We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

I’ll Go to You (Chapter 1)

21 Komentar

Title : I’ll Go to You

Author : Cahya Khosyiah

Main Cast : Kim Myungsoo (Shin Woo) | Bae Sooji (Jang Mari)

Other Cast : Jung Soojung |Choi Minho | Choi Jinhyuk | Jung Ilwoo | Lee Hoya| Kim Yura | Sungjoon |Choi Sulli |Kang Jiyoung | Kim Sohyun | Lee Jongsuk | Jin Seyoen | Nickhun | Sungyeol |

Original Cast : Kim Yonghoo | Ahn Songhee | Lee Choin | Youngji | Jung Naesang | |Park Tae-sun | Choi Yoonho | Chun Kyesan | Bae Chulsoo | Sandrena |

Pairing : Still Myungzy!!! Other pairing, MinJung (Minho-Soojung). And Heartbeat Couple (Jongsuk-Seyeon).

Genre : Medical (?), Romance, Tragedi.

Rate : 18+

Disclaimer : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback

R&R
/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

 

Myungsoo mengamati tempat sekitar, dia sedang mencari tempat yang bagus untuk bersembunyi. Pilihannya jatuh pada semak belungkar disamping academy.

Dia berjongkok dibalik semak tanpa mengeluarkan suara sekecilpun.
Sedang asiknya bersembunyi, Myungsoo merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, dia menoleh kebelakang dilihatnya gadis dua tahun lebih muda darinya sedang tersenyum meringis, menampak deregat gigi putihnya.

DH (9)

 

 

 

 

Belum dua menit Myungsoo bersembunyi dan Sooji bisa menemukannya secepat itu.

“Dari mana kau tau aku disini?” Myungsoo berdiri, mengacak rambut Sooji.

“Geunyang,,, aku hanya merasa kau ada disini.” Jawab Sooji polos. “Ada apa?” Sooji menyerit ketika melihat wajah Myungsoo yang nampak berfikir.

“Kurasa ini yang dinamakan cinta sejati.” Myungsoo menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.

“Jangan konyol.” Sooji tersenyum mengejek.

“Tidak perduli sejauh apa jarak kita. Hatimu akan membawamu padaku, begitu juga sebaliknya.”

“Begitu? Cah,, kita buktikan itu, sekarang gantian kau yang jaga.”
~
Pasangan lainnya mungkin akan mengisi waktu kencan mereka dengan makan bersama, bergandengan, atau hal-hal romantis lainnya. Tapi pasangan kekasih ini berbeda, mereka menghabiskan waktu senggang dengan bermain petak umpet.
~

Myungsoo menarik tangan Sooji yang hendak bersembunyi “Umur kita sudah 18 tahun kenapa kau masih suka petak umpet?” Ya,, sebenarnya yang ngotot bermain petak umpet adalah Sooji.

“Hanya berlatih.” Jawab sang gadis.

“Berlatih?”

“Em,,” Sooji mengangguk. “Jika suatu saat nanti aku menghilang kita bisa saling mencari.”

“Haha,, jangan bercanda. Walaupun tidak secepat kau tapi aku bisa menemukannmu dalam waktu kurang dari lima menit. Kau tau kenapa?” Myungsoo mengenggap tangan Sooji, mencodongkan wajahnya agar sejajar dengan wajah sang gadis. Dengan jarak sedekat ini mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Sooji diam, tak tau harus menjawab apa. Bibirnya kelu akibat sikap Myungsoo.

“Karna Hatiku akan membawaku padamu.”

