We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

I’ll Go to You (Prolog)

18 Komentar

Title        : I’ll Go to You

Author        : Cahya Khosyiah

Main Cast    :  Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast    : Jung Soojung |Choi Minho | Choi Jinhyuk | Jung Ilwoo | Lee Hoya|  Kim Yura | Sungjoon |Choi Sulli |Kang Jiyoung | Lee Jongsuk | Jin Seyoen | Nickhun | Sungyeol |
Original Cast    : Kim Yonghoo | Ahn Songhee | Lee Choin | Youngji | Jung Naesang | |Park Tae-sun | Choi Yoonho | Chun Kyesan | Bae Chulsoo | Sandrena |

Pairing : Still MYUNGZY.

Genre : Medical (?), Romance, Tragedi.

Rate : 18+

Disclaimer : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.
Huruf tebal untuk flashback
R&R
/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
“Apa kau akan melakukan perintah mereka?” Songhee berdiri diambang pintu, mengamati suaminya yang mengemasi barang-barangnya. “Kenapa kita tidak kabur saja daripada menuruti perintah para anggota dewan.”

“Yeobo,, kau tahu aku tidak melakukannya karna itu.” Jawab Yonghoo atas ucapan Istrinya. “Tidak perduli mereka siapa, mereka tetaplah seorang pasien.”

“Kalau begitu aku ikut bersamamu.” Songhee mengeluarkan satu lagi koper untuk keperluannya.

“Kau tau kita akan kemana? Berbahaya.”

“Karna itu aku akan bersamamu, kau butuh seorang Anaesthetics disana.”

“Bagaimana dengan Myungsoo? Tetaplah disini bersama Myungsoo.” Yonghoo menekan bahu Songhee, meyakinkan sang istri untuk tetap tinggal.

“Kita bisa menitipkan Myungsoo pada Dr. Lee dan istrinya.”

“Kita akan ke utara, kita bisa saja tidak kembali.”

“Sudah bilang karna itu aku harus ikut.” Songhee mengenggam tangan suaminya. “Setelah sampai sana kita bisa meyakinkan pihak utara, jujur saja aku tidak percaya dengan pemimpin kita.” Songhee melepas tangannya.
Setelah berkemas, Songhee pergi ke dapur menyiapkan makan siang.

“Sup labu,,” Yonghoo duduk di kursi meja makan paling ujung kemudian diikuti sang istri yang mengambil tempat di samping suaminya.

“Sup labu adalah makanan pertama yang aku buatkan untukmu.” Songhee tersenyum.

“Saat itu kita masih menjadi mahasiswa.”
Dimeja makan Yonghoo dan Songhee tak berhenti saling tersenyum, mereka juga bercerita tentang masa pertemuan awal mereka. Mengenang masa indah sepasang suami istri ini.

Namun sebahagia apapun Yonghoo dan Songhee tak bisa menghapus firasat buruk mereka. Hari ini mungkin makan siang terakhir untuk mereka berdua.

“Aku akan menelfon Youngji.”

Disaat seperti ini seharusnya mereka bertemu Myungsoo, melihat wajah anak laki-laki tersayang mereka untuk yang terakhir. Namun Yonghoo dan Songhee tak bisa melakukan itu. Petugas negara mungkin sedang mengawasi mereka, jika orang-orang itu tau bahwa Myungsoo adalah putra Kim Yonghoo hal tersebut bisa membahayakan Myungsoo.

Songhee,, apa yang aku dengar itu benar?” Belum sempat Songhee memberi salam, orang disebrang sana sudah mencegatnya dengan sebuah pertanyaan.

“Hoh.. Aku akan ikut bersamanya ke Utara.”

“Ya Tuhan,, Eottoke? Choin sudah mencoba membujuk directur Jung tapi berhasil. Aku dengar mereka bahkan membunuh salah-satu dokter karna tak menuruti perintah.”

“Karna itu kami harus berangkat.”

“Ini karna dana yang ditawarkan pemerintah pada rumah sakit cukup besar.”

