We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

I’ll Go to You (Chapter 2a)

11 Komentar

Title : I’ll Go to You

Author : Cahya Khosyiah

Main Cast : Kim Myungsoo (Shin Woo) | Bae Sooji (Jang Mari)

Other Cast : Jung Soojung |Choi Minho | Choi Jinhyuk | Jung Ilwoo | Lee Hoya| Kim Yura | Sungjoon |Choi Sulli |Kang Jiyoung | Kim Sohyun | Lee Jongsuk | Jin Seyoen | Nickhun | Sungyeol |

Original Cast : Kim Yonghoo | Ahn Songhee | Lee Choin | Youngji | Jung Naesang |Park Tae-sun | Choi Yoonho | Chun Kyesan | Bae Chulsoo | Sandrena |

Pairing : Myungzy, MinJung, Jongyeon.

Genre : Medical (?), Romance, Tragedi.

Rate : 18+
Disclaimer : Cerita ini hanya karangan fikti belaka, hasil dari imajinasi liar author. Jika ada kesamaan tokoh dan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi dan keluarga masing-masing. But this story is my mine.
Huruf tebal untuk flashback
R&R

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

 

Sepanjang perjalanan Sooji tidak berhenti meremas tangannya. Dia merasa gugup karna akan bertemu dengan orang yang belum pernah ia temui selama 13 tahun ini.
Sungyeol  “Keringatmu sebiji jangung.”
Sooji menoleh pada teman Myungsoo yang membantu mereka. Sooji tersenyum malu.
“Myungsoo bilang wajahnya mirip denganmu dan suaranya seperti ayahmu.” Ucap Sungyeol.
“Tidak mungkin. Ayah selalu bilang kakak mirip dengan Ibu dan wajahku mirip dengannya. Suara mereka terdengar sama karna mereka sama-sama seorang pria.”

“Apa kau juga berfikir Myungsoo itu konyol?” Tanya teman Myungsoo sambil tersenyum bercanda.

“Sedikit.” Jawab Sooji memperagakan ‘sedikit’ dengan jari telunjuk dan jari jempolnya.

“Tapi kau harus bersikap baik padanya. Dia sangat mencintaimu Sooji.”

“Arra.” Sooji semakin melebarkan senyum, membayangkan wajah Myungsoo. Sooji sangat merindukan Myungsoo sekarang. Dia sampai tidak tau siapa yang dirinya ingin temui. Myungsoo atau kakaknya, mungkin keduanya.
~

“Berjalan saja dengan percaya diri.”
Sooji mengikuti langkah kaki Sungyeol yang berjalan didepannya.

“Kakakmu seorang letnan perang jadi dia punya kuasa disini.”

Dia mengerti ucapan teman Myungsoo, ia melakukan perkataan orang didepannya. Keduanya menaiki beberapa anak tangga kemudian berhenti didepan pintu bernomor 133.

“Kau siap?”

“Berhenti bergurau Lee Sungyeol. Aku ahli menggunakan senapan.”
Sungyeol tertawa renyah atas perkataan Sooji.

Sooji menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan, diputarnya knop pintu itu lalu membukanya sedikit-demi-sedikit.

Seorang pria bangkit dari duduknya. Sooji melangkah maju pelan-pelan. Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang, lebih cepat dari sebelumnya. Mereka sudah berhadapan, hanya saling memandang dan saling ternyum. Sang gadis menoleh pada Myungsoo yang berdiri dibelakang pria itu. Myungsoo mengannguk dan Sooji langsung berhambur kepelukan orang yang dia anggap kakaknya.
Suzy (9k

 

 

 

Sooji yakin, dia menemukannya. Aroma ini milik kakaknya, meskipun mereka tak bertemu untuk waktu yang lama namun Sooji masih ingat bagaimana rasa pelukan kakak laki-lakinya.
“Oppa.”
“Sooji-ya.”
Dalam tangisan mereka memanggil nama masing-masing. Dan air mata Sooji pun semakin pecah dipelukan Nickhun.
~

“Angap saja ini sebagai ungkapan terimakasihku karna kau sudah menolong ibu kami.” Ujar Sungyeol menghampiri Myungsoo didapur.

“Sejujurnya saat itu aku juga sedang berlatih.” Ucap Myungsoo sambil tersenyum, dia menoleh pada dua orang yang belum melepaskan pelukan mereka.

