We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 2)

48 Komentar

Title : Waiting Outside the Line
Author : Cahya Khosyiah
Main Cast : Kim Myungsoo | Bae Sooji
Other Cast : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |
Original Cast : Yuna | Kim Sangbum |
Special Cast :
Pairing : Myungzy JJANG!
Genre : Romance, Married Life.
Rate : 18+
Disclaimer : Bae Suzy masih pacar Lee Min Ho, Myungzy hanya sebuah fiction (berharap menjadi nyata). Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Bila ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.
Huruf tebal untuk flashback
R&R
/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
“Dia menghubungimu secara langsung, dia pasti serius. Jangan buat ayah malu dengan sifat sombongmu.”

“Aku tidak bersikap sombong ayah, aku mengatakan hal yang benar.” Sebentar,,, Sooji berhenti mengunyah sandwichnya. Ayahnya bilang ‘menghubunginya secara langsung’?

“Kau bilang kau ikut forum perjodohan.” Keterkejutan Sooji terbaca oleh Ayahnya. “Secara kebetulan dia juga ikut forum yang sama.”

Ya Tuhan, apa yang terjadi disini?
Salah sangka, datang terlambat, dan mengatakan kalimat buruk. Sebisa mungkin Sooji meyakinkan diri bahwa dia tidak bersalah namun tetap saja rasa bersalahnya tidak bisa leyap. “Haruskah aku minta maaf? Ck,, membuat repot saja.” Gumam Sooji.
~

“Kau sengaja memilih Bae Sooji supaya kita mendapat dana?”

Myungsoo diam. Moodnya buruk, masih kesal dengan perilaku sang gadis yang menurut Myungsoo terlalu sombong.

“Bagaimana dengan Soojung? sebaiknya kau bicarakan ini dengan Moonsoo.”

“Diam!” Bentak Myungsoo. Sungyeol langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Diam artinya tak membiacarakan hal ini lagi. Yang membuat Sungyeol penasaran, apa terjadi sesuatu tadi malam? Myungsoo ketahuan oleh Soojung atau Myungsoo ditolak?

“Keluarga seperti apa marga Bae itu?” Tanya Myungsoo.

“Aku pikir kau tak mau membicarakan Bae Sooji.”

“Ck. Jawab saja.”

“Sebenarnya pendapatan pribadi mereka tidak terlalu banyak, bahkan pengeluaran untuk gaji karyawan lebih besar dari pendapatan pribadi. Tapi Tn.Bae sangat dihormati dikalangannya jadi mereka cukup berpengaruh di dunia bisnis.”

“Bagaimana dengan putrinya?”

“Seperti yang ku katakan mereka sangat dihormati. Berbeda dengan orang lain yang suka masuk majalah, mereka justru menghindari media termasuk putrinya.”
Dari keterangan Sungyeol, Myungsoo sedikit mengerti orang-orang seperti apa keluarga Bae itu. Wajar jika sang putri bersikap sombong, dia hidup dilingkungan terpandang sejak lahir.

“Hyung,,,” Suara Moonsoo membuyarkan lamunan Myungsoo. “Kita dapat dana tambahan dari para inversor, Bagaimana?”

Sungyeol tersenyum menoleh Myungsoo. “Bagaimana apanya? Lakukan lebih dari yang mereka harapkan.” Ucap Myungsoo.
“Artinya kau mendapatkan hati sang putri, benarkan Kim Myungsoo?”

“Entahlah.” Jawab Myungsoo tak perduli.

“Yeobseyo,,” Myungsoo memberikan isyarat gerakan tangan agar Sungyeol dan Moonsoo keluar dari ruangannya.

“Aku berusaha menarik lebih banyak investor untuk berinvestasi diperusahaanmu. Anggap itu sebagai permintaan maaf dariku.”
Myungsoo memutuskan sambungan telfon begitu saja. Lima detik kemudian, Myungsoo kembali melihat ponselnya karna sebuah pesan teks masuk.
‘Sampai bertemu di pesta peluncuran’
Myungsoo tersenyum sinis, “Bae Sooji, kau benar-benar sesuatu.” Gumamnya.
~

“Lima menit lagi aku sampai dikantormu.” Ucap Soojung dari sebrang. Sudah menjadi kebiasaan Soojung datang ke kantor Myungsoo, mereka akan menghabiskan waktu istirahat siang bersama.