Songhee menghela nafas, uang adalah segalanya. Mereka membunuh dan menjual manusia untuk uang.

“Aku ingin meminta bantuanmu.”

Malhe,,, Aku akan lakukan apapun.”

“Bisa kalian jaga Myungsoo? Hanya seminggu, kami akan berusaha agar bisa kembali.”

“Tentu saja, Jangan khawatirkan Myungsoo.” Youngji menerima permintaan sahabatnya.

“Hari ini dia pulang lebih awal, mungkin jam 12 dia sudah keluar kelas.” Ucap Songhee.

“Aku akan menjemputnya. Pergi dan segera kembali , Arraso?!.”

~
Youngji datang ke sekolah Myungsoo seperti permintaan teman dekatnya –Songhee-. Dia terkejut ketika mendapati beberapa orang berpakaian hitam sedang berdiri didepan sekolah sang anak. Youngji mengambil inisiatif untuk masuk tanpa dicuriagai orang-orang tersebut. Tepat saat Younji sampai didepan kelas Myungsoo, sang anak juga keluar kelas.

“Ajuhmma, teman eomma?”

“Kau masih mengingatku?” Youngji berjongkok didepan, mensejajarkan tinggi badan mereka. “Kau tinggal bersama bibi sampai ibumu kembali.” Youngji mengenakan jaket panjang pada Myungsoo kecil, sehingga wajahnya tidak terlihat.

“Memang kemana Eomma? Kenapa bukan dia yang menjemputku.” Myungsoo menerima saja perlakuan Youngji kepadanya.

“Ibumu dapat tugas diluar daerah. Sangat tidak memungkinkan membawamu kesana.” Youngji berkata jujur, meski dia tau Myungsoo menangkap maksudnya berbeda.

Youngji menarik Myungsoo keluar sekolah lalu membawanya masuk mobil dan membawa anak laki-laki ini pulang kerumahnya.
~

Suasana dirumah Yonghoo tak kalah tegang. Yonghoo dan Songhee masuk kedalam van dengan pengawalan ketat dibelakang mereka.

“Kalian dilarang membawa barang pribadi.” Taesun menghentikan Songhee yang menaikan koper mininya.

“Aku hanya membawa peralatan medis dan beberapa obat.”

“Disana sudah ada obat.” Jawab salah satu pengawal.

“Lalu kenapa mereka masih membutuhkan dokter untuk mengobati orang yang terkena radiasi bom?” Yonghoo menatap tajam Taesun, anggota dewan yang akan menyerahkan dia dan istrinya pada pihak Utara.

“Biarkan.” Taeson mengibaskan tangan sekali dan para pengawal langsung melepas tangan mereka dari Yonghoo serta Songhee. “Kalian sudah tau permasalahannya kan? Pihak utara ingin kita membantu mengobati tentara mereka, jika kita tak menuruti mereka maka boom,,” Taeson membuat gerakan seolah menembak kepala Yonghoo. “Korea selatan akan diledakkan.”

“Apa kalian benar-benar perduli dengan rakyat?”

“Jika jadi aku, apa yang akan kalian lakukan?” Teasun balik bertanya.

“Jadi kalian membunuh dokter untuk menyelamatkan nama kalian?” Songhee tersenyum pahit.

Taesun tertawa bahak-bahak, “Anggap saja kalian dalam misi penyelamatan negara.” Ucapanya. “Bawa mereka ke pelabuhan.”
~

 

Tok,, tok,,

Youngji dan Choin saling menatap satu sama lain. Para petugas negara mungkin sudah tau bahwa anak Yonghoo serta Songhee sedang bermasa mereka. Youngji membawa Myungsoo masuk kamar sedang Choin berjalan menuju pintu.

“Direktur Jung,,” Ucap Choin tercekat saat melihat orang yang mengetuk pintu rumahnya.

“Dr.Lee,,, aku mengejutkanmu?”

“Animida,,” Jawab Choin segera.

