We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Last Twilight (Chapter 8 ‘End)

16 Komentar

Title        : Last Twilight

Author        : Cahya Khosyiah

Main Cast    : Suzy (Bae Sooji)| Kim Myungsoo

Other Cast    : Krystal Jung | Jackson Wang | Heo Youngji | Mark Tuan | Lee Jieun | Kim Sunggyu | Lee Minyoung | Choi Minho |Bae Woohee | Sung Joon | Choi Jinhyuk | Kim Soohyun | Lee Yeonhee | Bambam | Yoo Dong-geum as Choi Donggeum | Lee Hoya | Lee Yubi | Jiyeon | Eunjung | Junho | J.Kwon | Jaebum |

Original Cast    : Bae Yongjoon | Julie Tuan | David Tuan | Park Se-Jun |

Pairing        : Myungzy JJANG!

Genre        : School Life, Actoin, Fantasy, Romance.

Rate        : 18+

Disclaimer    : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.
Huruf tebal untuk flashback
R&R
/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

“Naekkeo haja, naega neol saranghae, oe. Naega neol geokjeonghae, eo. Neaga neol kkeut kkaji, jikyeo julge.”
Myungsoo hanya bisa menggaruk tengkuk saat dua siswi yang tak sengaja lewat, bernyanyi didepannya.
“Apa aku harus mengajarimu tariannya juga?”

“Sooji pasti akan terkesan.” Ucap salah satu dari mereka. “Jika dia sudah gila.” Lanjut gadis tersebut. Dua gadis itu tertawa cekikikan meninggalkan Myungsoo.

“Bagaimana rasanya jadi pusat perhatian dalam waktu sehari?” Myungsoo melirik tajam pada Jackson yang berjalan disampingnya.

Belum cukup ejekan dari dua gadis tadi sekarang Sunggyu menghampiri Myungsoo dan Jackson, kemudian menggenggam tangan Jackson dan mengatakan hal-hal lucu.
“Aku akan selalu melindungimu, tidak perduli dengan kesulitan yang akan datang.” Ucap Sunggyu. Minyoung menepuk pundak kekasihnya geli.

“Walaupun memalukan tapi perbuatanmu perlu diberi apresiasi. Hwaiting.” Sebelum pergi Sungyu memberikan dua kepalan tangan didepan dada. Daripada penyemangat, itu lebih terlihat sebagai ejekan.

Ekspresi wajah Myungsoo semakin tak beraturan. Disisi lain dia juga mengkhawatirkan Sooji, pasalnya sang gadis belum menampakkan diri sejak tadi pagi.

Selama perjalan menuju kantin, sindiran dan ejekan tidak lepas dari Myungsoo.
“Kalian hanya berdua?” Krystal dan  Youngji sudah duduk disalah satu bangku kantin, tadi mereka keluar dari kelas lebih dulu.
“Lebih jelas. Mark atau Sooji yang kau tanyakan.” Timpat Jackson.

“Keduanya.” Jawab Krystal.

“Kami tidak tau.” Ucap Myungsoo.

“Mark pergi ke ruang latihan. Sooji,,, mungkin dia terlalu malu untuk masuk sekolah.” Ujar Youngji sambil melirik Myungsoo.

“Benar. Jika aku jadi Sooji, aku mungkin akan menyembunyikan wajahku setidaknya satu minggu.” Ucap Krystal menambahi.

“Menurut kalian apa yang harus ku lakukan?”
Krystal dan Youngji saling berpandangan, diam.

“Kau harus minta maaf.” Entah dari mana, tiba-tiba Minho datang disela mereka. Minho duduk didepan Myungsoo.

“Sulit kan berurusan dengan wanita Bae?”
Myungsoo bingung namun dia mengangguk menujui ucapan Minho.
“Wanita Bae memang terlihat berbeda tapi sebenarnya mereka sama dengan wanita lain.” Ucap Minho.

“Mereka suka melihatmu memohon.” Sambung Minho lagi.
“Lalu kenapa Woohee sunbae tidak melihatmu. Apa kau tidak pernah memohon?” Sela Jackson.
Minho berdehem, “Aku harus pergi.” Dia menghindari sindiran dari adik kelasnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Krystal pada Jackson saat Minho tak lagi bersama mereka.
“Hanya sekali lihat, aku bisa tau jika dia menyukai Woohee sunbae.” Ucap Jackson.

