We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 4)

47 Komentar

Title : Waiting Outside the Line

Author : Cahya Khosyiah

Main Cast :  Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |

Original Cast : Yuna | Kim Sangbum |

Special Cast :

Pairing : Myungzy JJANG!

Genre : Romance, Married Life.

Rate : 18+

Disclaimer : Bae Suzy masih milik Lee Min Ho, Myungzy hanya sebuah fiction. Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Jika ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback

R&R

WOTL

///////////////////////////////////////////////////////////

Setelah perbincangan singkat dengan detektif sewaannya, Sooji kembali masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Myungsoo sedang fokus dengan leptop dipangkuannya.

“Siapa?” Sooji menyerit, Myungsoo bicara dengan dirinya? “Teman.” Jawab Sooji singkat.

“Kenapa menghindar?” Sooji menatap Myungsoo semakin heran, Myungsoo lebih terdengar seperti sedang menginterogasi dari pada bertanya.

“Aku hanya tidak mau kau sakit hati mendengar pembicaraanku. Sesungguhnya banyak yang menginginkan aku.” Sooji nampak naik ke atas kasur dan merapikan bantal.

“Jadi kenapa kau tidak memilih salah satu dari mereka?”

“Aku sudah memilihmu.” Jawab Sooji. “Karna kau kaya dan kau tidak akan bersikap ceroboh. Kupikir pernikahan ini tidak akan merugikan bagi kedua belah pihak.”

Myungsoo menatap lekat sambil mendengarkan kalimat yang diucapkan Sooji. Bagi Myungsoo pernikahan ini adalah penentu hidupnya dan Sooji hanya mengangap pernikahan mereka sebagai kesepakatan bisnis. Sungguh luar biasa.

“Kau tidak jadi ke kantor?” Tanya Sooji heran melihat Myungsoo sudah berganti pakain.

“Aku membatalkannya.” Jawab Myungsoo seadanya.

“Kau bilang ingin tidur ruang ganti.” Ucap Myungsoo dengan mata fokus ke layar leptopnya.

“Aku belum merapikannya. Kenapa tidak ijinkan aku tidur disini semalam saja.” Sooji berbaring, menutup setengah tubuhnya dengan selimut. Selanjutnya mematikan lampu di atas meja sampingnya.

Namun tiga menit kemudian dia kembali bangun.

“Tidak bisakah kau mematikan leptopmu? Aku merasa silau.”

“Jika kau terganggu, pergi saja.”

Sooji mengendus, dia peniup anak rambut yang jatuh ke depan wajahnya. “Apa gunanya istilah ‘jam lembur’ jika kau masih mengerjakan pekerjaan di rumah?”

“Berhenti menggangguku.”

“Kau tau orang seperti apa yang pada akhirnya akan menyesal?”

Myungsoo melirik Sooji sebentar.

“Orang yang tidak menikmati hidunya yaitu orang-orang yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Sooji mengibaskan selimut dan pergi menuju ruang ganti.

Ucapan Sooji barusan membuat Myungsoo tak bisa lagi fokus pada pekerjaan. “Gadis itu!!” Myungsoo menutup kasar leptopnya.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

“Kapan kau akan ke rumah ayahmu. Ini sudah seminggu sejak pernikahan kalian.” Seperti hari biasa. Pagi sebelum Sooji berangkat kerja dia terlebih dahulu menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, minus Moonsoo. Ya. Sang adik ipar tlah keluar dari rumah ini sesuai keinginannya sendiri. Namun tenang  Moonsoo masih bekerja di Kim Kingdom.

Biasanya Sooji hanya memasak untuk sarapan pagi karna siang hari masing-masing anggota keluarga berada di kantor, dan malam hari jika pekerjaan Sooji tidak menumpuk. Sooji sebisa mungkin tidak mengabaikan tugasnya meski dia seorang wanita karir.

“Hari ini, setelah jam kerja.” Jawab Sooji. “Aku sudah menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah.”

“Kau sudah memberi tahu Myungsoo?”

“Saya pikir saya akan pergi sendiri, dia sibuk.”

“Aku memang sibuk tapi tidak ada alasan untuk tidak pergi ke rumah mertuaku. ” Sooji cukup terkejut melihat Myungsoo yang tiba-tiba ikut bergabung di meja makan, padahal dia sudah mengantisipasi agar Myungsoo tidak tau rencananya. “Seperti kata Sooji, kami akan pergi setelah jam kerja.” Sang pria membalas tatapan Sooji seolah berkata ‘memang kau saja yang bisa berakting?’.

“Ayahmu pasti merindukanmu mengingat kau anak satu-satunya. Kenapa kalian tidak menginap saja? Besok hari libur.”

“Kami butuh persetujuan appa untuk itu.” Jawab Sooji segera sebelum didahului Myungsoo.

~

~

“Kau sudah mencari agen periklanan?”

“Sungyeol akan segera mendapatkannya.” Jawab Myungsoo atas pertanyaan Sooji.

“Aku harus bertemu mereka segera. Besar kemungkinan mereka akan berperan dalam promosi di luar korea juga.”

“Mungkin kau harus menghubungi mereka sendiri.” Balas Myungsoo.