“Dimana Istrimu? Aku dengar dia keluar dari pekerjaannya untuk mejadi relawan.” Tanpa dipersilahkan Naesang masuk ke rumah sang bawahan.

“Anda mencari saya?” Youngji keluar kamar tanpa membawa Myungsoo.

“Kita akan dapat banyak suntikan dana dari pemerintah, peralatan medis dan yang lainya. Aku sedang berencana mengangkat Dr.Lee menjadi Profesor, bagaimana Lee Sosaengnim?”

Choin dan Youngji saling berpandangan, firasat mereka buruk.
“Aku butuh persetujuan kalian untuk itu, tapi aku tak butuh persetujuan untuk membawa putra Kim Yonghoo.”

Youngji membulatkan mata, begitu juga dengan Choin. Dua orang bertubuh tegap masuk kerumah mereka, mengeledah setiap ruangan rumah Choin.

Tak sampai lima menit mereka sudah mendapatkan Myungsoo. Salah satu dari mereka keluar dari kamar Youngji sambil membawa Myungsoo. Youngji manatap Myungsoo sendu, meski umurnya kecil sepertinya Myungsoo mengerti situasi yang sedang dihadapi.

“Aku akan bertemu Appa dan Eomma kan, Ajuhmma?”

Youngji mengangguk, matanya sudah berlinang.
Air mata Youngji tumpah saat Jung Naesang dan pengawalnya membawa Myungsoo keluar dari rumah mereka. Sungguh miris, anak berumur 10 tahun harus terlibat dalam permainan politik karna keserakahan orang dewasa.
~

“Ajuhssi, dimana orang tuaku?” Tanya Myngsoo kecil pada pria paru baya disampingnya.

“Kau akan segera bertemu dengan mereka.” Jawab Jung Naesang tersenyum.

 

Hingga malam tiba Naesang masih mengajak Myungsoo menusuri jalan tak berujung. Meski tak mengerti secara rinci, anak kecil ini tau bahwa ada hubungan antara orang tuanya dengan pria paru baya ini.
Setelah beberapa jam, mobil yang ditumpangi Myungsoo bersama pria tersebut berhenti disuatu pelabuhan.

“Naiklah ke kapal itu, turuti perintah mereka, saat matahari terbit kau akan bertemu ayah dan ibumu.” Pesan pria tadi pada Myungsoo.
Tanpa banyak bertanya Myungsoo menuruti ucapan pria itu dengan patuh. Dua orang pria berpakaian layaknya tentara menghampiri Myungsoo lalu berjalan dibelakangnya, membimbing anak laki-laki itu naik ke kapal kecil.

Perlahan kapal yang dinaikinya bergerak menjauh, Myungsoo kecil menatap pria baya yang bersamanya tadi tanpa berkedip sampai beliau benar-benar hilang dari penglihatan Myungsoo.
~

“Tambah tekanan udara.” Songhee menuruti perintah pemimpin Dokter yang tak lain adalah suaminya sendiri, dia memencet tombol frekuensi pada tabung udara salah satu pasien yang mereka tangani.

“Kita butuh banya udara disini! Yang tidak berkepentingan tolong menyingkir!” Teriak Yonghoo.
Seperti pembantu yang menuruti majikannya, orang-orang yang mulanya memperhatikan kinerja Yonghoo bersama beberapa dokter lainya kini sedikit menjauh.

Tempat ini, ruangan ini, sama sekali bukan tempat yang pantas untuk disebut ruang perawatan. Berantakan, ambrugadul. Beberapa tubuh tergeletak sembarang, mereka tak berdaya bahkan ada yang sudah tak bernyawa. Namun inilah yang sedang terjadi, Yonghoo sebisa mungkin menyelamatkan nyawa yang mungkin bisa ditolong.

“Bergantian.” Yonghoo menekan dada pria didepannya, mengantikan dokter sebelumnya.

“Dokter!” Songhee memanggil Yonghoo.
Yonghoo semakin keras menekan dada pasiean didepannya.

“Dokter!”Panggil Songhee lagi.