“Aniya,, kau sangat membantu. Ibuku hampir mati dan aku tidak punya cukup keberanian untuk membedah tubuhnya.”

“Transpalasi paru-paru memang bukan hal yang mudah.” Ucap Myungsoo.

“Tapi kau berhasil melakukannya.” Sungyeol menunduk. “Hal terakhir yang bisa aku lakukan padamu. Aku akan dieksekusi karna pasienku belum sadarkan diri, mungkin operasiku gagal.”

“Gila! Sampai kapan mereka akan melakukan ini?!” Myungsoo hampir melempar gelas ditangannya jika dia tidak ingat keberadaan Sooji dan Nickhun.

“Maka dari itu kau harus segera meninggalkan negara ini dan hidup dengan baik dimanapun kau berada nanti.”
~

 

“Semua baik-baik saja.” Nickhun menepuki punggung adiknya.
Myungsoo, Sooji, dan Nickhun berada diruang tamu tempat tinggal Nickhun. Sedangkan Sungyeol, setelah perasaan Sooji tenang, dia pamit undur diri.

“Maafkan kakak membuat kalian kesulitan.”
Sooji menggeleng. Tenggorokannya masih sulit untuk mengeluarkan suara walau hanya satu kata, mungkin efek setelah menangis.
l 4  “Aku meminta bantuan Sungyeol. Hal-hal yang kita butuhkan sudah siap.” Ucap Myungsoo.
Nickhun menoleh Myungsoo. “Sebelumnya ada yang ingin aku katakan padamu.”
Myungsoo balik menatap Nickhun, siap mendengarkan ucapan pria didepannya.

“Sejak aku melakukan Ikrar bakti, hidup dan matiku sudah ditentukan oleh negara. Aku bersedia pergi bersama kalian demi Sooji jadi apapun yang terjadi nanti kau harus membawa Sooji keluar dari sini.”

“Kita akan pergi bersama oppa.” Sooji menggenggam tangan Nickhun yang duduk didepannya.
Nickhun mengangguk, menenangkan perasaan adik perempuannya.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Keesokan pagi,,,

Tak ada banyak barang yang mereka bawa. Myungsoo hanya membawa beberapa peralatan kesehatan yang diringkas rapi dalam rancelnya. Awalnya dia berniat pergi tanpa membawa apapun, tapi Sooji memberi saran untuk membawa peralatan Myungsoo, hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dalam perjalanan mereka.

Nickhun membuka lipatan peta yang dibawanya, meletakkan diatas tanah. Myungsoo dan Sooji mengikuti Nickhun berjongkok mengelilingi peta berwarna coklat.

Profisi Nickhun sebagai Letnan menguntungkan mereka. Dia hafal bagai mana seluk beluk daerah ini.

“Kita ada disini.” Nickhun menunjuk satu bagian peta, posisi dimana mereka berada. “Kita akan melalui hamparan ini dan juga hutan kemudian baru kita bisa sampai ke pelabuhan.” Nickhun mengerakkan jarinya menuju gambar berwarna biru. “Kapal tidak akan menunggu lama jadi kita harus segera sampai sana sebelum mereka berlayar. Kita hanya punya waktu sampai matahari terbenam.”
Dan perjalanan pun dimulai, perjalanan menuju tempat yang lebih baik atau,,, perjalanan menuju kematian.
~

Kyesan mendobrak pintu tempat tinggal Myungsoo. Dengan sigap para tentara segera menggeledah tempat tinggal untuk sementara tersebut. Selang beberapa detik para tentara melaporkan hasil kerja mereka. Kyesan mengeram kesal.

“Kejar mereka sampai dapat! Tidak perduli hidup atau mati.” Mata Kyesan dipenuhi pancaran kemarahan. “Bae Nickhun. Beraninya kau.”
~

 

Entah sudah berapa jauh mereka berjalan, matahari mulai terasa terik dikulit. Nickhun yakin tentara di camp-nya sudah menyadari bahwa mereka melarikan diri. Nickhun berbalik, dilihatnya sang adik sedang berjongkok dan Myungsoo nampak memberikan air.

