myungsoo  sengaja menyetir lebih lambat dari biasanya.

Suzy turun dari mobil lalu memejamkan matanya dan menikmati angin yang berhembus kearahnya. Aroma laut.

“Pertama kita akan bertemu bujangnim. Silahkan ikut saya.” Ajak Myungsoo kemudian diikuti Suzy dibelakangnya.

“Anyeonghasimikka. Saya yang bertanggung jawab atas pekerja disini.” Sambut seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun.

“Kami datang untuk melihat perkembangan pembangunan. Anda sudah tau kan?”

“Ya. Kemarin perusahaan menghubungi saya. Tuan Kim Myungsoo dari tim perancang ,,,’” Myungsoo menundukkan kepala. “dan Nona Bae Suzy ketua Proyek.” Kini Suzy yang menundukkan kepala.

“Apa ada kesulitan?” Myungsoo.

“Sebenarnya tidak, tapi karna ini menyangkut Irwol Grup saya merasa gugup setiap hari. Hanya meletakkan batu saja saya gemetar.” Jawabnya bermaksud bercanda.

“Bagaimana pekerjanya?” Suzy serius.

“Karna ini masalah pembangunan biarkan saya yang urus.” Myungsoo mencegah Suzy. “Berikan rancangannya,,,” Pinta Myungsoo pada Mandor.

“Kita sampai pada tahap ini,,, kemudian,,,,” terang sang Mandor kepada Myungsoo.

Disisi lain, gadis yang bersama Myungsoo tadi menatap Myungsoo dalam diam. Hanya dia yang tau apa yang sedang dipikirkan. Suzy mengikuti langkah kedua pria tersebut, matanya tak bisa lepas dari Myungsoo.

“Yang terpenting adalah para pekerja punya semangat, jangan kecewakan kami dan mohon bekerja keras.” Ucap Myungsoo.

“Tentu saja. Kami suka pada atasan yang perhatian.”

“Bagaimana?” Myungsoo menoleh pada Suzy yang masih menatapnya. “Apakah aku setampan itu?”

Samar-samar Suzy mendengar. Benar kata orang, seorang pria akan lebih mempesona ketika bekerja.

“Aku tau aku tampan tapi bisakah cari waktu yang tepat untuk menikmati wajahku?” Myungsoo berbisik ditelinga Suzy.

Suzy berdehem sekali. “Sudah waktunya kembali.”

Sedang Myungsoo tersenyum sumringah. Myungsoo belum mengeluarkan jurusnya tapi dia sudah dapat satu nilai.

“10,,9,,8,,7,,6,,” Suzy melirik Myungsoo yang menghitung mundur. “5,,,4,,,3,,2,,,1. Sudah waktunya. Bolehkah saya mengambil waktu istirahat lebih awal, sajangnim? Hadiah karna saya sudah bekerja keras.”

Suzy berjalan menuju parkir mobil tanpa menjawab.

“Diam artinya setuju.” Myungsoo menarik tangan Suzy mengikutinya.

“Aku harus kembali ke Seoul.”

“Hirup udaranya lalu hembuskan secara berlahan.” Myungsoo mempraktekkan apa yang dia katakan. Kesempatan ini digunakan Suzy untuk melepaskan tangannya namun secepat kilat Myungsoo kembali menggenggam tangan Suzy. “Bukankah disini sangat dingin?”

“Tidak.” jawab Suzy.

“Tapi aku merasa dingin.” Myungsoo memasukkan tangan Suzy dalam kantong jaketnya tanpa melapas genggaman, membuat Suzy harus bergeser lebih mendekat. “Aku, Ibu, dan Ayah pernah melakukan piknik disebuah bukit, saat kami mulai menikmati kimbab buatan ibuku tiba-tiba hujan turun. Kami menjadi panik lalu Ayah menggendongku dipunggungnya sedangkan Ibu mengemasi barang.”

Suzy mendengarkan cerita Myungsoo.

“Entah kenapa, kami justru tertawa.” Tanpa melihat Suzy tau Myungsoo sedang tersenyum. “Meskipun singkat aku masih mengingatnya, karna itu adalah pertama kali kami tertawa bersama sekaligus menjadi waktu terakhir kami berkumpul. Setelah hari itu Ibuku sering berteriak pada ayah tanpa aku tau penyebab pasti. Yang aku ingat Ibuku menyebut nama seorang wanita.”