“Lepaskan dia, orang disana lebih penting.” Seorang pria menghentikan Yonghoo dengan mata tajamnya. Dia adalah pemimpin tentara disini, Chun Kyesan

“Semua pasien sama. Mereka harus diselamatkan.” Yonghoo tak memperdulikan Songhee maupun pria disampingnya.

“Tapi orang itu lebih penting untuk kami, sama pentingnya seperti putra kalian bagi kalian. Kim Myungsoo.”

Seketika Yonghoo langsung berhenti, mendengar nama putra mereka disebut. Dia menoleh pada Istrinya yang juga membulatkan mata.

“Kalian tidak akan bertemu dengan putra kalian lagi jika orang disana mati.”

Yonghoo menarik tangannya dari pasien didepannya. Dia mengepalkan tangan. Prinsip dalam hidupnya adalah menyelamatkan pasien tanpa melihat status dan kini dia harus mengingkari sumpahnya demi anaknya.

Yonghoo berjalan, baru beberapa langkah, dia tau orang dia tinggalkan tadi pasti sudah kehilangan nyawanya. Ditatapnya pria yang akan menjadi penentu hidup dan mati putranya. Dia membuka kelopak mata sang pasien dengan tangan bergetar.

“Yeobo,, tetaplah fokus.” Ucap Songhee juga penuh khawatir.

“Siapkan Defibrilator.”

“Hanya ada satu disini dan itu sedang digunakan.” Jawab Kyesan.

“NYAWA ORANG INI LEBIH PENTING!!” Yonghoo berteriak keras.
Kyesan tersenyum penuh arti, lalu memberi aba-aba kepada bawahannya untuk menuruti perintah Yonghoo.
“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Pagi tlah tiba, Anak laki-laki berumur sepuluh tahun turun dari kapal menuruti perintah pria bertubuh besar. Selanjutnya dia naik ke atas mobil tang sesuai perintah orang yang sama.

Beberapa menit kemudian tibalah ia disebuah hamparan luas, satu-satunya tempat yang bisa ia lihat adalah sebuah gedung usang yang nampak ramai.

Myungsoo berjalan mendekati gedung itu. Pria baya yang bersama Myungsoo tidak berbohong, Myungsoo bertemu orang tuanya.

“Eomma,, Appa,,” Panggil Myungsoo kecil dari ambang pintu.
Yonghoo dan Songhee menoleh bersamaan, wajah mereka terlihat kelelahan , mungkin karna semalaman tidak tidur.

“Myungsoo,,,” Dua orang tentara menghalangi Songhee yang hendak memeluk sang putra. Yonghoo menatap Kyesan, kemudian Kyesan memberi gerakan tangan pada bawahannya.

“Myungsoo,,,” Songhee berjongkok, memeluk anak satu-satunya sambil menangis.

“Eomma,, bagosippo.” Ucap Myungsoo.
Songhee mengangguk, “Eomma ddo. Maaf membuatmu takut.”

 

“Bersiaplah. Ada basecam lain yang harus kalian kunjungi.” Kyesan merusak moment reuni keluarga Kim. “Mereka akan mengantarkan kalian di tempat tinggal kalian.” Dua tentara maju dihadapan Yonghoo.
~

 

“Appa,, aku ingin pulang.” Yonghoo mengalihkan matanya dari pemandangan luar jendela. Myungsoo berdiri dibelakang Yonghoo sambil menarik jas putih sang ayah.

“Apa yang harus kita lakukan?” Kini sang istri juga ikut bertanya.

“Aku akan mencoba bicara pada Chun Kyesan.” Ucap Yonghoo tenang.

 

“Dalam waktu satu minggu aku akan menyelesaikan pekerjaan ini.” Ucap Yonghoo pada Kyesan, mereka berada dirumah yang disiapkan pihak utara untuk keluarga Kim. “Kirim kami kembali saat semuanya sudah selesai.”
Dari balik tembok, Songhee mendengarkan percakapan mereka sambil memeluk tubuh anaknya.