“Jangan bercanda Jackson!” Krystal memincingkan mata kearah Jackson sedang Jackson terlihat santai sambil meminum air jeruknya.

“Walaupun Tidak, kau tetap tidak boleh berharap pada Choi Minho. Dia pemimpin generasi selanjutnya jadi dia pasti akan menikah dengan salah satu wanita dari tiga klan lainnya.” Ujar Jackson mematahkan hati Krystal.
“Ini mungkin terdengar aneh. Tapi aku senang ada yang senasib denganku.” Myungsoo.

~
Sudah setengah jam lebih Myungsoo berdiri didepan kamar asrama Sooji. “Mereka suka melihatmu memohon.” Dia menggaruk kepalany frustasi. Apa Myungsoo benar-benar harus melakukan ide Minho? Jujur saja ide kakak kelasnya tersebut terdengar konyol. Bagaimana jika Sooji merespon sebaliknya, bukannya memaafkan dirinya Sooji  justru ilfill padanya.

Ah masa bodo! Myungsoo menaikkan tangannya hendak mengetuk pintu kamar Sooji namun belum sempat Myungsoo melakukannya, pintu Sooji terbuka menampakkan seorang gadis dibelakangnya.
“Myungsoo,,” Gadis tersebut berucap pelan.

“Hai,,” Sapa Myungsoo kikuk.

“Kau,, kau sedang apa? Apa yang kau lakukan?” Tanya Sooji tak kalah kikuk.

“Itu,, aku,,,” Myungsoo mencari alasan yang tepat, tidak mungkin dia bilang tak sengaja lewat kan? Lantai asrama laki-laki dan perempuan berbeda. “Bisa kita bicara sebentar?” ucap Myungsoo akhirnya.
Sooji mengangguk
~

Dan sinilah mereka –Myungsoo dan Sooji- akhirnya. Taman belakang sekolah, tempat yang biasa Sooji gunakan untuk berlatih. Sunyi, hanya ada suara ranting yang diterpa angin. Sooji mendongakkan kepalanya keatas, melihat daun  berjatuhan.
“Kenapa kau tidak masuk?” Tanya Myungsoo sederhana, dia tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana.

“Kurasa latihan kemarin sudah menguras banyak energiku.” Jawab Sooji.

“Maaf.”
Sooji menoleh kesamping lalu tersenyum geli, “Kenapa minta maaf?”

“Untuk membuatmu malu.”

“Aku tidak malu.” Timpal Sooji masih dengan senyum.

“Tapi kemarin kau terlihat,,,” Myungsoo berhenti bicara karna sesuatu yang lembam tiba-tiba menyentuh pipinya, matanya membulat. Sanking terkejutnya Myungsoo hanya bisa memegang pipinya.
Dia menoleh kesamping pada gadis yang kini tengah menunduk tersipu.
Kedua ujung bibir Myungsoo perlahan naik ke atas.

“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.” Ucap Sooji pelan, sangat pelan.

“A,,ak,,aku,,” Lebih parah dari Sooji, tenggorokan Myungsoo malah seperti terjanggal sesuatu.

“Kau bilang akan membantuku melakukan Gijuetsue.”
“Ye?!” Myungsoo seperti dihempaskan ke bumi begitu saja.

“Kau tidak lupa kan?!” Sooji menekuk wajahnya. Entah pura-pura marah atau marah sungguhan, Myungsoo tetap harus menepati ucapannya kan?

“Baiklah.” Myungsoo menyembunyikan desahannya. “Pertama, bagaimana kau melakukan Gijuetsue?”

“Mana aku tau, itu bekerja begitu saja dalam tubuhku.” Sooji memutar mata keatas.

“Benar juga.” Myungsoo menggaruk tengkuknya. “Bagaimana jika memusatkan energimu ke jantung?” Ucap Myungsoo semangat.

“Sebenarnya terlalu sulit melakukan itu dengan teknikku.”

“Begitu.” Myungsoo dan Sooji kembali lemas.
Tak mau menyerah, Myungsoo ingin membuat Sooji mampu melakukan Gijuetsue yang dia inginkan. “Cobalah. Jika berusaha, kau pasti bisa.”

Sooji menuruti saran Myungsoo, dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam kemudian,

“Kau tidak boleh menghela nafas.” Ucap Myungsoo.

“Terimakasih sudah mengingatkan.” Sooji dan Myungsoo saling tersenyum.

Sooji bangkit berdiri, dia diam mereaksikan seluruh tubuhnya.