“Kau sangat lelah?” Tanya Myungsoo.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Sooji dengan nafas terengah-engah

“Wajahmu sudah mulai pucat.” Myungsoo mengusap lembut wajah Sooji, membersihkan bulir keringat yang membasahi paras gadisnya. Myungsoo menggeser tubuh, berjongkok membelakangi Sooji. “Naiklah.”

“Gwenchana.”

“Aku akan sangat marah jika kau tidak menurut.” Ucap Myungsoo.

“Menyingkir.” Sooji dan Myungsoo mendongakkan kepala. “Biar aku yang melakukannya. Aku lupa kapan terakhir aku menggendong adikku.” Nickhun ikut berjongkok didepan Sooji.

Sooji tersenyum senang, tanpa pikir panjang dia naik kepunggung Nickhun.
“Ya Tuhan,, Apa yang kau makan?” Ucap Nickhun dengan suara tertahan sambil mengangkat tubuh Sooji.
Sooji menepuk pundak kakaknya, “Myungsoo bilang aku sangat ringan.”

“Dan kau percaya?”

“Tentu saja, dia tidak pandai berbohong.”

“Sebenarnya aku juga sedikit kesulitan mengangkat tubuhnya. Untungnya aku punya tulang yang kuat.” Timpal Myungsoo.

“Apa?!” Sooji setengah menjerit. “Kau bilang tubuhku sangat ringan, karna itu kau selalu menggendongku didepan.”

“Apa maksudnya?” Alis Nickhun menkerut. Sedang dua terdakwa tadi, lebih memilih untuk diam tak menejelaskan maksud perkataaan mereka barusan, karna mereka tau jawaban Sooji dan Myungsoo, pasti akan terdengar salah ditelinga Nickhun. “Apapun itu, jangan lakukan lagi. Dikorea selatan mungkin itu hal yang biasa namun budaya kami berbeda.” Ucap Nickhun cukup tegas.

“Saya mengerti hal tersebut.” Myungsoo paham jika budaya Utara memang lebih ketat daripada Korea Selatan. Dalam pikiran Myungsoo berfikir, apakah dua orang yang bersamanya ini bisa beradaptasi dengan baik di Seoul?
~

Pelabuhan ada dibalik hutan itu. Benar, sebentar lagi mereka sampai. Setelah padang rumput ini mereka akan melewati hutan. Myungsoo menikmati setiap langkah kakinya. Jujur, Myungsoo tidak sekalipun menyesali jalan yang membuatnya terjebak dinegara ini. Dia hanya ingin hidup lebih baik dengan Sooji, keluar dari bayang-banyang kematian ayah mereka.

DORR!! DORR!!
Myungsoo dan dua orang didepannya merunduk, pelatuk hampir saja mengenai mereka. Beberapa tentara ternyata sudah berhasil mengejar mereka sampai sini. Sebenarnya Nickhun dan Sooji tidak terkejut dengan hal ini namun mereka tetap merasa takut.

“Aku sudah kuat.” Sooji minta diturunkan.
Ketiganya berlari sekuat tenaga, mereka masuk kedalam hutan. Myungsoo dan Sooji saling menautkan tangan, sedang Nickhun berlari didepan sebagai petunjuk arah.

“Jangan menoleh kebelakang, itu hanya akan membuat kalian tidak percaya diri.” Tegur Nickhun pada Myungsoo dan Sooji. “Kalian pergi lebih dulu, aku akan berusaha menghalau mereka.” Ucap Nickhun kemudian bersembunyi dibalik pohon.

“Tapi,,,” Sooji menatap Nickhun khawatir.

“Usaha kita mungkin akan sia-sia. Segera lari, aku akan segera menyusul.” Nickhun memberi pengertian pada Sooji bahwa dia akan baik-baik saja. “Myungsoo, aku sudah beri tau tentang hal ini kepadamu kan?” Myungsoo mengangguk lalu menarik paksa tangan Sooji agar berlari menjauh.

“Andwe! Ini salah Kim Myungsoo, kita harus tetap bersama kakakku.” Sooji merintih mencoba melepaskan tangan Myungsoo yang menggenggam pergelangannya.
Seolah tak mendengar suara memohon Sooji, Myungsoo tetap berjalan sambil mengenggam erat pergelangan tangannya. Mereka melewati semak dan jalan menurun yang berbatu.