“Ayahmu selingkuh?” Tanya Suzy datar, dengan mata masih ke depan.

“Aku tidak tau. Pertengkaran berjalan selama bertahun-tahun, sampai pada waktunya Ibuku meninggalkan rumah. Saat itu aku 18 tahun, umur yang labil dan tak berfikir panjang.”

“Kau juga meninggalkan rumah.”

Myungsoo tertawa kecil. “Benar. Keterlaluannya, aku sama-sekali tidak menyesal.”

“Mungkin semua anak laki-laki seperti itu. Pertama kali Ayah membawa Oppa, dia sangat pendiam. Tapi setelah Ibu sendiri yang menggendongnya masuk kedalam rumah dia menjadi sangat sombong. Dia bahkanmenyombongkan Ibu didepan teman-teman barunya disekolah. Kau tau,,,” Seolah tersadar, Suzy menghentikan ceritanya dengan sebuah deheman.

Ini pertama kali Suzy menceritakan keluarganya pada Myungsoo tanpa sang pria bertanya terlebih dahulu.

Myungsoo senang, dulu dia harus bertanya pada Suzy baru gadis pujaannya tersebut akan bercerita, itupun hanya dijawab dengan beberapa kata.

Yang Myungsoo tau sekarang, Suzy seperti perahu. Hembuskan angin maka Suzy akan mengikuti angin tersebut.

“Ayo kembali.” Myungsoo.

Perjalanan yang tenang diiringi dengan musik Jazz dari Jason Mraz. Suzy tidak tau jika Myungsoo menyukai musik yang sama dengannya. Menurut Suzy musik Jazz lebih mudah ditelan dari pada RnB atau Hip Hop yang marak dibawakan grup Kpop.

“Kau pernah memintaku mengantarmu ke toko Musik. Kau ingat?”

Benarkah? Suzy tidak ingat. Yang Suzy ingat hanya Myungsoo mengantar-jemput didirinya dari tempat les piano.

“Sejak saat itu aku tau kau suka musik Jazz, jadi aku coba mendengarnya juga dan tidak buruk.”

“Kau mulai mengoleksi?”

“Tidak banyak. Dari pada Jazz, aku lebih suka mendengar permainan pianomu.” Myungsoo menyetel musik piano yang sangat dikenal Suzy, itu dirinya. Melihat list, Suzy bisa tau kalau Myungsoo masih menyimpan semua musik yang diminta Myungsoo pada Suzy.

“Pertemuanmu jam 2 kan? Kita masih punya waktu satu jam untuk makan siang.” Myungsoo memarkirkan mobil didepan rumah makan sederhana. Tidak terasa mereka sudah sampai Seoul.

“Bibi, tolong dagingnya.” Pesan Myungsoo berteriak yang dijawab teriakan juga oleh pemilik.

“Ini tempat pertama aku mengisi perut saat kembali dari London.” Kata Myungsoo pada Suzy.

“Bukan tempat yang buruk.”

“Memang tidak buruk. Kau akan mengenal daging korea disini.”

Suzy tersenyum. “Rumah makan lain juga menggunakan daging korea. Apa bedanya? Apa di dagingnya tertulis ‘korea, jepang, australia’?”

Suzy melebarkan mata. Lagi. Suzy melakukan hal pertama lagi bersama Myungsoo. Kali ini dia pertama kali bercanda selain dengan Minho dan keluarganya. Itu terjadi begitu saja tanpa Suzy sadari.

“Bibi. Kenapa dagingnya lama?” Myungsoo berusaha mencairkan ketegangan Suzy.

Seorang wanita setengah baya membawa daging bersama sayuran hijau dalam satu nampan. “Silahkan menikmati.”

“Makan siang dengan daging. Lucu ya?”

“Tidak.” Jawab Suzy kembali ke nada datar.  “Aku makan semua makanan.”

“Kau baru saja bilang kau suka makan?”

Yah,, ada apa dengan Suzy hari ini? Semua berjalan tanpa kontrolnya.

“Lupakan. Ayo makan.” Myungsoo memotong daging ke atas panggangan.

“Biarkan aku. Aku seorang wanita.”

Myungsoo pasrah ketika Suzy mengambil gunting dari tangannya.

Setelah makan siang Myungsoo dan Suzy langsung menuju kantorn utama. Sebenarnya Suzy ingin meminta Myungsoo mengantarnya kerumah untuk mengambil mobilnya dulu, tapi tak ada waktu. Relasi dari Cina sudah menunggu, dia harus berterimakasih pada Hyeri yang menahan orang dari Cina itu selama setengah jam lebih.