“Aku tunggu.” Timpal Myungsoo.

Masih sempat. Myungsoo akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum Soojung sampai di kantornya jadi sang kekasih tidak perlu menunggu dirinya terlalu lama. Saat Myungsoo tengah sibuk dengan file-file didepannya sebuah ketukan mengganggu kegiatannya.

“Ya.” Dengan terpaksa Myungsoo membiarkan orang yang mengetuk pintu tadi masuk. Myungsoo mendongakkan kepala, betapa terkejutnya dia saat mendapati wanita yang merusak harinya sedang berdiri didepannya.

“Anda kesini untuk menagih ucapan terimakasih.” Ucap Myungsoo tanpa basa-basi.

“Sebagian ia, sebagian tidak.” Sooji duduk disofa ruangan Myungsoo. Sedang Myungsoo melirik jengkel, dia belum –dan tidak punya niatan- mempersilahkan Sooji duduk. “Aku kesini karna kau memutuskan telfon dan tidak membalas pesanku.”

“Apa kau benar-benar tertarik padaku?” Myungsoo. Kenapa sebuah telfon menjadi sangat penting bagi sang gadis jika dia tidak menyukai Myungsoo.

“Seharusnya aku yang berkata begitu, mengingat kau memilihku sebagai teman kencan butamu.”

“Aku sibuk jadi pergilah.” Myungsoo malas berbincang lama-lama dengan Sooji.

“Kau butuh bantuanku?”
Myungsoo menutup dokumennya dengan kasar. Orang ini tidak bisa diusir secara halus ya? “Satu-satunya cara membantuku adalah dengan keluar dari ruanganku, Nona Bae yang terhormat.”

“Wae? Apa kau punya kencan lain?”
Myungsoo mengendus. Gadis didepannya ini memang sesuatu. Sombong, tidak peka, tidak tau malu. Myungsoo mengacuhkan Sooji. Dia keluar ruangan dan langsung masuk lift. Sooji yang memakai hag tentu saja tidak bisa menyamai langkah Myungsoo.

 

“Myungsoo,,” Soojung melingkarkan tangannya disela lengan Myungsoo. “Kita mau makan apa?”

“Mie Soba?” Tawar Myungsoo, dan Soojung pun mengangguk menujui ide Myungsoo.

“Kim sajangnim,,” dari belakang Sooji masih belum menyerah mengejar Myungsoo. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat seorang gadis menghelanyut manja lengan Myungsoo. “Ops,, mian.”

“Nugu?” Soojung menatap Sooji.

“Dia rekan bisnisku.” Jawab Myungsoo sebelum Sooji membuka mulut.

“Nde,,, rekan bisnis. Bae Sooji,,” Sooji tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
Soojung menanggapi jawabatan tangan Sooji dengan tersenyum juga, “Jung Soojung. Pacar Myungsoo.”

“Pacar?” Sooji membulatkan mata namun tidak ada ekspresi terkejut dari wajahnya atau lebih tepatnya Sooji menutupi ekspresi sesunggunya dengan tersenyum.

“Kajja,,” Myungsoo mengajak Soojung pergi.

“Kim Sajangnim,, sebagai sekertaris anda akan lebih baik jika saya pergi bersama anda.”
Soojung menatap bingung tadi mereka bilang rekan bisnis sekarang sekertaris.

“Sekretaris juga termasuk rekan bisnis.” Sooji mencoba menjawab keheranan Soojung. Banar kan? Sekretaris merupakan rekan bisnis.

“Tapi kami tidak terbiasa mengajak orang lain.” Ucap Soojung keberatan, dia menoleh Myungsoo yang tetap diam.

“Anda tau jika peluncuran sebentar lagi, banyak hal yang harus kita bicarakan.” Myungsoo tak punya niat sdikitpun menanggapi ucapan Sooji. Apa untungnya Sooji membuntuti mereka? Terserah. Meskipun Myungsoo menolak Sooji pasti mengungkapkan lebih banyak alasan agar dia bisa ikut.

“Kalau begitu baiklan.” Soojung akhirnya menyerah.
Sebuah pesan mengintrupsi Sooji agar tidak masuk ke dalam mobil Myungsoo. Dia membaca isi pesan tersebut.