“Ini tidak akan berhasil.” Ucap Sooji lemas. Belum apa-apa saja dia sudah merasa lelah.

“Kau pasti bisa.” Satu tangan Myungsoo menggenggam jemari Sooji, sedang tangan yang lain mengepal didepan sang gadis.
Sooji mengangguk, dia kembali mereaksikan energi dalam tubuhnya. Myungsoo mundur dua langkah ketika kilatan biru keluar dari sekujur tubuh Sooji. Myungsoo pernah melihat kilatan itu, malam dimana pertama kali Myungsoo melihat Sooji melakukan Gijuetsue bedanya saat itu kilatan biru hanya muncul dari tangan kanan Sooji.

Reflek Myungsoo langsung menangkap tubuh Sooji yang terkulai lemas. “Gwenchana?”
Sooji terlalu lemas untuk menganggukkan kepala.
~

Angin berhembus sangat kencang Myungsoo mendongakkan kepala keatas, medung menutupi langit yang mulanya berwarna cerah. Logikanya hujan akan turun. Myungsoo segera memapah tubuh Sooji berjalan menuju asrama putri.
“Tunggu.” Sooji berucap dengan sedikit tenaga yang dia punya. Dia melangkah berlain arah. Dengan bantuan Myungsoo Sooji berjalan menuju gerbang utama Gumiho High School. Sang pemuda yang tidak mengerti apa-apa hanya menuruti langkah Sooji.
Soojin dan Myungsoo sama-sama tertegun ketika dilihatnya banyak orang sedang berdiri didepan gerbang utama Gumiho. Sebenarnya tidak terlalu banyak, mungkin 60 sampai 70 orang. Diantara wajah-wajah itu adan dua wajah yang dikenali Myungsoo juga Sooji, dua orang itu berdiri dibaris paling depan.
Kekhawatiran mulai muncul dari dalam hati Myungsoo dan Sooji. Orang-orang ini mungkin dari Diamond High School, mereka datang karna masalah di Incheon beberapa waktu lalu.
Nampak sudah ada beberapa anggota Gumiho yang sudah siap ‘menyambut’ mereka.
“Ada sesuatu yang bisa kami bantu?” Tanya Jinhyuk dari balik gerbang.
~
Selama seminggu ini Jinhyuk, Soohyun, dan Sungjoon mencoba mencari tau adanya penyusup namun mereka kesulitan mendapatkannya. Dari pemikiran mereka penyusup itu muncul dari dalam alias penghianat. Dan jika mereka tidak salah penghianat tersebut tidak hanya satu.
Disebut apakah hal seperti ini, hal baik atau bencana? Pada kesempatan kali ini, Jinhyuk yakin mereka akan mendapatkan penghianat-penghianat tersebut.
~

Pria berambut coklat tersenyum sinis, dari penampilannya sepertinya dia ketua Diamond. “Sebuah janji yang diingkari, kalian harus bertanggungjawab atas itu.”

“Mari bicarakan itu secara baik-baik.”

“Baik-baik kau bilang? Setelah menghancurkan wajah siswa kami?”
Dengan sekejap mata orang-orang tadi sudah ada diarea halaman Gumiho, sepertinya seluruh anggota Diamond dilatih melakukan Gijuetsue tersebut.

“Kita bicarakan setelah kalian semua mati.” Pria tadi memberikan kode untuk menyerang Gumiho. Orang-orang dibelakangnya langsung maju dengan senjata tajam ditangan mereka.
~
Dengan kesulitan Myungsoo membawa Sooji menjauh dari area pertempuran karna nyatanya sang gadis tidak mau menghindari pertempuran tersebut.

“Sooji ku mohon. Tetaplah disini sampai tenagamu pulih. Setelah itu kau berhak melakukan apapun.”

“Kim Myungsoo!” Sooji kuat. “Kau lupa siapa aku, aku bagian dari tiga klan.”

“Lalu kenapa jika kau tiga klan? Tiga klan juga manusia.” Ucap Myungsoo tak kalah tegas. “Aku tak habis pikir dengan anggapan bahwa tiga klan harus berada dibarisan paling depan.”

Sooji diam tak merspon ucapan Myungsoo, dari mata Sooji Myungsoo terlihat kecewa.

“Kau tetap disini.” Myungsoo bangkit, ditangannya sudah ada busur panah.