“Bagaimana kencan anda?” bisik Hyeri ditengah pertemuan.

“Aku memboroskan banyak waktu kantor.” Jawab Suzy berbisik.

“Tapi anda tidak menyesal kan?”

“Kita hampir kehilangan relasi dari Cina.” Suzy masih berbisik.

“Jangan khawatir, selama ada Lee Hyeri.” Hyeri membanggakan diri. Memang harus di akui Suzy bahwa Hyeri orang yang bisa dihandalkan. Itulah kenapa Suzy mempertahankan Hyeri sebagai sekertaris selama 2 tahun lebih.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Suzy terlihat sibuk membongkar isi tas, tentu saja dia mencari sesuatu. Dimana dia meletakkannya? “Hyeri, panggil supir untuk mengantarku.” Sebenarnya Suzy ingin meminta Minho atau Soojung untuk menjemputnya tapi dia tidak bisa menemukan ponselnya.

“Apa ponsel anda belum ketemu?” Tanya Hyeri.

“Tidak ada.”

“Mungkin anda lupa menaruhnya atau tertinggal dalam perjalanan.”

Hyeri benar. Suzy baru ingat ponselnya tertinggal dimobil Myungsoo. Dia tadi terlalu terburu-buru menemui orang dari Cina.

“Izinkan aku mengantarmu.” Myungsoo diambang pintu.

“Tidak perlu.”

“Berarti ponselmu akan dimobilku selamanya.” Ucap Myungsoo enteng.

“Sajangnim, jangan terlalu lama berfikir. Sungjong sudah menunggu saya.”

Suzy menghela nafas. Tak ada pilihan lain.

“Kau masih bermain piano?” Tanya Myungsoo pada Suzy saat mereka dalam mobil.

“Tidak.”

“Apa ‘tidak’ adalah seorang aktor? Kau suka sekali mengucapkannya.” Myungsoo fokus menyetir, sesekali dia melihat sepion samping, juga depan.

“Sejak mulai bekerja, aku tidak lagi berpain piano.”

“Kenapa kau sama-sekali tidak bicara tentang bunga?”

“Kenapa?”

Myungsoo melihat Suzy sebentar kemudian kembali kejalanan. “Baiklah. Aku mengatakan, Aku mengirimimu bunga. Aku meyerah, kau tidak mempan dengan cara itu.”

Suzy diam.

“Jangan mengembalikan bungaku. Terlihat lucu jika ada delapan ikat bunga dimejaku.”

“Seharusnya kau tidak melakukannya sejak awal.” Ucap Suzy pelan namun Myungsoo dapatmendengarnya, sangat jelas.

“Jangan meninggalkan ponselmu lagi.” Myungsoo berbicara dari dalam mobil.
L (24)

Disudut lain, Nickhun memperhatikan mobil Myungsoo yang mulai meninggalkan depan rumah.

Suzy akan baik-baik saja kan? Kata Minho psikologi Suzy terganggu bukan lagi karna kematian ayah mereka. Berarti, bisa jadi Myungsoo  penyebabnya. Namun yang dilihat Nickhun sekarang, Suzy terlihat tenang bersama Myungsoo. Lebih tenang dari sebelumnya.

“Oppa, kau harus kembali bekerja kan?” dari belakang Tiifany mengusap bahu Nichkhun.

“O. Sepertinya pekerjaanku menumpuk.”

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

A/N                  : Aku baru selesai Ujian langsung mikirin chapater 11. Sebenernya bukan Ujiannya yang bikin pusing tapi tugas dari dosennya itu lho bikin ribet, apa lagi kalo hari ujian makin deket.

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo.  Stay tune on this blog and wait the next chapter. Annyeooooong. 🙂

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

26 thoughts on “When Love Must Protect the Love (Chapter 11)

  1. Suzy Mgung udah mulai deket lagi nih, Suzy mulai nyaman. Pngnnya Myung tau tentang tangan Suzy n kehidupan Suzy wkt ditinggal Myung.
    Next ditunggu hwaiting ✊😀

    Suka

  2. eoh bogoshipposoyo Cahya Khosiyah ssi—-kukira cerita ini akan hilang ditelan waktu tnp tau akhirnya—part ini aku suka walau ada yg bikin jengkel… moga next part suzy mulai goyah n kembali pd myungsoo… bersama melawan ibu suzy yg angkuh,,,hahahahahahaha…

    keep FIGHT!!!