“Maaf sepertinya saya ada urusan mendadak.”
Soojung semakin dibuat heran oleh Sooji, tadi dia ngotot ingin ikut lalu tiba-tiba pegi begitu saja.

“Dia mau kemana?” Soojung mengamati Sooji yang masuk ke dalam mobil sport warna kuning kemudian menjalankan mobil tersebut melewati mobil Myungsoo. Dari penampilan dan kendaraanya, tidak menggambarkan statusnya sebagai sekertaris.

“Mungkin bertemu pacarnya.” Jawab Myungsoo jutek. Soojung menoleh Myungsoo aneh, seperti ada siratan tidak suka dari nada ucapan Myungsoo.
~

Minho sedikit tersentak saat dua tangan merangkulnya dari belakang. Dia tersenyum, menarik sang pemilik tangan tersebut duduk disampingnya. Minho sedang menistirahatkan diri dipinggir lapang sampai kekasihnya datang.
Sooji ikut duduk didasar lapangan. Minho mengambil handuk kecil dan menutupi paha Sooji yang terekspos.

“Udara cukup dingin.” Cengir Minho.

“ch,,” Sooji berdesis.

“Mencintaimu artinya aku harus hidup melajang kan?” Minho tersenyum, namun Sooji tau ekspresi itu bukan ungkapan hatinya.

“Choi Minho.” Sooji mengenggam tangan kekasihnya. “Mari saling mencintai, memberikan cinta, dan menerima cinta sampai batas kita bisa melakukannya.”
Hanya ini yang bisa mereka lakukan. Saling memberi dan menerima, tidak untuk memiliki. Choi Minho dan Bae Sooji adalah takdir yang sudah diketahui.

“Ku rasa aku tak bisa hidup tanpamu, Bae Sooji.”

“Kalau begitu datang ke rumahku dan bawa aku pergi.” Balas Sooji. “Kita tidak perlu persetujuan ayah. Cukup katakan kita akan hidup bersama.”

“Heeh, aku tidak yakin aku bisa melakukannya.”
“””””””””””””””””””””””””””””””’””””””””””””””””””””””””””’

Orang-orang mulai memenuhi gedung pesta, yang datang ke acara ini bukan hanya tamu undangan namun juga wartawan dan media televisi lokal. Malam ini, malam peluncuran brand kosmetik Kim Kingdom. Perusahaan yang dikenal tak penah main-main dengan proyek mereka.

Gadis itu datang, Bae Sooji. Dengan gaun panjang yang memperlihatkan pundak putihnya, Sooji melangkah anggun mengahampiri Myungsoo. One peace tapi dengan warna berbeda, dibagian atas berwarna putih dengan corak garis hitam, sedang bagian bawah berwarna hitam berkilau. Rambut sebahu yang dibiarkan terurai membuat Sooji nampak semakin cantik dan elegan, walau sebenarnya dia juga tampak elegan dengan apapun yang ia kenakan.

“Hi,,” Sapa Sooji lebih dulu.

“Aku kira kau datang bersama pacarmu.” Myungsoo bermaksud menyindir.

“Pacarku terlalu miskin untuk dibawa ke acara seperti ini.” Ucap Sooji.
Myungsoo tersenyum miring. Bae Sooji memang sesuatu. “Karna itu kau mencari suami kaya?”

“Aku juga tidak akan menikah dengan orang sembarang kaya. Aku punya kualifikasi tertentu.” Sooji meneguk minuman di tangannya kemudian berkata lagi, “Nampaknya kau sangat mencintai pacarmu,, Jika kau sudah punya pacar sebaiknya kau menolak perjodohan ini.”

Myungsoo tersenyum miring, dia tau itu yang diharapkan Sooji. “Kenapa tidak kau saja yang menolaknya, kau juga sudah punya pacar.”

“Sejak kecil aku tidak pernah membangkang ayahku, begitulah caraku dididik.”
Percakapan mereka harus berhenti karna kedatangan sepasang laki-laki dan perempuan, dua orang itu tiba-tiba menjadi pusat perhatian pesta. Sama seperti yang lain, Myungsoo juga Sooji ikut terkejut.