Jantung berdetak cepat dan pipi terasa panas. Sooji pikir dia meleleh saat ini. Ia menatap wajah Myungsoo dengan mata berbinar. Menyentuh rahang prianya. Tak berbeda dari Sooji, Myungsoo juga melakukan hal yang sama.  Menyentuh lembut wajah kekasihnya, memuja kesempurnaan paras Sooji. Rambut, dahi, pipi, dan bibir, Myungsoo tak akan bisa melepas itu semua. Mata keduanya tertutup ketika bibir mereka bertemu. Saling menekan bibir masing-masing.
Myungsoo mengigit bibir bawah Sooji dan Sooji melakukan hal sama dibibir atas Myungsoo. Sooji sedikit menjijit untuk mengimbangi ciuman sang kekasih. Memutar kepala mencari posisi yang pas.
Pasangan kekasih ini larut dalam gelora cinta mereka. Cinta muda yang penuh semangat.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Sooji membungkukkan badan, memberi hormat pada Ayah kekasihnya. Kim Yonghoo.
“Duduklah. Ini bukan pertama kalinya kau kesini.” Ucap Yonghoo mempersilahkan Sooji duduk. Sementara Yonghoo sibuk dengan buku bacaannya, Sooji mengamati foto diatas meja sampingnya. Foto Yonghoo bersama Myungsoo kecil,,, tanpa sang ibu.
Wajah Yonghoo tidak banyak berubah, hanya kerutan dan rambut yang berubah warna. Sedangkan Myungsoo,,, dulu Sooji tidak berfikir bahwa Myungsoo sangat menggemaskan, tapi sekarang Sooji melihat itu. Rasanya ingin mencubit pipi Myungsoo kecil.

“Kenapa kau tersenyum?” Myungsoo muncul mengejutkan Sooji.

“Obso,,” Jawab Sooji ringan.

“Waeyo? Apa kau baru menyadari bahwa aku sangat tampan?” Myungsoo membenarkan letak foto yang diamati Sooji tadi.
Sooji berdesis.

“Bagaimana kabar Ayahmu?” Yonghoo menanyakan kabar Ayah Sooji.

“Keadaannya baik.” Jawab Sooji.

“Ayahmu butuh istirahat tapi mereka tidak akan membiarkannya.” Yang dimaksud Yonghoo ‘mereka’ adalah para pemimpin Utara.

“Terimakasih atas bantuan anda.” Sooji menunduk terimakasih.
Yonghoo mengangguk, dia teringat pada sosok pria sembilan tahun lalu. Sosok yang membuatnya mengabaikan prisip dokternya. Orang itu adalah ayah Sooji, ayah dari gadis yang dicintai anaknya.
Bae Chunsoo, ayah Sooji merupakan seorang letnan perang yang sangat berbakat dalam hal taktik. Itulah kenapa beliau sangat penting untuk pihak utara. Sooji sangat berterimakasih pada ayah Myungsoo karna beliau telah menyelamatkan ayahnya.
Tanpa diketahui sang gadis, Yonghoo harus mengingkari janji dokternya untuk itu.

“Appa,, apakah kita harus mengadakan makan keluarga?” Usul Myungsoo.

“Ayah Sooji sangat sibuk.” Jawab Yonghoo tanpa mengalihkan mata dari buku bacaanya.

“Saya akan meminta Ahbeoji untuk meluangkan waktunya.” Timpal Sooji.

“Jinjja?” Myungsoo langsung memeluk Sooji girang.
Yonghoo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya atas sikap sang anak.

“Kita harus membicarakan tanggal pernikahan juga.” Myungsoo tak memperdulikan ayahnya.
Sooji berdehem, dia mencubit perut Myungsoo karna merasa tidak enak dengan ayah Myungsoo.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Kedatangan Myungsoo dan ayahnya tak merubah suasana meja makan keluarga Bae. Tetap tenang dan damai. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.

“Ibu Sooji berasal dari Thailand jadi aku sedikit tau kebiasaan makan negara lain. Apa korea selatan punya kebiasaan seperti ini?” Chunsoo buka suara.

“Tidak.” Jawab Myungsoo semangat. “Kami suka tertawa dan membicarakan hal-hal kecil dimeja makan.”
Yonghoo berdehem, disenggolnya tangan sang anak.

“Dulu Sooji dan Nickhun juga sering bicara dengan Ibunya dimeja makan.”
Lihat kesalahan Myungsoo sekarang, “Saya tidak bermaksud mengingatkan anda pada istri anda.” Myungsoo menyesal. Ingin rasa dia menjahit mulutnya sendiri.