“Myungsoo.” Pemuda tadi kembali menoleh ketempat Sooji berada. “Hati-hati.” Ucap gadis tersebut. Myungsoo menanggapinya dengan senyuman.
~

“Dimana Sooji?” Tanya Minho ditengah pertarungannya dengan siswa Diamond. Disaat seperti ini keunggulan klan Bae sangat berguna.

“Sepertinya dia kelelahan sehabis latihan.” Jawab Youngji.

“Jieun.” Jieun mengangguk, mengerti panggilan Sunggyu kepadanya. Dia mundur dari area pertarungan untuk mendampingi Sooji.
“Krystal, lakukan pengobatan pada Sooji.” Julie juga merintah Krystal untuk meninggalkan tempatnya.

“Woohee, sambungkan semua telepati!” Perintah Jinhyuk dari barisan paling depan.

“Aku sangat ingin bertarung tapi aku harus meninggalkanmu.” Woohee mengibaskan Fujaku Hiso Shoken-nya dan orang yang bertarung dengannya tadi langsung terjatuh tak bernyawa.

Se-jun mengeramkan gigi melihat satu anak muridnya dihabisi tanpa berfikir oleh Woohee. Dia melirik Yubi yang juga sedang meliriknya, mengisyaratkan sesuatu pada perempuan tersebut.
Sebelum Yubi mengikuti Woohee ke barisan belakang dia menepuk pundak Hoya, lelaki itu menengok kebelakang lalu mengikuti Jieun dan Krystal yang akan menghampiri Sooji.

“Yeonhee, bisakah kita berganti tugas? Aku kesulitan menjaga Julie karna dia fokus memberi tenaga pada anggota Gumiho lain.”
Tanpa banyak curiga, Yeonhee menuruti permintaan Yubi padanya. Dia beralih kesisi Julie, tetap dengan ancang-ancang seperti sebelumnya.
~

“KYA! Kau sengaja ingin menghindri pertarungan?” Tegur Krystal saat tak sengaja berpapasan dengan Myungsoo.

“Aku mencari tempat aman untuk Sooji, mereka mungkin mengincar Sooji karna dia anggota tiga klan.” Jawab Myungsoo.

“Kami akan menjaganya,  jangan khawatir.”
Myungsoo mengangguki uncapan Jieun. Dia melangkah menuju halaman utama, tak sengaja matanya melihat sosok dari balik pohon.

“Hoya, apa yang kau lakukan disana?” Tanya Myungsoo heran.

“Sunggyu memintaku berjaga disini.”
Myungsoo ragu dengan jawaban Hoya, dia menatap Hoya aneh.

“Semua mendengarku?”
Myungsoo fokus kedalam pikirannya, bukankah suara itu milik Woohee, kakak Sooji? Myungsoo tersenyum senang mendengar suara itu. Telepati hanya bisa dilakukan oleh anggota tiga klan tapi sekarang dia mendengar suara Woohee itu artinya dia bisa melakukan telepati.
“Ya, ini aku. Bae Woohee, semua ikuti ucapanku.”
Tidak lama senyum Myungsoo luntur. Walau tidak sehebat klan Choi maupun Tuan, Klan Bae punya kemampuan mengambil energi orang lain selain itu mereka juga sangat sensitif, Woohee mungkin menggunakan keunggulannya itu untuk memasuki pikiran semua orang.
“Semua pedamping Gunin melaksanakan tugasnya, terutama pedamping Jinhyuk dan Sooji.”
Myungsoo tak mengerti ucapan Woohee bagian ini namun dia tetap mendengarkan kata-kata Woohee begitu juga dengan siswa yang lain. Mereka terlihat fokus pada pikirannya meski sedang bertarung.
“Sepuluh Gunin berada dibarisan tiga untuk melindungi Medical Team. Myungsoo, Hoya,,,”  Woohee menyebutkan nama-nama yang seharusnya berdiri dibarisan tiga. “Sisanya tetap berada di barisan dua. Tiga Klan selain aku dan Sooji berada dibarisan utama bersama pendamping mereka.”
Myungsoo semakin terheran, kenapa ada dua perintah berbeda. Hoya bilang Sunggyu menugaskan dia menjaga area belakang tapi seharusnya Hoya berada diarea pertempuran.
“Jika ada sesuatu segera laporkan. Kita harus saling berkomunikasi satu sama lain.”
“Jangan kehabisan tenaga.” Myungsoo tersenyum, itu suara Minho. Begitulah cinta, dalam keadaan bagaimanapun kita hanya akan mengkhawatirkan satu orang. Setidaknya itu yang dirasakan Myungsoo sekarang pada Sooji.
“AKK!!”
Jeritan Woohee membuat semua orang terkejut.
Pikiran Myungsoo berputar dengan cepat, pasti ada hal buruk yang terjadi padaWoohee. Myungsoo langsung menoleh pada balik pohon tempat Hoya tadi, dan nyatanya pemuda itu sudah tidak ada disana. Myungsoo segera berlari menuju halaman belakang dimana dia menistirahatkan Sooji.
~

“Kau mengambil semua energiku, Sooji.” Ucap Krystal lemas, dia duduk disamping Sooji.