“Apa yang dia lakukan,,,” Geram Sangbum. Moonsoo datang bersama seorang wanita yang sama sekali tidak dikenal dalam dunia bisnis. Dalam bidang ini, mereka saling mengenal satu-sama-lain. Pewaris, Presiden, chaebol, wajah mereka seolah menempel dikepala masing-masing.

“Itu adikmu kan? Siapa wanita disampingnya?”

“Pacarnya.” Jawab Myungsoo ikut geram. Tidak masalah jika adiknya mau menikah dengan wanita biasa namun haruskah dia datang ke pesta dan mengahancurkan acara peluncuran. Waktunya tidak tepat. Bodoh! Ingin rasanya Myungsoo mengeluarkan sumpah serapah pada sang adik.

“Wah, adikmu punya keberanian tinggi. Tidak seperti kakaknya.” Sindri Sooji.

Melihat kondisi pesta yang mulai tak kondusif, Sangbum maju meminta perhatian. “Hari ini adalah hari yang berbahagia untuk kami.” Ucap Sangbum. “Selain peluncuran brand kami, saya juga ingin mengumunkan sesuatu. Hari ini akan dilaksanakan pertunangan putra saya.”
Myungsoo terkejut dengan ucapan sang ayah. Ayahnya dengan mudah merestui hubungan Moonsoo dan pacarnya? Dia tahu ayahnya pasti merasa malu tapi tidak perlu menutupi dengan melakukakan hal seperti ini kan?

“Putra-putri kami, Kim Myungsoo dan Bae Sooji.”
Myungsoo lebih terkejut dari sebelumnya. Apa ayahnya baru saja menyebut namanya dan gadis disampingnya ini? Tak beda jauh dengan Myungsoo, Sooji juga ikut terkejut. Sooji tau hal ini akan terjadi tapi,,, sekarang? Benar-benar sekarang?!!

“Itu artinya kita disuruh naik keatas podium.” Ucap Sooji yang tersadar lebih dulu.

“Artinya kita harus bergandengan tangan.” Myungsoo menarik tangan Sooji yang berjalan didepannya.
Myungsoo dan Sooji naik keatas podium sesuai intruksi Sangbum -ayah Myungsoo-. Dan para tamu pun mulai mengabaikan Moonsoo dan kekasihnya, mereka lebih fokus pada pasangan yang baru diresmikan bertunangan, Kim Myungsoo dan Bae Sooji.

“Tersenyumlah. Pacarmu mungkin sedang melihat fotomu lewat berita online.” Bisik Sooji dengan senyum palsunya.
~

Sooji menarik Myungsoo dari keramainan, mencari tempat yang lebih sepi. “Kau sudah gila? Apa yang kau katakan pada ayahmu?”

“Kau berharap aku mengatakan apa?”

“Kim Myungsoo! Aku serius.” Ucap Sooji kesal.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan kepada semua orang bahwa kita punya hubungan dengan datang kesini.” Ucap Myungsoo santai.

Sooji memegang kepalanya, sadar kesalahannya sendiri. Kim Kingdom adalah kalangan konglomerat, apapun yang mereka lakukan pasti menjadi pusat perhatian. Termasuk kabar kecan buta Myungsoo bersama dirinya. Dan Sooji tidak berfikir sampai sana, Sooji hanya merasa harus datang sebagai C&P untuk project ini. “Aku benar-benar gila.”

“Kau mau kemana?” Tanya Myungsoo melihat Sooji yang hendak meninggalkan pesta.

“Pacaraku bukan seperti pacarmu yang akan menutup diri dirumah selama seminggu.”
“”””””””””””’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Dan benar kata Sooji. Sudah seminggu ini Soojung tidak bisa dihubungi, sang gadis juga tidak membukakan pintu rumah untuk Myungsoo saat Myungsoo berkunjung. Dia sudah tak tau lagi bagaimana membujuk Soojung. Myungsoo bahkan tak menemukan Soojung di sekolah tempat ia bekerja.

Kedatang Sangbum ke ruangan Myungsoo, memaksa ia untuk mengabaikan sejenak tentang Soojung. Myungsoo menunduk memberi salam singkat.

“Ini proposal pernikahanmu.”
Proposal pernikahan? Myungsoo membuka lembaran demi lebaran data yang diberikan Sangbum.