Kyesan tersenyum sinis, “Apa mereka tidak mengatakannya? Jika tidak, berarti kalian ditipu.”

Songhee tersentak mendengar perkataan Kyesan, dia menatap sang anak.

“Kau pikir kenapa anakmu ada disini?” Tanya Kyesan tak butuh jawaban.

“Mereka sepakat memberikan Dokter pada kami.”
Bahu Yonghoo membusung, tak setegap tadi. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang itu. Meraka dengan mudah membunuh dan menjual orang lain untuk kepentingan mereka sendiri.

“Kalian sudah menjadi bagian Utara jadi jangan berperilaku macam-macam.” Peringat Kyesan.
~

“Eottoke?,,” Songhee menundukkan wajahnya.

“Aku tidak percaya. Kita dijebak.” Ucap Yonghoo setengah berteriak.

“Kita bisa disini tapi tidak untuk Myungsoo. Kita harus mengirimnya kembali ke Seoul.”

“Aku tidak tahu. Jika kita tak menurut, mereka tidak akan segan-segan untuk membunuh kita.”

“ Aku tidak perduli. Aku harus menyelamatkan Myungsoo walau dengan nyawaku.” Songhee menangis frustasi. “Aku tidak melahirkannya untuk mendapatkan situasi seperti ini, jika kau tidak bisa aku akan melakukannya sendiri.”

“Ahn Songhee, tenanglah.” Yonghoo menekan bahu istrinya.

BRAK,,, Yonghoo dan Songhee menoleh kearah pintu yang tiba-tiba didobrak. Empat orang tentara masuk kedalam rumah mereka tanpa permisi.
Yonghoo dan Songhee sama-sama terkejut karna dua orang dari mereka langsung mencengkram tangan kanan dan kiri Songhee.

“Korban lebih dari banyak perkiraan kami, semua dokter akan dipencar pada Basecam’s tertentu.”

“Andwe.” Songhee mencoba melepaskan diri tapi percuma, tenaganya tak ada apa-apanya dengan dua orang disamping kanan dan kirinya.

“Biarkan dia disini. Aku yang akan pergi ke basecam lain.” Cegah Yonghoo.

“Emm,,,,” Kyesan menggelengkan kepala tak setuju. “Ku tetap disini. Sudah ku bilang kau harus mengurusi orang kemarin.”

“Tapi Myungsoo membutuhkan Ibunya.” Ucap Yonghoo.

“Anak kalian? Jika begitu kami akan membawa Myungsoo juga.” Timpal Kyesan.

“Andwe!” Jawab Songhee keras. “Kita tidak tau tempat apa yang akan ku hampiri nanti.” Ucapnya pada sang suami. “Mereka bilang orang itu sangat penting jadi akan lebih aman jika Myungsoo tetap disini, bersamamu.”

Tanpa diketahui kedua orang tuanya, Myungsoo mencuri dengar percakapan mereka dari balik tembok.

“Kesepakatan sudah dibuat.” Kyesan menyuruh anak buahnya untuk membawa Songhee.

“Segera bawa Myungsoo keluar dari negara ini. Jangan perdulikan aku.” Ucap Songhee pelan sebelum dua tentara benar-benar membawa Songhee.

“Andwe!,, Eomma!,,,” Myungsoo keluar dari balik tembok. Mengejar sang Ibu, Songhee hanya bisa menatap sendu pada putranya.

“Eomaa!!! Kajima,,,,” Yonghoo memeluk Myungsoo dari belakang, menghentikan Myungsoo agar tak mengejar ibunya.

“Eomma,,,” Myungsoo tetap menangis, melihat sang ibu dibawa para tentara.
“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

 

Yonghoo melatakkan dua mangkuk cereal diatas meja makan. Satu untuk Myungsoo dan satu untuk dirinya. Dia mangamati Myungsoo yang merapikan seragam warna biru tuanya. Biasanya Songhee yang melakukan itu untuk keduanya, namun mulai sekarang mereka harus melakukan kegiatan-kegiatan itu sendiri tanpa bantuan sang Istri, entah sampai kapan.