“Mian,,” Ucap Sooji menyesal. Itu terjadi begitu saja. Saat Sooji merasakan energi orang lain yang masuk kedalam tubuhnya maka secara reflek dia menghisab semua energi orang tersebut. Energi dari orang lain seperti candu bagi Sooji, dia tidak bisa berhenti menghisabnya.

“Tiarap!!!” Krystal dan Jieun langsung menunduk mendengar aba-aba itu. Ujung Kusarigama menancap tepat dipohon belakang Sooji.

“Apa yang terjadi padamu Hoya?” Jieun berdiri menatap tajam Hoya.
Tak menjawab, Hoya menarik ujung Kusarigamanya hampir mengenai Krystal. Pemuda itu kembali melayangkan Kusariga kearah Sooji.
Dari belakang Myungsoo mencekik leher Hoya dengan lengannya, namun sepertinya itu tak cukup menghalangi Hoya untuk kembali menyerang Sooji.

“Aku tau kau orangnya Lee Hoya!” Teriak Myungsoo menarik leher Hoya.

“Eghh.” Hoya memutar tubuhnya, posisi berubah menjadi Hoya mencekik Myungsoo.

“Lepaskan dia!” Teriak Sooji menatap tajam Hoya.

“Kka! Sunbae bawa Sooji pergi.”
Jieun meraih lengan Sooji, berniat membawanya menjauh. Tapi Sooji menepis tangan Jieun dengan mudah.
Kilatan biru kemballi muncul dari tubuh Sooji, seluruh tubuhnya.  Matanya menatap lurus kedepan. Lama-kalamaan Sooji menjadi orang yang berbeda. Sorot mata dan seluruh tubuh sang gadis dipenuhi kilatan biru, ditambah remang-remang yang mengelilinginya.
Sooji melangkah maju dengan wajah garang, dicengkramnya leher Hoya dengan satu tangan. Tenaga Sooji terlalu kuat untuk dilawan Hoya. Dengan sekali gerakan Sooji melempar tubuh Hoya entah kemana.
~

Yeonhee langsung menoleh kesamping saat medengar teriakan Woohee, dia hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Yubi menusuk Woohee dari belakang dengan Kunai yang dia miliki.
Dia menendang dada Yubi agar menjauh.

“NEO!!!” Yeonhee memincingkan mata. Dia berlari mengejar Yubi yang hendak melarikan diri.
“Kalian jaga Julie dan Woohee.” Perintah Yeonhee pada tim Gunin yang tersisa dibarisan tiga.

“Kita benar mereka sudah keluar. Penghianat itu.” Ucap Sungjoon menengok ke belakang, melihat apa yang terjadi dibarisan tiga.
“Tetap fokus dengan apa yang ada didepanmu.” Tegur Jinhyuk. Dia masih bertarung dengan  Sejun, ketua Diamond. Mendapat teguran dari sang ketua, Sungjoon kembali menfokuskan diri.

DUGH!!
Beberapa orang berhenti bertarung karna sebuah tubuh yang tiba-tiba jatuh diantara mereka. Hoya mengendus, menatap Sooji yang juga sudah ada didepannya.
“Aku bilang jangan sentuh dia.” Sooji kembali menarik kerah Hoya. Cengkraman Sooji terlepas karna tendangan dari samping. Seorang laki-laki berambut hitam acak-acakan  menarik Hoya kesisinya.

“Klan Bae, maja?” Lelaki itu memberi isyarat agar Hoya menjauh. “Cari lawan yang seimbang. Kau berhadapan denganku.” Tak menunggu lama, kilatan-kilatan juga muncul dari tubuh pria itu bedanya kilatan miliknya berwarna hitam. Sedetik kemudian rupa dan tubuh orang tersebut berubah.

“Aku Im Jaebum akan membunuhmu.”