“Perjanjian pranikah dan lain-lainya.” Ucap Sangbum pada anaknya.
Myungsoo tau ‘Perjanjian pranikah’ biasa terjadi di dunia bisnis tapi dia tak berharap ini terjadi pada kehidupannya. Sudah cukup baginya menikah bukan dengan gadis yang ia cintai, Myungsoo ingin menikah normal.

“Pelajari, setelah kau tanda tangan kirimkan pada keluarga Bae.”

“Aku tidak mau.”
Sangbum menatap tajam putra sulungnya.

“Ayah berharap pernikahanku berakhir dengan perceraian?”

“Hanya untuk berjaga-jaga Myungsoo.”

“Walaupun aku tidak bahagia atau kami akan saling menyakiti, aku tidak akan bercerai.” Ucap Myungsoo penuh keyakinan. Sangbum mengerti pemikiran Myungsoo, sama seperti dirinya. Ayah Myungsoo bahkan tidak mencoba mencari pengganti Ibu mereka, padahal dulu mereka juga menikah karna perjodohan.

“Jika itu maumu. Bicarakan dengan Sooji juga.”lalu Sangbum meninggalkan Myungsoo.
Gadis itu, Bae Sooji. Lucu sekali. Apa benar mereka bertunangan? Setelah kepergian Sooji di malam pertunangan –dadakan- mereka Myungsoo maupun Sooji tidak berusaha mengubungi satu sama lain. Myungsoo sibuk dengan Soojung dan Sooji,,, entah apa yang sedang gadis itu lakukan. Mungkin dia sedang memomohon kepada ayahnya agar membatalkan pernikahan atau justru Sooji sudah kabur bersama kekasihnya.

Myungsoo mencari kontak nama Sooji lalu menekan icon call.

“Ya,,” Suara Sooji. Diluar dugaan Myungsoo, Sooji terdengar baik-baik saja.

“Aku sedang membaca peranjian pranikah.”

“Kirimkan kembali jika kau sudah mendatanganinya.” Dari ucapan Sooji, Myungsoo baru tahu jika perjanjian itu diajukan oleh pihak Sooji.

“Aku bilang melihatnya bukan mendatanganinya.”

“Kalau begitu cepat tandatangani. Ya Tuhan,,, kau menghubungi ku untuk hal yang tidak penting?” Myungsoo menelan ludahnya dengan susah payah, kesombongan Sooji tidak tertandingi.

“Aku tidak mendatanganinya. Kita menikah dengan cara normal.”

“Baiklah.” Jawab Sooji enteng.

“Kita harus bertemu untuk menentukan tanggal.”

“Aku sibuk sampai pertengahan bulan september,,,” Ucap Sooji. “Sebentar,, hari rabu minggu pertama jadwalku kosong. Kita adakan pesta pernikahan pada hari itu. Untuk lain-lain serahkan saja AO.”

Jika dipikir ulang ada untungnya juga Sooji punya sifat yang sombong, ia tidak akan perduli dengan apa yang dilakukan Myungsoo jadi Myungsoo bisa tetap memantau Soojung walau mereka sudah menikah.
Soojung adalah gadis yang rapuh, berbeda dengan penampilan luarnya yang terlihat tangguh. Soojung hidup sebatang kara semenjak SMA, membayangkan bagaimana sulitnya hidup Soojung, membuat Myungsoo merasa dia bertanggung jawab atas hidup Soojung.
~

“Soojung,, tolong denngarkan aku.” Myungsoo menarik paksa lengan Soojung, berharap Soojung mau mendengarkan penjelasan Myungsoo. Segala cara akan diupayakan Myugsoo untuk bertemu Soojung, termasuk membobol pintu rumah sang gadis seperti yang dilakukan sekarang.

“Aku baru tau sekretaris artinya calon tunangan.”

“Itu,,,”

“Tidak yang perlu dijelaskan. Pertunanganmu sudah terjadi.” Soojung memotong ucapan Myungsoo.

“Setidakkan biarkan aku melakukan pembelaan.”

“Aku sadar posisiku,,,” Soojung membuang muka, agar air matanya tidak dilihat oleh Myungsoo. “Ayahmu kemarin datang.”