“Makan sarapanmu sebelum berangkat.” Yonghoo bangkit berdiri mengambil tas dan jasnya. “Ayah berangkat dulu.”

Setelah kepergian sang ayah, Myungsoo juga ikut keluar rumah. Ia berjalan menuju sekolah yang tak berjarak jauh dari tempat tinggalnya.
Sekolah ini tenang, jauh berbeda dengan keadaan sekolahnya yang dulu. Tidak ada anak diantar orang tua, tidak ada anak bermain dilapangan, dan tidak ada anak berlarian.

Myungsoo melepas tas punggung hitamnya, dia mengamati teman-teman sebayanya yang duduk ditempat masing-masing. Tanda suara yang keluar, sekedar untuk saling menyapa.
Seorang pria bertubuh tegap masuk kedalam kelas. Mereka semua berdiri lalu membungkuk memberi hormat, tanpa mengerti apapun Myungsoo ikut melakukan hal yang mereka lakukan.
~

Myungsoo keluar dari kelas dengan wajah bosan, tidak ada yang bisa diajak bermain. Mereka bahkan hanya diam saat Myungsoo mengajak keluar kelas untuk bermain bola. Tak sengaja matanya melihat seorang gadis kecil duduk dibangku depan kelas, dia berjalan menghampiri gadis tersebut.

“Anyeong,,,” Sapanya.

DS (2)  Gadis itu menoleh, “Anyeong,,,” Tanggapnya dengan senyum manis, Myungsoo terpaku untuk beberapa detik. Senyumnya sangat manis.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Myungsoo.
Gadis itu menunjukkan selembar foto yang menampak empat orang didalamnya. “Melihat foto keluargaku.”

Myungsoo mengamati foto milik gadis tersebut, Myungsoo teringat dia tidak punya foto keluarga. Semua barang mereka masih berada di Korea selatan.

“ Ini Ayah, Ibu, dan kakak lakik-lakiku.” Gadis tersebut memperkenalkan satu per satu anggota keluarganya didalam foto.

“Sayangnya,, aku tidak bisa bertemu mereka.”

“Wae?” Myungsoo penasaran.

“Mereka membawa Ibu dan Nickhun Oppa.”
Mereka? Apa mungkin gadis ini bernasib sama dengannya? Terpaksa berpisah dengan Ibunya.

“Aku tidak tau kenapa, mereka tiba-tiba membawa Ibu serta kakakku. Mereka juga mengancam Ayahku.”
Ya,, gadis ini bernasib sama dengannya.

“Ibumu pasti baik-baik saja.” Ucap Myungsoo.

“Ani,,” Gadis itu menggeleng. “Dia mungkin sudah meninggal. Kami masih mendapat kabar dari kakakku tapi kami tidak mendengar kabar ibu sama sekali.” Ucapnya tenang, tak ada kesedihan sama sekali dari nada bicaranya.

“Mereka kejam dan tidak adil. Kenapa kalian tidak pergi saja dari sini?”
Gadis kecil itu diam.

“Aku dan ayahku berencana kabur dalam satu minggu, bagaimana jika kalian ikut bersama kami.”

“Andwe,,,” Gadis itu menggeleng lagi. “Kami harus tetap disini agar bisa menemukan kakakku.” Ucapnya masih tenang.
DS (1)

“Perkenalkan aku Bae Sooji, neo?” Gadis tersebut menngangkat tangannya dengan senyum.

“Myungsoo,, Kim Myungsoo.” Myungsoo menerima jabatan tangan Sooji.
Mereka saling tersenyum. Pertemuan masa kecil yang Indah.
“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Myungsoo menghampiri Ayahnya, “Appa,,,”
Yonghoo menoleh, dia berjongkok dihadapan Myungsoo sambil menekan bahu anaknya, “Ibumu,,, Ibumu berpesan agar aku segera memulangkanmu. Besok persiapkan dirimu.Setelah sampai Seoul paman Choin akan menjemputmu, jaga dirimu baik-baik selama kau disana.” Ucap Yonghoo panjang lebar.