Sooji tersenyum sinis, “Dalam mimpimu,”

Sooji dan Jaebum mengeluarkan taring masing-masing, saling serang. Dalam tubuh Sooji hanya ada perasaan ingin membunuh seseorang tak perduli siapa itu.

Sang gadis mengeluarkan Gariantou kemudian mengibaskannya kearah lelaki bernama Jaebom tadi tapi Jaebum berhasil menghindar. Sooji mengeram, dia menangkap tangan Jaebum yang hendak menyerangnya kemudian mengigit tangan lelaki tersebut menghisap energinya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Jaebum belas mengigit bahu Sooji.

Sooji tersenyum miring, tanpa diketahui sang lawan Sooji menusuk Jaebum dari belakang. Jaebum terbatuk, darah segar keluar dari mulut dan punggungnya.

“Sooji sudah membunuh satu orang.” Dari barisan tiga Woohee mangamati pertarungan itu.

“Hal buruknya adalah perang ini terjadi saat Sooji dalam masa latihan Gijuetsue tersebut.” Tambah Julie. “Satu, lima, sepuluh, lalu Sooji akan membunuh dirinya sendiri.”

 

“Mana yang kau pilih? Kami menang dan gadis itu kembali ke tubuh semula atau kami kalah tapi gadis itu berubah jadi seigala?” Sejun tersenyum sinis pada Jinhyuk.
“Apa yang akan terjadi jika kita kalah?”
“Ini mungkin akan menjadi senja terakhir bagi Gumiho maka dari itu apapun yang terjadi kita tidak boleh kalah.” Minho berucap pada anggota Gumiho lain.

“Aku memilih menang.” Jinhyuk manarik ganggang pedang lalu mengarahkannya pada Sejun.

Jantung Myungsoo berhenti seketika. Jinhyuk lebih memilih kemenangan. Benar-benar sulit dipercaya.
Myungsoo maju, berlari menuju Sooji yang sedang menghadapi beberapa anggota Diamond sendiri. Dia tidak memperdulikan teriakan Jackson yang memanggili namanya.

“Apa yang kau lakukan?!” Ucap Jinhyuk keras.

“Aku tidak bisa membiarkan Sooji melakukan hal yang kau inginkan.” Lirik Myungsoo tak kalah tajam.

“Kim Myungsoo!!” Jinhyuk kehilangan kesabarannnya. Apa Myungsoo tidak mengerti bahwa Sooji juga bisa membunuh dia?

“Kya! Woohee eondi?” teriak Julie.
“Kami sudah siap dengan semua kemungkinan tapi aku tidak bisa membiarkan adikku mati seperti ini.” Woohee berlari ke barisan utama.

“Sooji! Kau bisa mendengarku?” Ditengah-tengah pertarungan Woohee berusahan menahan tangan Sooji namun Sooji justru menyingkirkan tangan Woohee sampai kakaknya tersungkur.

Myungsoo menoleh pada Mark, seolah tau pikiran masing-masing. Mereka mengangguk. Myungsoo berdiri dibelakang  Mark, mengarahkan bujur panah pada orang-orang yang mengelilingi Sooji.
Saat Myungsoo melepas panahnya, dalam waktu bersamaan Mark juga mengibaskan Raiji no Ken.

Jrep! Jrep! Jrep! Lebih dari lima orang mati terkena panah berapi milik Myungsoo dan Mark. Setelah orang-orang tadi mati, Myungsoo maju menghampiri Sooji.

“Kau mengingat kami. Kim Myungsoo dan Bae Woohee.” Myungsoo menggengam tangan Sooji. “ Lihat orang-orang dibelakangmu.” Perlahan sorot biru mata Sooji menghilang namun aura itu masih mengelilingi tubuh Sooji. Dia menatap satu-persatu oang disekililingnya.
Saat ketiga orang dibarisan utama itu sedang lengah, seorang gadis berambut pendek menyerang Woohee dari belakang, dia menendang pungung Woohee sampai Kakak Sooji terseret beberapa meter. Satu lagi gadis Diamond menangkap tubuh Woohee dengan sigap.

Woohee yang memang sudah tak berdaya sejak awal, tak mampu menghindar apalagi melawan serangan Eunjung, salah satu anggota Diamond.
Jinhyuk, Minho, dan Mark pun tak bisa melakukan apapun karna mereka sedang sibuk dengan lawan mereka masing-masing.
“Bawa Sooji ke barisan tiga.” Ujar Woohee pada Myungsoo.
Sooji mematung, dia melihat bagaimana orang Diamond menusukkan Kunai tepat dijantung kakak satu-satunya.