“Mwo?!” Myungsoo membulatkan mata. Selama ini Myungsoo yakin tlah bersikap hati-hati, mengupayakan agar sang ayah tidak mengetahui hubungannya dengan Soojung. “Gwenchana?” Tanya Myungsoo khawatir. Ayah Myungsoo pasti mengatakan hal-hal buruk pada Soojung.

“Berhenti menemuiku. Sejujurnya kalian membuatku muak.” Soojung menarik tangan Myungsoo, menuntun dia keluar dari rumah sederhannya.

“Kau dimana?” Tanpa melihat nama kontak, Myungsoo juga sudah tau bahwa ini suara Sooji.

“Kau tidak perlu tau.” Myungsoo memutup telfon begitu saja. Matanya kembali menerawang pintu kayu yang mulai usang. Dibaling sana, Myungsoo yakin Soojung pasti sedang menangis.
~

Sooji melajukan mobilnya mengikuti titik merah dilayar ponselnya. Tidak butuh waktu lama untuk Sooji bisa menemukan Myungsoo. Sang pria sedang berdiri bersandar pada mobilnya sambil menatap kosong obyek didepannya.

“Kau sedang berusaha melubangi pintu dengan tatapanmu?”

“Dari mana kau tau aku ada disini?” Myungsoo terkejut melihat Sooji.

“Kau pikir aku bodoh? Tentu saja menggunakan GPS.”

“Pergilah aku sedang sibuk.” Ucap Myungsoo ringan.
Sooji menahan pintu mobil Myungsoo, “Ayahmu menyuruhku untuk menemuimu tapi kau sibuk merayu pacarmu. Aku merasa seperti bola yang ditendang kesana-kemari.”

“KYA! Bae Sooji! Apa yang kau lakukan?!”

“Tarawa!!!” Untuk kekuatan seorang wanita Myungsoo sangat terkejut, bagaimana bisa dia tak berkutit saat Sooji menarik kerah kemejanya.

Myungsoo hanya bisa mentap Sooji dengan tatapan tak percaya. Sang gadis sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. “Jika kau ingin mati jangan ajak aku.” Ucap Myungsoo.

Sret,,, tubuh Myungsoo mencondong ke depan karna Sooji mengerem secara tiba-tiba. “Keluarlah!” Perinta Sooji.

Myungsoo menoleh keluar mobil. Gadis ini pasti bercanda, dia menurunkan Myungsoo dijalan bebas hambatan? Mana ada kendaraan umum yang lewat sini? “Keluar sebelum aku kena tilang. Kekuatan cinta bisa mengalahkan apapun kan? Atau,,, kau sengaja ingin berlama-lama denganku?”

Sesuai rencana Sooji, Myungsoo turun dengan penuh kemarahan

“Kau pikir siapa dirimu, berani mempermainkan aku.” Dumel Sooji kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Myungsoo
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Dihari berikutnya Soojung mengajak Myungsoo bertemu untuk bicara baik-baik. Entah apa yang ingin dibicarakan Soojung tapi jujur apapun itu Myungsoo sangat senang. Ia senang akhirnya Soojung mau menemuinya.

“Kau datang.” Gurat kesedihan terpancar jelas diwajah Soojung.

“Terimakasih sudah mau menemuiku.” Ucap Myungsoo tersenyum.
Soojung menyerahkan seuntai kalung dengan bandul cincin. Myungsoo memberikan kalung itu saat menyatakan cinta pada Soojung, dia berjanji akan memasangkan cincin itu saat mereka menikah.

“Mereka milikmu.”

“Aku sudah tidak berhak untuk ini. Kita bukan lagi,,,”

“Sudah ku tebak kalian pasti disini.” Seorang wanita dengan senyum tanpa dosanya duduk disamping Myungsoo tiba-tiba. Myungsoo meneyerit terkejut, kenapa gadis ini ada disini?

“Kau,,,” Gumam Soojung nyaris tak terdengar.

“Kita pernah bertemu sebelumnya kan?” Sooji tersenyum ramah pada Soojung, sangat ramah. Namun Myungsoo tau itu bukan senyum tulus, dibalik senyum itu pasti ada niat buruk. Pikiran Myungsoo melayang pada kejadian kemarin saat Sooji meninggalkan dirinya di jalan tol, membuatnya harus berjalan 1 kilometer untuk mendapatkan taxi.