“Tidak. Aku senang mengingat Istriku, sudah sejak lama kami tidak membicarakan istri dan anak laki-lakiku.” Jawab Chunsoo.

“Bagaimana Ahbeonim bertemu dengan Eommonim?” Tanya Myungsoo pada Chunsoo.
Dahi Sooji mengkerut, kedua alisnya bahkan hampir tersambung. Ahbeonim? Eommanim? Myungsoo pasti punya nyali yang besar.

Chunsoo tersenyum renyah, “Namanya Sandrena Buck. Aku bertemu dengannya saat mendapat tugas ke Thailand. Dia seorang guru sekolah menengah pertama. Dia wanita yang perhatian dan telaten.”

“Mungkin Sooji mewarsi bakat ibunya. Kudengar dia sangat teliti dan tidak pernah melakukan kesalahan di sekolah. Berbeda jauh dengan seseorang.” Yonghoo melirik Myungsoo.

“Mungkin.” Chunsoo tersenyum. “Sooji bilang Myungsoo juga berbakat. Apakah dia mewarisi bakatmu?”

Myungsoo menoleh pada Sooji. “Nde Appa. Dalam waktu setahun Myungsoo bahkan mendapat banyak pujian dari para profesor. Aku yakin dia akan langsung masuk Rumah sakit pemerintah saat Myungsoo lulus nanti.” Myungsoo tersenyum, sebelumnya dia tidak pernah mendengar Sooji memujinya. Ini adalah pertama kalinya Myungsoo mendengar Sooji mengatakan hal baik tentang dirinya.

“Dari mau kau tau? Aku bahkan tidak pernah bercerita tentang kehidupan sekolahku.” Seringai Myungsoo.
Sooji menggaruk tengkuknya dengan wajah kikuk. “Mencari tau,,” Jawabnya malu.

“Kau juga harus belajar untuk masuk ke universitas. Lihat Myungsoo.” Ujar Chunsoo pada Sooji.

“Aku tidak tertarik dengan kedoteran, aku akan masuk ke Pelatihan Inteljen Negara.”
Myungsoo tercengang atas jawaban Sooji. Inteljen negara? Maksudnya semacam Mata-mata dan sebagainya? Profesi itu sangat berbahaya, terutama bagi seorang wanita.

“Justru karna aku wanita, ini akan lebih mudah.” Jawab Sooji seolah tau isi pikiran Myungsoo.

“Tapi,,,,” Myungsoo tak habis pikir dengan jalan pikiran Sooji. “Sebaiknya kau duduk dirumah saja.” Ucapanya kemudian.

.“Kurasa bakat Ayah-Ibumu menurun padamu Sooji-ah.” Ucap Yonghoo tersenyum sedangkan Chunsoo menatap piringnya yang hampir kosong. Matanya menyiratkan sesuatu.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

“Kim Sonsaengnim,,,”

“Kita masih sama-sama belajar.” Myungsoo tersenyum pada seorang yang sedang berjalan menghampirnya.
Dia adalah Sungyeol, teman kedokteran Myungsoo. Disini jarang ada orang yang bisa dekat dan berguaru dengan orang lain tapi Sungyeol berbeda, dia bergaul cukup baik dengan  Myungsoo.

“Hari ini kita akan masuk ke ruang operasi sungguhan.”

“Selama ini kita tidak?”

“Maksudku kita tidak akan satu ruangan lagi dengan yang lain.”
Myungsoo mencermati perkataan Sungyeol dengan baik. Myungsoo pernah mendengar ini, dalam selang waktu tertentu mahasiswa akan diuji kemampuannya, siapa yang tidak berhasil dia akan mati.

“Semoga berhasil Kim Myungsoo.”

“Kau juga.” Timpal Myungsoo singkat.
~

Myungsoo masuk kedalam ruang operasi dengan tubuh bergetar. Myungsoo yakin dia bukan satu-satunya orang yang merasa gugup. Mahasiswa sepantarannya pasti merasakan hal sama. Takut dan Khawatir.