“WOOHEE!!” Dari semua orang, suara Minho-lah yang paling keras.

“Bagaimana perasaanmu melihat orang yang kau sayangi mati didepanmu? Itulah yang aku rasakan ketika kau membunuh Jaebum.” Ucap Jiyeon setelah menusuk Woohee.
Sooji mengeram, pancaran biru kembali nampak dimata Sooji. Kilatan pun semakin besar muncul dari dalam tubuh Sooji.

“Kim Myungsoo mundur!”
Sooji menoleh Eunjung, satu-satunya orang yang berada didekat Sooji. Dia mencekik lehernya, menyeret Eunjung ke barisan dua Gumiho. Gadis tadi berusaha melepas jari Sooji tapi tak ada gunanya. Sooji mendudukkan Eunjung, menarik rambut sang gadis lalu memutar lehernya.
KREK!!
Sooji melempar tubuh Eunjung yang sudah tak bernyawa kepada pihak Diamond.

“Aku mengenali kalian, aku melakukannya dalam keadaan sadar.” Ucap Sooji, menepiskan kekhawatiran diantara Gumiho.

“Kalau begitu ayo kita mulai.” Jinhyuk bangkit berdiri.

“Aku mengingat wajah kalian, aku akan melenyapkan orang yang sudah membunuh kakakku.” Sooji berjalan menuju Jiyeon, seolah tak gentar Jiyeon juga maju menghampiri Sooji.
~

Myungsoo dan Mark saling manatap. Myungsoo menarik busurnya disisi lain Mark juga memberi tenaga penuh pada pedangnya.
“Tamat riwayat kalian.” Myungsoo melepaskan tangannya.
Dan tepat sasaran, sasaran mereka adalah para penghianat itu, Yubi dan Hoya yang sedang berdiri diantara para Diamond.

“Boleh aku meminjam pedangmu Mark?”
Mark melempar pedangnya sesuai keinginan Myungsoo. Myungsoo berjalan menuju Hoya yang sedang berusaha berdiri.
“Itu untuk menghianati kami. Dan ini untuk membully orang yang kusukai.” Myungsoo menusuk Hoya, mengoyak isi perut orang dibawahnya.
“Jika kalian berani menyentuhnya, kalian mati.” Sooji menghalangi orang yang hendak menyerang Myungsoo dari belakang.
“Kenapa kau tak melihat orangmu?” Jinhyuk.
Sejun melihat sekeliling, banyak anggotanya yang sudah tak bernyawa. Bagaimanapun dia berusaha Sejun tidak akan menang.”
~’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’~

“Sooji Noona. Terimalah bunga dariku.” Sooji hanya bisa tersenyum geli saat adik kelasnya menyodorkan seikat bunga pada dirinya.
“Oh,Bambam,,, Baiklah kakak menerimanya.” Sooji mengambil bunga tersebut dari tangan adik kelasnya tadi.
“Hari ini aku ada ujian. Oppa pasti melakukan yang terbaik.” Kali ini Sooji melongo mendengar ucapan Bambam.

“Oppa?” Dari belakang seorang laki-laki menarik kasar rambut Bambam. “Urus dulu rambut birumu ini. Bukannya minggu lalu rambutmu berwarna merah? Lalu kuning dan hari ini biru?” Lelaki itu semakin semangat menarik rambut Bambam.

“Siapa dia Noona?” Bambam berusaha melepaskan tangan Myungsoo dari kepalanya.

“Aku pacar Sooji.” Dengan bangga Myungsoo merangkul bahu Sooji.

“Benarkah itu?”
Sooji mengangguki pertanyaan Bambam.

“Jujur saja aku kecewa.” Bambam menunduk berbalik namun belum sampai tiga langkah dia kembali diposisinya tadi.
“Kau? Bukankah kau Kim Myungsoo? Siswa yang tiga kali gagal ujian?”
Sooji tertawa tertahan. Bahkan anak baru pun tau jika itu hal memalukan.

“Kau? KIM MYUNGSOO! KYA! Panggil aku Sunbae!” Bambam langsung lari terbirit karna teriakan Myungsoo.
Sooji menarik bahu Myungsoo sebelum kekasihnya meledak. Sumpah-serapah terpaksa Myungsoo tahan demi Sooji.

“Anak kecil itu membuatku gila.” Myungsoo geram.