“Tunangan Myungsoo, Bae Sooji imida.” Tebakan Myungsoo sangat tepat, Sooji sengaja ingin menghancurkan moment Myungsoo bersama Soojung.

“Aku tau. Kalian sangat serasi di surat kabar.” Soojung.

“Benarkah? Padahal aku tidak suka fotoku dipajang sembarangan.”

“Kau bilang kau sibuk sampai pertengahan bulan september.” Sindir Myungsoo, maksudnya Myungsoo merasa tidak ada pertemuan lagi kecuali hari pernikahan. “Kita bicara nanti, sekarang pergilah.” Myungsoo mengusir Sooji.

“Em,,” Sooji menggeleng. “Uri Ahbonim menyuruh kita fitting baju lalu pergi berkencan. Aku ingin menonton opera.”

“Kalau begitu aku pergi. Semoga kencan kalian menyenangkan.” Soojung meninggalkan Myungsoo bersama Sooji padahal Myungsoo belum mengatakan hal yang ingin dia ucapkan.
~

 

“Putar balik.”
Myungsoo menyerit, “Bukankah kita akan fitting baju?”

“Ukuran tubuhku tidak mudah berubah jadi tidak perlu diukur ulang.” Sifat asli Sooji muncul. “Aku ingin menonton opera saja.”

Myungsoo memutar arah mobilnya sesuai permintaan Sooji. “Ku pikir hubungan kalian tetap berjalan dengan baik.”

“Tentu. Sudah ku bilang, pacarku tidak seperti pacarmu.” Sooji diam sejenak. “Dan itu membuatku kecewa.” Lanjutnya.

“Kenapa kau tak pergi dengan pacarmu saja?”

“Ku pikir aku harus menghilangkan kebiasaanku bergaul dengan orang miskin.” Sekarang giliran Sooji yang menyindir Myungsoo.

“Berhenti.” Titah Sooji. Myungsoo menghentikan mobilnya didepan sebuah butik.

“Kau tidak membukakan pintu untukku?”
Myungsoo mengendus tak percaya. Gadis sombong banyak maunya. Ingin rasanya Myungsoo memprotes Sooji namun dia tidak dalam mood baik untuk berdebat.

Sooji masuk kedalam butik diikuti Myungsoo dibelakangnya. Sooji terlihat memilah-milah beberapa gaun disana.

“Tidak ada yang aku mau. Ayo ketempat lain.”
Myungsoo tak banyak membantah, dia tau jika Myungsoo membantah Sooji pasti akan mengatakan atau melakukan hal yang lebih buruk.
~

“Disini juga tidak ada.” Sooji keluar dan masuk dari toko satu ke toko yang lain, sudah empat toko yang mereka datangi dan Sooji belum juga mendapat apa dia inginkan. Myungsoo tau Sooji sedang mengerjainya atau sang gadis ada masalah dengan kekasihnya, namun kali ini Myungsoo benar-benar sudah tidak tahan.

“Berhentimelakukan hal konyol. Tidak hanya kau yang muak dengan pernikahan ini.” Myungsoo menarik lengan Sooji.

“Melakukan apa? Aku hanya mencoba membuat kita dekat.”

“Dekat? Dengan bersikap seenaknya.”

“Kau tau apa yang membuatku kecewa?” Sooji menatap mata Myungsoo. “Bukan karna kau sudah punya pacar, atau kau tidak menyukaiku. Tapi karna kau bersikap seolah kau orang yang paling menderita dengan pernikahan ini.”

“Apa maksudmu?” Myungsoo menatap tajam mata Sooji.
Sooji balik menatap mata Myungsoo tak kalah tajam, “Berhenti menangis dan lakukan sesuatu.” Seketika Myungsoo langsung melepaskan genggamannya.
~

“Berhenti menangis dan lakukan sesuatu.” Ucapan Sooji terus terngiang ditelinga Myungsoo. Artinya mereka menikah atau tidak tergantung keputusan Myungsoo. Sooji bilang dia tak bisa membantah kemauan ayahnya, namun Myungsoo bisa melakukannya karna Myungsoo seorang laki-laki. Yang jadi masalah siapkah Myungsoo menerima konsekuensinya?

Myungsoo menatap lagit-langit kamarnya.