“Orang diatas meja opersai adalah seorang pasien, tidak kurang tidak lebih. Dia menggantungkan harapannya padamu.” Satu kalimat yang pernah dikatakan sang ayah. Kalimat itu menjadi patokan Myungsoo untuk melakukan hal yang terbaik.Selain itu, Ia tidak ingin disingkirkan seperti ini.
Dia membaca riwayat kesehatan pasien didepannya. Setelah tiga puluh detik Myungsoo mengembalikan berkas itu pada perawat.

“Pecangkokan ginjal pada pasien gagal ginjal akan segera dimulai.” Myungsoo memberi aba-aba pada dokter dan perawat yang mendampinginya.
“Pisau.”
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Sepanjang perjalanan pulang Myungsoo terus bersiul senang. Ayahnya pasti bangga mendengar Myungsoo berhasil meng-oprasi pasien gagal ginjal. Dipercobaan pertama dan dia langsung berhasil.
Sebenarnya tidak bisa disebut ‘percobaan pertama’ juga, sebelumnya dia pernah meng-opreasi pasien yang sudah mati bersama dokter lain tapi di kasus kedelapan mereka baru berhasil. Bedanya sekarang Myungsoo melakukan operasi itu sendiri dibantu satu perawat Anasthesi dan dua dokter pendamping.

Myungsoo berhenti di pertigaan. Bagaimana jika dia memberi tahu Sooji dulu? Sang gadis pasti tak talah senang seperti Ayahnya.

Myungsoo berjalan lain arah dengan jalan menuju rumahnya. Dari belakang sebuah gedung samar-samar Myungsoo mendengar tangis seorang gadis. Suara itu seperti tidak asing ditelinganya. Myungsoo berlari kecil mendekati asal suara. Dan benar saja seorang gadis menangis didepan tubuh dua pria yang tergeletak tak berdaya. Myungsoo mendekati mereka dengan sempoyongan.

“Apa yang terjadi?” Myungsoo masih berdiri, tak percaya dengan apa yang dia lihat.

“Myungsoo-ya,,,” Tangis Sooji makin pecah dipelukan Myungsoo. Sooji terus menangis teronta-ronta.
suzy (14)

 

 

 

“Uri Ahbeoji,,, Neo appa,, eottoke?”

“Waeguere?” Myungsoo menggoyangkan bahu Sooji.

“Mianhe,, jeongmal mianhe.” Sooji meminta maaf dalam tangisnya. “Ini salahku. Aku meminta ayahmu untuk menyelamatkan Ayahku, tapi mereka melarangnya dan menembak Ayahmu.”

Aliran darah Myungsoo terasa berhenti. Ya Tuhan,, apa yang sebenarnya terjadi.
“Tadi malam mereka membawa paksa Ayahku, kemudian pagi tadi aku melihatnya sudah bersimpah darah disini.”
Myungsoo masih diam tak bergeming. Ingatannya berputar pada perkataan Ayah Sooji beberapa waktu lalu, selesai makan malam.

“Sejak aku memilih untuk mengabdikan diriku pada negara, akhir hidupku sudah ditentukan. Mohon jaga Sooji. Aku mengandalkanmu, Kim Myungsoo.”
Ayah Sooji sudah tau hal ini akan terjadi pada dirinya. Saat itu Myungsoo menjawab dengan pasti bahwa dia akan menjaga sang gadis. Myungsoo tidak tau jika artinya Ayah Sooji menitipkan sang anak padanya.

Ini terlalu sulit untuk Myungsoo terima. Sang ayah meninggal karna ingin menyelamatkan orang lain? Tapi apakah bisa disebut ‘orang lain’ jika itu adalah ayah kekasihnya?
Kepala Myungsoo terasa pening. Dari sekian orang , kenapa ayah Sooji yang harus Ayahnya selamatkan. Dari banyak letnan kenapa Ayah Sooji yang harus mereka bunuh.