“Kim Myungsoo, puttakeyo. Kami baru saja bertemu.” Gadis itu tak berhenti memohon.

“Sooji.” Myungsoo berbalik kemudian menekan bahu gadisnya, menatap lekat mata Sooji. “Ayah dan Kakakmu sudah menitipkan kau padaku.”
Sooji balik menatap mata Myungsoo, namun itu tak cukup mampu untuk meyakinkan hatinya, “Kim Myungsoo. Neo,,,” Sooji tak mampu berkata, dia memutar tubuhnya dan kembali ketempat mereka meninggalkan Nickhun tadi. Myungsoo tak punya pilihan selain mengikuti keputusan kekasihnya.

Kembali menaiki jalan berbatu dan melewati semak.

Sooji berlari semakin cepat ketika dilihatnya tubuh sang kakak sedang tergeletak penuh darah. “Kakak,,” Sooji mengangkat kepala Nickhun lalu meletakkan dipangkuannya. “Kau mendengarku?” Dia menepuk-nepuk pipi kakaknya.

“Kalian,,” Suara Nickhun terbata, dia terlihat sangat kesakitan.

“Apa kau lakukan? Lakukan pertolongan, palli.” Ucap Sooji pada Myungsoo.

Myungsoo memeriksa setiap bagian tubuh Nickhun, dia membuka rancelnya kemudian mengambil Stetoskop dari dalam sana. “Detak jantungnya tidak berfungsi normal. Ada tembakan diarea dada, dan dia juga kehilangan banyak darah.” Jelas Myungsoo.

“Maka kau harus mengeluarkan peluru itu lalu menghentikan pendarahan.” Sooji menatap Myungsoo.

“Tidak disini. Tempatnya tidak higenis, itu hanya akan membiarkan bakteri masuk kedalam tubuh Kakakmu.” Jawan Myungsoo.

“Gunakan cara apa saja. Kim Myungsoo, aku mohon.” Sooji menangis.

“Maksud Myungsoo, dia mungkin bisa melakukan penangan sementara tapi tidak sampai kita tiba di Korea Selatan.” Ucap Nickhun sangat pelan.

“Oppa, tetaplah diam. Setidaknya kita harus berusaha Myungsoo, itulah tugas Dokter.”
Sooji dan Myungsoo saling berpandangan untuk beberapa saat. Ya, apa gunanya Myungsoo menjadi seorang dokter jika dia tidak bisa menolong kakak kekasihnya. Seorang pasien sedang sekarat didepannya, Myungsoo tidak mungkin meninggalkan dia. Terlebih pasien ini adalah orang tersayang Sooji.

Myungsoo mengeluarkan pisau bedah dan beberapa peralatan yang bisa dia gunakan. “Aku tidak punya Anastesis jadi ini akan sangat sakit.” Sang Pria memakai sarung tangannya, mengambil pisau kecil lalu melakukan sayatan pertama.

“AAAAAA” Jerit Nickhun sangat keras. Myungsoo mengangkat tangannya, dia tidak percaya diri apakah proses ini akan berjalan baik.

“Tetap fokus.” Sooji dari samping.
Myungsoo kembali meletakan tangan diatas kulit Nickhun, satu tangan digunakan untuk menahan kulitnya agar tidak menghalagi pengliahatan sedang tangan yang lain memegang penjepit untuk mengambil pelurunya. Orientasinya adalah mengeluarkan peluru itu sebelum benda tersebut naik mengikuti aliran darah sehingga sampai ke jantung.

“AAAAA.” Nickhun tidak berhenti menjerit kesakitan.

Srek. Srek.

Myungsoo dan Sooji menoleh ke asal suara, mereka saling bertukar pandang. Itu bukan hewan buas atau semacamnya, mereka yakin itu adalah suara langkah kaki pada tentara tadi. Myungsoo mencoba untuk tetap fokus pada operasinya, namun ketakutan itu tak bisa hilang begitu saja. Bulir keringat muncul dari dahi Myungsoo, tangannya mulai bergetar. Kepanikan menghampir Dokter muda ini, apalagi dia belum juga menemukan peluru ditubuh Nickhun.

“Myungsoo,,,” Sooji menarik langan Myungsoo. “Kau pasti bisa.” Mendapat keyakinan dari sang pujaan hati, membuat Myungsoo kembali fokus ke kegiatannya barusan.