Berita pertunangan sudah tersebar. Jika dia membatalkan pertunangan akan sulit bertahan di dunia bisnis mengingat dia dari keluarga Bae yang disegani. Namun jika dia menerima pernikahan begitu saja artinya Myungsoo akan menjalani hidup dengan kepura-puraan.

Myungsoo mengambil ponsel dari atas meja. “Ayo menikah.” Hanya dua kata, Myungsoo langsung menutup sambungan mengabaikan teriakan gadis diujung sana.
///////////////////////////////////////////////////////////////////////
A/N : Ide ceritanya dangkal bgt jadi klo ga suka ga usah baca. Aku udah penringatin dari awal loh ya,, 🙂
Project kali ini lebih fokus ke L dan Suzy atau L bersama Suzy jadi mohon dukungannya. 🙂

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and Wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

48 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 2)

  1. suka sama karakternya suzy…
    yg diajak nikah sama myung itu suzy kan…
    suzy sama minho udah putus belum ?

    Suka

  2. Nah loh myung ngajak nikah.
    haha memang susah ditebak myung ih.
    Heol~ suzy terima aja deh kkk
    Fighting

    Suka

  3. Aigoo myung penuh kejutan tadinya selalu jutek tapi sekarang langsung aja bilang ayo menikah…….
    Aishh penasaran kalau myungzy menikah gimana ya….
    Next

    Suka

  4. suka sama krakter myungzy,yg udah punya pcr tp ttp realistis…

    Suka

  5. Yaampun disini karakter suzy susah ditebak, aku suka critanya hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  6. waw suzy sama myungsoo nikah.. semoga lama” timbul rasa cinta di antara mereka

    Suka

  7. Benerkan myungzy dijodohinn..
    kasian soojung ama minho ya harus berkorban..
    myung malah maunya nikah aja. Emg sih pilihannya sulit. Disisi lain suzy kasian juga tapi dia ga bisa apa apa.. aaaaaa… kasiaaan semuaaa

    Suka

  8. “Ayo menikah”….”yooooo” wakakakkk..myungzy nikah ja lah pusing palaku liat mereka cek cok wkwk

    Suka

  9. Izin baca thor…bagus kok thor,aku suka semuanya dari kata2,cerita..semuanya keren.semangat thor

    Suka

  10. gatau jalan pikiran merekaaa

    Suka

  11. Egois dan serakah juga myung ketika dia bilng ayo menikah. Buln karna ccinta tpi karna takt ga bertahan di dunia bisnis?
    Whay? Q ragu klo myung mencintai soojung

    Suka

  12. Hemm, myung bner” penuh kejutan,. Penasaran dgn keadaan minho gmana,

    Suka

  13. Sikapnya suzy tegas banget. sallut!
    pengin banget denger suara hatinya suzy, disini yang terlihat hanya perasaan Myung yg cinta sama Soojung dan tak rela untuk ngelepas Soojung karna Soojung jg orang yg hidup dg riwayat penderitaan, tapi mirisnya Myung mempertahankan pernikahan itu hanya buat bisnis semata?
    Bagaimana kelanjutan keluarga ntar?
    Kasih Suzy pov thor…. suzy tegas diluar apakah hatinya setegas itu?

    Suka

  14. ternyata aku pernah ninggalin jejak pake email aku yang satunya ..
    lanjut ajja bacanya , berhubung email baru jadi komentar lagi ..

    Suka

  15. Aduuhh Suzy sulit di tebak sih

    Aiggooo ffnya kerenn
    Nwxt izin.baca

    Suka

  16. kirian bakal jatuh cinta duluan mereka. eh di paksa nikah ama orang tua masing2 alias dijodohin..
    sbnernya bingung suzy keknya tertarik ama myung deh kliatannya dia ga ambil pusing bgt waktu dijodohin ama myung, nasib choi minho gimana yaa suzy bahkan ga konfirmasi ke minho..
    next ya eon

    Suka

  17. Mereka berdua memang menyebalkan tp yang paling menyebalkan itu suzy, jinjaaa.. Aku tau dia bersikap seperti itu untuk mengalihkan..?

    Suka

  18. astaga mana ada orang ngajak nikah caranya kayak myungsoo *kkk
    aduh kasihan soojung pasti hatinya hancur berkeping”
    gimana dgn minho di gak apa” ya ?
    mendingan soojung sama minho
    next thor makin candu aja ini ff

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s