Perlahan Myungsoo merangkul kekasihnya, penepuk-nepuk bahunya pelan. Dia mengeluarkan air mata tanpa bersuara.
“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

 

Dengan sorot mata lelah dan marah Myungsoo masuk rumah. Dia langsung meneguk segelas air putih. Ia tersenyum sinis mengingat apa yang barusaja dia lakukan. Dia mengobati orang-orang yang tlah membunuh ayahnya dan ayah kekasihnya. Dunia ini sungguh gila, sudah enam bulan dia melakukan pekerjaan itu.

Dunia sungguh konyol. Hampir sepuluh tahun berlalu dan tidak ada yang berubah ditempat ini. Orang bebas melakukan apa yang mereka inginkan tanpa perduli keadaan orang lain.

Sooji muncul dari dapur membawakan sup kentang. Mereka saling berpandangan, kemudian Myungsoo merengkuh tubuh Sooji dalam pelukannya.

“Terimakasih untuk tetap bersamaku. Aku masih bisa bernafas karnamu.” Myungsoo mengeratkan pelukannya.
Sooji mengecup bibir Myungsoo sekilas. Myungsoo membalas dengan melalukan hal sama, tapi bertubi-tubi.

Dikecupan keberapa, Myungsoo benar-benar memautkan bibir mereka. Menyesapi manis bibir sang kekasih. Sooji memasukkan jarinya disela-sela rambut Myungsoo, menikmati setiap sentuhan bibir Myungsoo di bibirnya.

“Bagaimana?” Tanya Myungsoo ketika bibir mereka terlepas.

“Aku akan masuk NKIA (re: North Korean Intelligence Agencies).”

“Sooji,,,”

“Ini adalah satu-satunya cara untuk menemukan ibumu.” Potong Sooji sebelum Myungsoo menceramahinya lagi. Dia tahu Myungsoo pasti akan melarangnya seperti biasa.

Mata Myungsoo menyipit, “Kau sudah mendapat kabar dari kakakmu?”

Sooji mengagguk. “Dia menjadi Letnan perencana perang di block 12.”

“Kalau begitu kita bisa lari bersama, aku akan usahakan agar bisa bertugas di camp 12.”

“Lalu ibumu?”

Myungsoo mendesah. “Selama sembilan tahun lebih tidak ada kabar darinya. Mungkin mereka sudah membunuh Eomma.”

“Lalu kenapa kita harus bersama kakakku. Kita kabur berdua saja.” Ulu hati Sooji terasa sakit. Ingin rasanya dia menangis.

“Karna aku tau kakakmu sangat penting bagimu, Sooji.” Ucap Myungsoo juga sedikit berteriak, keduanya mulai tak bisa mengendalikan emosi. Terlalu lelah dengan keadaan yang sedang mereka hadapi.

“Ibumu juga sama pentingnya bagimu.”

“Mereka mungkin sudah membunuhnya.”

“Sampai kapan kau membuatku merasa bersalah?” Sooji menatap mata Myungsoo tajam.

“Sooji,,,” panggil Myungsoo lembut, berusaha mencairkan emosi mereka.

“Aku tidak tahu! Kau membuatku jengah Kim Myungsoo!” Sooji meninggalkan meja dengan emosi masih meluap-luap. Myungsoo mengacak rambutnya kasar. Keadaan ini benar-benar membuatnya gila.
~

 

“Terimakasih.” Ucap Myungsoo tulus pada teman kedokterannya. Dia menerima surat rekayasa agar dia bisa bertugas di Block 12. Walaupun Sooji tidak setuju, Myungsoo akan tetap melakukannya. Dia akan kabur bersama Sooji serta kakak sang kekasih.

Sebenarnya dia tidak mengabaikan keadaan ibunya namun terlalu lama jika dia harus menemukan sang Ibu juga. Salahkah Myungsoo? Dia hanya ingin melindungi Sooji.

Myungsoo bisa mengurus Ibunya setelah mereka sampai di Korea Selatan. Dia tidak bisa membiarkan Sooji masuk NKIA, berbahaya bagi Sooji. Myungsoo yakin sang ibu juga mengerti perasaan Myungsoo.

“Aku akan mengirim Sooji seminggu setelah kau disana.” Ucap Sungyeol, teman Myungsoo.