“Andwe appa. Kita harus tetap disini agar bisa menemukan ibu.”
Yonghoo tersiap, bagaimana anak umur sepuluh tahun bisa mengatakan hal seperti orang dewasa.

“Appa akan mengurusnya, ini pesan ibumu.”

“Aku juga seorang pria, aku ingin melindungi orang yang kita cintai. Eomma.” Ucap Myungsoo mantap.

Yonghoo berdiri, dia menatap lekat mata sang anak. Sikapnya buka seperti Myungsoo seminggu yang lalu, anak kecil ini berubah dalam waktu seminggu.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Cinta akan menemukan jalannya. Terus berjalan mencarimu. Karna aku tau,,, hatiku akan membawaku padamu.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

1 Architecture 101Bae Sooji

2 L (8)Kim Myungsoo

4 MLG (5)Jung Soojung

3 MTT (6)Choi Minho

6 We HomeChoi Jinhyuk

5 Kim YuraKim Yura

7 Lee Jong SukLee Jongsuk

8 Jin Se YeonJin Se Yeon

 /////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

A/N        : What your feel?
Sebenernya FF ini udah lama dipersiapkan, tapi aku pikir setelah WLMPL kita butuh yang sedikit ringan jadi muncullah LT. Chapter 1nya ga tau kapan dipost, yang jelas setelah LT berakhir.

Sampai bertemu dengan Dokter Kim si ahli bedah dan Dokter Bae dengan Diagnosa yang akurat.

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

18 thoughts on “I’ll Go to You (Prolog)

  1. Kerenn… terinspirasi sm doctor stranger ya?

    Suka

  2. Reblogged this on bsuji1994 and commented:
    izin baca&reblog

    Suka

  3. aaaa—-Doctor Stranger ala Cahya Khosiyah ssi??? bedanya di dramanya kan tokoh ibu sdh pisah sama bapakx…

    jd pasti akan berbeda cerita, ne….

    Suka

  4. Part 1 ditunggu.
    FIghting

    Suka

  5. nih ff myungzy ttg doktr y..
    kyk.a seru nih..kkkk
    next y thor..

    Suka

  6. rda binggung….

    Suka

  7. woooooaaaa kereeennn
    kyanya bkln seru nih #jinja
    d tuggu part 1 nya ne 😉

    Suka

  8. Ditungggu part 1 nya authournimmmm.. Hwatinggg neee..

    Suka

  9. annyeong thor! aku reader baru, dan sepertinya bakal sering mampir hehe. prolognya aja kece gini, gimana lanjutannya. fighting author-nim^^

    Suka

  10. wahh kayanya aq baru pernah mampir disini,emmm ceritanya kaya drama korea doctor stranger itu yah?wahh bakal seru nih dibuat versi myungzy*kkk,, salah satu ff yang perlu diikuti ditunggu kelanjutannya…

    Suka

  11. ternyata bkn yah?aq lupa*mian’kkk

    Suka

  12. Jhoa… ditunggu part 1 nya hehe

    Suka

  13. penasarannnn lanjuttt thorr

    Suka

  14. Ff dengan cast banyak,menarik penuh dengan intrik.ditunggu part 1 nya thor.tetap semangat buat nulis.:-)

    Suka

  15. waaaah ceritanyaaaa seruuu ^^ di tunggu yaaa thor next partnya fighting thor 🙂

    Suka

  16. seru nih joah joah ditunggu nextx

    Suka

  17. wah bagus.. walau aq bkal gk ngerti sama istilah kedoktera

    Suka

  18. Kayaknya Seru Thor
    Ngigetin qw Sma dr strangers 😊
    Mogaereka bisa keluar. Mereka ada di korut kn thor? Apa mereka bnr2 di jual sm selatan
    Sooji keluarga asli korsel?

    Ijin baca nde thor 😊

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s