Ada yang tidak beres. Seolma,, Mata Myungsoo membulat.Ia menganggkat tangannya dari dada Nickhun.
“Wae?”

Jantung Nickhun berhentu berdetak.

Tak menjawab pertanyaan Sooji, Myungsoo langsung mengemasi barangnya. “Apa yang terjadi pada kakakku?” Tanya Sooji lagi.
Myungsoo bangkit mengenggam tangan Sooji. “Myungsoo,, Apa ini? Kita meninggalkan kakakku?”

“Aku sudah berusaha menyelamatkan dia tapi aku bukan Tuhan.” Jawab Myungsoo.

“Ini salah Kim Mungsoo. Kita harus bawa kakakku juga.” Ucap Sooji sambil menangis.

“Sooji, ku mohon percaya padaku. Kali ini saja.” Myungsoo mendekap pipi Sooji yang sudah memerah. “Jangan buat aku menyesal karna tak bisa membawamu juga.”

Suara langkah kaki semakin dekat, “Jebal.” Mohon Myungsoo.

Myungsoo membawa Sooji dalam genggamannya, berjalan secepat yang mereka bisa. Badan serta wajah mereka nampak sudah lusuh.

Jalanan berbatu ini membuat mereka kesulitan berlari. Myungsoo menggenggam tangan Sooji semakin erat saat

Sooji hampir terjatuh karna tergelincir. Namun kesemibangan tubuh Myungsoo nampaknya tak berguna, Myungsoo dan Sooji sama-sama jatuh lalu menggelinding kebawah.

“Gwencaha?”
Sooji mengangguk, mereka mencoba berdiri. Belum sepenuhnya mereka mendapat keseimbangan para tentara tadi nampak semakin dekat dengan mereka.
DORR!! Myungsoo menarik Sooji dalam kedakapannya untuk menghindari tembakan tadi.

DORR!!

“AK!”

“Myungsoo!!” Sooji ikut menjerit, sebutir peluru berhasil menembus panggal kaki Myungsoo.
Suara corong kapal sudah terdengar, tanda kapal akan berlayar.
Myungsoo tetap menggenggam tangan Sooji sambil terus berlari, menghiraukan rasa sakit dikakinya, “Palli.”

 

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
A/N : Terlalu panjang jadi aku membaginya menjadi dua bagian. Part dua MUNGKIN akan dipost besok.
Jangan lupa komentar ya,,,

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

11 thoughts on “I’ll Go to You (Chapter 2a)

  1. semoga ajaaaa myungzy selamat yaaa thor kaburnyaaaa jangan sampe myungzy pisah 😦 di tunggu yaaa thor next partnya fighting thor 🙂

    Suka

  2. Suzy baru ketemu sama kakanya udah pisah lg,
    smg myungzy berhasil kabur,kasian mrk selalu tertekan di negra itu~~~~

    Suka

  3. seandainy klo q jdi myungsoo mngkn q bkl mksa zy eonnie g b’blk lghie.. .tpi klo q dposisi zy eonnie q bkl blk jua….so next…

    Suka

  4. akh—apa myungzy bisa lolos???? apa benar nickhun mati????? astaga—-bayangan cerita doctor stranger ga bisa ilang kalau baca ini (bnr2 mohon maaf ne Cahya Khosiah ssi…. tetap menunggu lanjutan semoga part B bisa mengubah alur pikirku..)..

    Suka

  5. huaa degdegan baca part ini,hiks khunnie andweyo ;( moga aja myungzy bisa keluar dari negara kejam tersebut.

    Suka

  6. Mudah2an Myungzy slmt sampai tujuannya
    Mkin seru

    Suka

  7. ffx menegangkn joah joah…

    Suka

  8. Akankah myungzy slamat. Ksihan nikum

    Suka

  9. Khun oppa wae?! 😮

    Myungsoo suzy 😥
    Hueee next izin baca

    Suka

  10. Haduhh ikut panikk badannya
    Please myung bbertahan semmoga mereka bisa.
    Sooji percaya mmyung. Palli lari lagi tinggaldikit 😓

    Suka

  11. Aduh… berat banget sih perjuangan mereka, Myung salut banget sama kau…
    semoga berhasil selamat…

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s