“Sekali lagi, terimakasih.”
~

 

Sooji duduk dikursi didepan Myungsoo. Sang pria terlihat menghela nafas berat.

“Maafkan aku untuk tadi malam.” Ucap Myungsoo lirih.

Sooji tak habis pikir, dia tak mengerti kenapa harus Myungsoo yang minta maaf padahal dilihat dari sisi manapun dia-lah yang bersalah. Sooji yang menyebabkan ayah mereka meninggal tapi Sooji yang marah.

“Apa kau sakit hati karna perkataanku? Mianhe,,”

Sooji mencondongkan tubuhnya, melingkarkan tangannya diperut Myungsoo. “Tetaplah mencintaiku selamanya.”

“Jangan khawatir. Aku akan disisimu selamanya.”

Sooji menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang kekasih.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

 

Perjalanan selama berjam-jam tak mempengruhi keadaan fisik Myungsoo. Dia tetap terlihat tegas dan percaya diri.
Sangat sulit untuk sampai pada dititik ini. Bagaimanapun caranya dia harus keluar dari negara ini bersama Sooji.
Myungsoo membaca dokumen-dokumen ditas mejanya. Dia sedang mencari nama kakak laki-laki Sooji. Akan lebih mudah jika mereka punya fotonya, namun sayang mereka –Myungsoo dan Sooji- bahkan belum pernah melihat wajah Nickhun.

Myungsoo berhenti disatu dokumen.
Bae Nickhun
24 Juni 1988
Apakah orang ini? Jika dilihat sekilas wajahnya sedikit mirip dengan Sooji. Myungsoo membaca riwayat hidup pemilik data.
Posisi : Perencana perang.
Tidak salah lagi. Orang ini pasti kakak laki-laki Sooji!
Setelah mendapat apa yang dia cari, Myungsoo segera memberesi dokumen-dokumen itu. Dia mempersiapkan diri untuk kunjungan ke Basecam besok.
“””””””””””””””””””””””””””’”””””””””””””””””””””””””

“Meskipun anda seorang tentara masih ada kemungkinan anda sakit.” Ucap Myungsoo dengan senyum manis. Sekarang dia sedang berada disebuah ruangan yang tak terlalu luas, Myungsoo berhadapan dengan para tentara yang tinggal dibascam ini. “Apa jadinya negara ini jika anda sakit?… Anda harus tetap menjaga kesehatan karna anda seorang tentara benar?” Meski tidak bereaksi namun Myungsoo tau orang-orang ini mendengarkan perkataan Myungsoo dengan baik, hanya saja wajah mereka memang begitu.

“Sekarang ijinkan saya memeriksa keadaan tubuh anda sekalian. Silahkan maju kedepan.”
Satu per satu tentara mulai maju untuk diperiksa oleh Myungsoo. Myungsoo bertanya dan mereka mengungkapkan keluhannya.
“Anda punya tubuh yang bagus tapi anda terlihat pucat. Apa yang anda rasakan?” Tanya Myungsoo pada tentara bertubuh besar.

“Aku tidak bisa tidur disiang hari.” Keluhnya.

“Anda mendapat jadwal jaga malam dan tidak bisa tidur disiang hari?”
Tebakan Myungsoo tepat, orang itu mengangguk meng-iya-kan.

“Sesekali mintalah teman anda menggantikan jadwal anda atau buat suasana tempat tidur anda seperti malam hari. Usahakan tidur walau hanya dua jam. Faktanya otak membutuhkan istirahat lima jam dalam sehari.”
Setelah memberi penjelasan Myungsoo memberikan satu tabung kecil obat kepada orang tersebut.

“Siapa nama anda?” Tanya Myungsoo pada pasien selanjutnya.

“Bae Nickhun.”
Myungsoo langsung mendongakkan kepala ketika mendengar nama itu. Untuk pertema kalinya dia melihat wajah kakak kekasihnya.
‘Sooji aku menemukannya. Tunggu aku.’ batin Myungsoo.

“Apa masalah anda?”