“Hem? Menurutku dia imut.”

“Imut? Sooji!”

“uuuu,, apa kau cemburu?” Sooji mengkerlingkan mata.

“Ya. Rasanya terbakar disini.” Myungsoo menunjuk dadanya dengan nada suara sangat manja.

“Haruskah aku mendinginkanya?”
Myungsoo mengangguk-anggukkan kepala imut.
Sooji mencium kilat bibir Myungsoo.
“Itu hanya mendinginkan disini, tidak sampai sini.” Myungsoo meletakkan tangannya dileher kemudian dada.
“Arraso. Tutup matamu lagi.”
Myungsoo menuruti Sooji untuk menutup mata. Dia bersiap menerima ciuman dari kekasihnya. Keduanya saling mendekatkan wajah. Dan,,,
“Kalian menjijikkan!” Suara cempreng Youngji mengagalkan bibir Sooji yang hampir menyentuh bibir Myungsoo.

“Sooji harus bersiap untuk pertandingan nanti.” Jackson melingkarkan lengannya pada leher Myungsoo lalu menarik temannya menjauh dari Sooji.

“Sooji-ah. Saranghea.”

“Dia benar-benar menjijikkan.” Sooji ikut tersenyum bersama Krystal. “Bagaimana perasaanmu?”

“Sebentar lagi setahun peringatan kematian kakakku. Aku harus bagaimana? Dia selalu mendukungku melakukan apa yang aku inginkan. Dia seperti ibu bagiku.”
~

Ditempat lain,,,
Minho menatap kosong nisan didepannya. Terukir satu nama disana. Bae Woohee.
“Bukankah seharusnya kau ada diaula?” Julie menghampiri Minho.
“Aku tidak akan bisa melupakannya. Tidak maslah kan?”
Julie menggeleng, “Aku menyesal karna tidak punya cukup waktu untuk mengenal Woohee. Aku kira kalian akan bersama.”
“Ayo kembali ke sekolah.”
~
////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
A/N        :  Krik,, krik,,
wait project chapter. Annyeooooong. 🙂

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

16 thoughts on “Last Twilight (Chapter 8 ‘End)

  1. huaaa… knp woohee meninggal…
    but happy ending buat myungzy… di tunggu next FFnya yaaa.. komawoo and hwaiting

    Suka

  2. wah happy ending buat myungzy 🙂

    Suka

  3. wah.. aku masih penasaran ama perjuangan krystal naklukin minho

    Suka

  4. OMO woonhe mninggal???
    aigoo myung kyeopta klw lg cmbru #kkk
    endingnya gntung tuh min
    DAEBAAAAKKK 😀

    Suka

  5. knpha woohee mnggl….???aigo…happy end myungzy.

    Suka

  6. kyaaa— ga nyangka begitu cepat sdh end aja—–uuwwaaaa—–fantasy ku berakhir di sini….

    Suka

  7. Happy ending #Myungzy
    Minho udh rlkan aja woohee ne
    Ditunggu next ff nya thor
    Fighting!!!!

    Suka

  8. Myung jd manja gt..keke
    minho ama soojung aja..hhe
    myungzy happy ending,

    Suka

  9. Ceritanya udah abis yaa? Hmm bagus sih diamond dan penghianat udah pada mati tapi wohee juga mati kasian minho dan suzy -_- walaupu happy ending tapi klan bae kehilangan 1 penerusnya

    Suka

  10. myungzy bersama…joah joah…

    Suka

  11. happy end buat myungzy aku suka tapi kenapa kakak suzy harus meninggal, kasian minhonya..
    tapi keseluruhan keren loh th
    or

    Suka

  12. Yeah2 dah end jha. Untung suzy punya kekuatan bisa mengalahkan msuh’y. Tp syang kakak’y mati

    Suka

  13. happy ending, tp kurang puas

    Disukai oleh 1 orang

  14. kebahagian memang harus dibeli, salah satu dari mereka pasti ada yg merelakannya.. huhu sedih liat naib Wonhee..
    tapi bahagia juga akhirnya happy ending! good night!

    Suka

  15. Lahhhh…. .wonhee kenapa hrs meninggal kasian minho sama suzy ditinggalkan, dan myungsoo akhirnya dia bisa jadi pacarnya suzy, dan mereka sekarang tingkatkedua ya ? Seru ada bambam nya juga wkwk

    Suka

  16. yeah happy ending..walau kakak nyy sooji meninggal..

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s