    Suka

  3. Nah loh suzy ketabuan cemburu.
    Kkkkk
    Next ditunggu.
    Fighting

    Suka

  4. baca part ini bikin senyum2…gak nyangka suzy tanpa sadar sedikit terbuka dengan myungsoo 😀 next

    Suka

  5. kayanya ini chapter fav aku deh haha, udah panjang ceritanya, feel ny dapet dan tadaaa.. suzy kayanya udah mulai nerima myungsoo lagi. dan berharap kedepannya myungsoo ngga ngecewain. harus happy ending yap
    next
    keep writing and fighting!

    Suka

  6. oooh jadi tiffany benci sama myungsoo karna waktu itu myungsoo bentak dan maki suzy yaaa thor sampe suzy saket yaaa thor semoga aja myungsoo nyesel thor pernah selingkuh suzy dan buat suzy saket sampe menderita thor pas myungsoo bentak suzy , di tunggu yaaa thor next partnya fighting thor 🙂

    Suka

  7. heh bkin myyng nyesel dlu thor ru bs balikan ma suzy…

    Suka

  8. myungzy mulai deket lagi joah..

    Bagmna reaksi krystal ya kalau tau myung itu mantannya suzy
    Joah

    Suka

  9. tetep lanjutt thor.. itu myungzy udah deket lagi, makin penasaran aja

    Suka

  10. yg myung tau suzy adalah gds yg tegar..dia benar2 ga tau apa yg terjd dgn suzy setelah dia pergi..

    Suka

  11. ada kemajuan nih myungzy, tapi gmna jadinya kalo nichkun tau kalo myun ngebentk suzy..? lanut

    Suka

  12. wah,, myungzy udah mulai deket lagi, yeay..!!!

    Suka

  13. kyaa akhirnya myungzy moment muncul lagi,ayo myung jangan nyerah untuk dapetin suzy! xD

    Suka

  14. aku klo jadi kel. suzy khawatir banget melepas suzy ama tuh cucunguk gak tau diri
    bnyak moment MyungZynya tapi kurang ngfeel , karena luka y udah ditorehkan terlalu besar(✘﹏✘ა) hådë3êh

    Suka

  15. jangan percaya ama kata2 myungsoo suzy, tetep dia tuh laki2 y terang2 selingkuh(ง▔▔^▔▔)ว

    Suka

  16. Kyaaa makin menarik

    Suka

  17. heemm suka sih sm myung yg mulai deketin suzy geunde sakitnya tu di sini masih krasa #nunjukdadasuzy

    entahlah…tapi aku suka banget sm semua karakter di sini, keluarga bae yg menurutku ga egois ngekang suzy buat jauhin myung, org2 kepercayaan suzy yg baek banget

    Disukai oleh 1 orang

  18.  suzy baik2 saja?  yg dikhawatirkan minho dan nikhun itu benar?
    Suzy emng susah di tebak, dia kayak eommanya 😦

    Suka

  19. Suzy susah bgt ditebaak..
    Soojung blum pernah letemu myungsoo ternyataa..
    Ga mau suzy sakit lagii gara2 cintaa

    Suka

  20. Suzy udah gk trauma lg mlihat myun. Mlah mau bercanda ma myung

    Suka

  21. Minho belum muncul lagi ya, suka deh kalo Myungsoo udah cemburu sama Minho, hehe

    Suka

  22. soojung bilang kek gitu ke myungsoo karna belum tau siapa myungsoo coba aja klo tau bukan hanya piring yang dilempar golok,clurit udah dilempar tu ke muka myungsoo wkwkwk
    nickhun bakal jauhin suzy dari myungsoo yaa padahal mereka udah mulai deket lagi .. suzy juga udah mulai nyaman sama myungsoo ..

    Suka

  23. Sepertinya suzy udh mulai lunak nih ke myung..

    Suka

  24. hah.. masih kesel sama klakuan myung dulu

    Suka

  25. Llau?lalu? kalo Nickhn berprasangka kalo penyebab ketidak stabilan psikologi suzy bukan karena ayah atau Myungsoo, akahkah dia ngijinin Suzy buat hubungan sama Myung?
    Aigoo… g bisa dikebut semalam nih baca ffnya… yaudah bobok dulu, besok dilanjut lg thor.. thankyu~~~

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s