“Tidak ada.” Jawab Nickhun. Dari bicaranya saja Myungsoo semakin yakin bahwa tentara ini orang yang dia cari. Suaranya mirip dengan Chulsoo –ayah Sooji-.

“Anda punya riwayat Asma?”

Nickhun tanpa curiga mengangguk.

“Bagaimana seorang perencana bisa punya penyakit asma? Ini berbahaya.”
Kini Nickhun menyerit. Mungkin merasa aneh dengan dokter didepannya.

“Karna anda seorang yang peting jadi saya menambah resepnya.”

Nickhun tersentak ketika Myungsoo menjabat tangannya. Dengan senyum Myungsoo mempersilahkan Nickhun untuk berdiri, berganti dengan tentara lain.

Dengan gerik seolah tak terjadi apapun, Nickhun pergi mencari tempat yang sepi. Dia tercekat saat melihat kertas yang diselipkan Dokter muda tadi diantara jabatan tangan mereka.

Nickhun menyetuh permukaan foto itu. Menyentuh gambar pria separuh baya, Nickhun kenal pria ini. Sangat kenal. Dia adalah Bae Chulsoo, Ayahnya. Mata Nickhun beralih pada gadis remaja disamping ayahnya. Apakah itu Bae Sooji, adiknya?

7E. 21.
Ado coretan pena biru dibagian bawah foto. Nickhun mendongak keatas, dia berada di depan ruang 3E. Pandangan menyelusuri setiap rungan digedung ini. Dia berhenti diruang 5E, dari kejauhan Nikchun melihat ruangan yang dimaksud sang dokter. 7E adalah ruangan dia bertemu Myungsoo tadi.
~

 

Pukul sembilan malam. Tepat saat jam berdenting, Nickhun masuk ruangan 7E. Dia mengangkat senapannya dengan waspada.
Nickhun (2)

 

 

 

 

 

“Apa benar kau Bae Nickhun putar Bae Chulsoo.” Myungsoo keluar dari kegelapan.

Nickhun menurunkan senjatanya dengan pelahan. “Siapa kau?”

“Biarkan saya memperkenalkan diri secara resmi.” Myungsoo berdiri sopan didepan Nickhun. “Anyeongheseyo. Kim Myungsoo imida. Aku teman Sooji.”

Nickhun tersenyum tipis. Dia tau ‘teman’ yang dimaksud Myungsoo. Nickhun menatap Myungsoo dari atas ke bawah, menilai pria didepannya. Ternyata adiknya benar-benar sudah besar, dia bahkan sudah punya pacar. Seorang dokter muda? Hem,, tidak buruk.

“Bagaimana keadaan ayah dan adikku?”

“Sebenarnya,,,”
Myungsoo mulai menceritakan awal pertemuan Myungsoo dengan Sooji sampai kronologi dia bisa sampai basecamp ini. Namun dia melewati hal-hal yang menurutnya tidak ada hubungannya dengan Sooji dan Nickhun.

“Aku ingin kau pergi bersama kami.” Ucap Myungsoo.
Nickhun menundukkan wajahnya dengan penuh penyesalan. Dia tak bisa melakukan apapun ketika mereka kehilangan sang ayah.

“Aku dengar sembilan tahun lalu ada dokter dari selatan yang menolong ayahku. Sebelum pergi aku ingin bertemu dengannya. Bagaimana pun aku harus berterimakasih padanya.”

“Beliau adalah ayah saya.” Ucap Myungsoo.

“Ayahmu? Aku pikir kau yatim-piatu? Lalu dimana beliau?”

“Appa sudah meninggal.”

“Apa yang terjadi? Aku dengar dia harta bagi utara. Kenapa mereka membiarkan ayahmu meninggal?” Tanya Nickhun heran.

“Beliau ingin menyelamatkan seorang pasien namun dicegah oleh para tentara.”

Nickhun tersenyum kecut mendengar penjelasan Myungsoo. “Ya,,, begitulah kami. Jangan terkejut.”

“Sooji belum masuk ke pelatihan NKIA kan?” Tanya Nickhun lagi.

“Belum.” Jawab Myungsoo singkat.

“Bagus jika belum. Berarti dia belum membaca ikrar bakti (re: Sumpah rela mati untuk negara.)”

“Aku akan menghubunginya besok. Lusa mungkin dia sampai disini.”

“Benar. Kau harus segera pergi dari tempat yang membuat hidupmu hancur.”
Myungsoo melirik tangan Nickhun yang menepuk pundaknya.

 

 

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
A/N : Modal nekat. Aku tidak begitu mengerti dengan istilah kedokteran, aku mendapatkannya dari mbah Google dan beberapa drama, jadi mohon bimbingannya.

*beberapa istilah yang aku buat sendiri.
1. NKIA
2. Ikrar bakti

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo :(. Stay tune on this blog and wait next chapter. Annyeooooong. 😀

 

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

21 thoughts on “I’ll Go to You (Chapter 1)

  1. Keren bnget thor,,myungzy nya so sweet bnget~~~
    suzy jd nyusul myung ga ya????lanjut thor~~~~

    Suka

  2. bagus ceritanya, tapi jangan sampe fitnah negara lain… komunis&republik hanya paham negara, jangan terpengaruh..
    fighthing!!!

    semoga mereka ber3 bisa kabur

    Suka

  3. Ceritanya bagus.. ditunggu next partnya yaa

    Suka

  4. Perang, spy, tentara. Hmmm,,, cukup berat juga idenya. Jadi mereka sekarang berada di korut dan ingin kabur ke korea selatan? Aaahhh moga aja berhasil. Kasian appa mereka harus meninggal. 😦
    Dan gak bisa ngebayangin kalau seandainya MyungZy pisah ntar. Jangan sampai deh. Kalau pun pisah, moga bisa bertemu lagi dalam keadaan baik-baik aja. 🙂

    Suka

  5. bagus chingu ceritanyaaa^^ sedih juga liat appa mereka meninggal semoga ajaaa myungzy nanti bisa selamat pas kabur nanti 🙂 semoga myungzy jangan sampe terpisah di tunggu yaa thor next partnya fighting thor 🙂

    Suka

  6. aku masih kebayang aja sama doctor stranger (miyanhe author Cahya Kamila ssi tapi jelas sekali di sini perombakan jalan cerita habis2an–benar2 berbeda dgn drama itu–hanya saja bayanganku berikutnya sooji tetap masuk NKIA trus jadi mata2 spt drama itu lagi–otakku benar2 terkontaminasi dgnx saat baca FF ini–jeongmal miyanheyo ne….)

    semoga tetap SEMANGAT berkobar utk berkarya lebih n lebih baik dari sebelumx…

    Suka

  7. woaaaa kereeeennn
    NEXT PART 😀

    Suka

  8. pha zy eonni nnti bkln msk nkia…???

    Suka

  9. mudah2an mrk bsa kbur dg selmat

    Suka

  10. omo omo appax suzy sm myung dibunuh…ffx keren

    Suka

  11. hemm alurnya agak berat thor gapapadah joahh!!

    Suka

  12. keren aku suka

    Suka

  13. Hmmm ternyata da wp yg gk tau nie hehehe.
    Slm knal…
    Apakah nsib suzy myung n nikjum akan ktahuan? Apakah akan berhsil perg k korsel?

    Suka

  14. hah.. gk tau mau joment apa

    Suka

  15. Enak dipahami ceritanya, tema nya juga suka aku ttg kedokteran sama korut korsel, lanjut thor…eh btw nickhun mau ikut ke korsel kah? Lalu gimana dgn myungzy akankah selamat sampe ke korsel, lanjut penasaran bgt

    Suka

  16. Huaaa Kasian myung.
    Next izin baca
    Reader baru 😉

    Suka

  17. Dadigdug
    Moga myung sooji bisa kabur tpi gmn sama nikhun? Knp dia ga ikut jga. Gmn sama eomma myung? Masih hidup or?

    Suka

  18. Militer cuy… keren banget!
    Semog aja endingnya g sad, g kebayang ntar aku jadi baper kalo endingny sad. maap susah move on thor…

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s