“Tidak perlu. Kapan kita akan melakukan pertemuan dengan mereka? Kita bisa menyampaikan ini saat pertemuan.”

“Minggu depan. Waktunya terlalu lama. Anda harus menjadwal ulang pertemuan.” Sooji menaikkan satu alisnya. Seorang pria dengan percaya dirinya masuk ke dalam ruangan Myungsoo dan Sooji tanpa permisi. Di Pabrik ini Myungsoo dan Sooji ditempatkan dalam satu ruangan karna perusahaan ini sebenarnya hanya digunakan untuk memprosuksi brand Kim Kingdom bukan sebagai kantor.

“Apa kalian benar-benar suami-istri? Jika orang melihat cara kalian berkomunikasi mereka akan berfikir kalian rekan biasa.” Ucap pria tadi.

“Siapa?”

“Dia Sungyeol.” Myungsoo menjawab pertanyaan Sooji.

“Hai! Aku Lee Sungyeol, sahabat Myungsoo. Ku harap kita juga bisa berteman.” Sungyeol memperkenalkan diri pada Sooji.

“Kenapa kau disini?” Myungsoo.

“Hanya ingin melihat perkembangan pasangan pengantin yang tak sempat bulan madu.” Masuk tanpa permisi dan sekarang dia juga duduk tanpa dipersilahkan. Ini hal biasa, Sungyeol adalah sahabat Myungsoo. Ingat?

“Sebagai wanita apa kau tidak menyesal tidak pergi bulan madu. Wanita biasanya paling suka dengan moment-moment seperti itu.” Kalimat Sungyeol ditujukan pada Sooji.

“Bulan madu hanya sebuah istilah untuk menghasilkan bayi, kami bisa lakukakan itu tanpa harus mencari tempat yang nyaman. Aggap saja aku wanita yang tidak biasa.” Jawaban Sooji sontak membuat Sungyeol menganga cukup lama. Perpaduan yang sempurna Myungsoo yang dingin bertemu Sooji yang bermulut tajam.

“Jika tak ada urusan lain sebaiknya anda pergi.” Ucap Sooji  pada Sungyeol. Sang pria menggerakkan matanya ke arah Myungsoo. “Sooji benar. Pergilah. Kau menggangu kami.” Oh,, sudah berapa hari Myungsoo tinggal bersama Sooji? Berapa lama Sungyeol tak bertemu Myungsoo? Nampaknya sang suami sudah terpengaruh sifat Istrinya.

~

 

“Hanya ini?” Myungsoo ikut membantu Sooji membawakan bungkusan yang akan diberikan kepada ayah Sooji.

“Tidak ada yang disukai ayahku selain tiram segar.”

Sooji bersama Myungsoo memasuki halaman rumah Keluarga Bae. Rerumputan hijau berbadu dengan pohon-pohon yang tingginya tak seberapa. Sooji menghirum udara sebanyak-banyaknya, menikmati oksigen yang ia rindukan.

Sementara Sooji masih menyalurkan kerinduannya, Myungsoo berjalan di depan. “Tn. Kim,,” Sambut wanita setengah baya.

“Kalian datang.” Walaupun dengan baju santai aura kewibawaan kepala keluarga Bae ini tetap tak bisa luntur. Belum sempat  Myungsoo memberikan salam pada sang pria, tiba-tiba Sooji berlari melewati suaminya langsung menghambur kepelukan sang Ayah. “APPA!!”

“Kau sudah 25 tahun dan masih menggunkan suara melengking itu? Kesopanamu hilang seketika.” Sooji melepaskan pelukannya lalu menunduk sekali tanda meminta maaf.

“Apa yang kalian bawa?”

“Myungsoo membelikan ayah tiram segar.”  Jawab Sooji sambil melirik Myungsoo yang nampak terkejut dengan jawabannya. “Aku mengatakan padanya bahwa Ayah suka tiram.”

“Benarkan?” Ayah Sooji mangut-mangut.  “Aku tidak butuh apapun kecuali kau menjaga putriku.”

“Tentu. Keluarga Myungsoo meperlakukan aku dengan baik jadi ayah tidak boleh khawatir.” Timpal Sooji.

“Karna mereka memperlakukanmu dengan baik , kau tidak boleh lalai sebagai menantu.”

“Aku selalu melakukan apa yang ayah pesankan.” Sooji tersenyum. Myungsoo hanya mendengarkan perbincangan ayah dan putri ini tanpa tau maksudnya.

~

 

“Kenapa kau bilang aku yang membeli hadiah untuk ayahmu? Apa menyindir adalah satu-satunya keahlianmu?” Myungsoo masuk ke dalam kamar lama Sooji. Sang gadis terlihat sedang memasukkan beberapa frime foto ke dalam kubus besar.

Sooji menghela nafas, dia berhenti pada foto yang menampakkan dua insan manusia. Mereka terlihat saling merangkul sambil memamerkan senyum kearah kamera. Dia memasukkan foto tersebut ke dalam tasnya bukan ke dalam kotak seperti yang lain. “Jadi aku harus bilang suamiku tidak perduli dengan orangtua istrinya? ,,, atau aku harus bilang suamiku meninggalkan aku saat malam pertema untuk tidur dengan waniat lain?”

“Apa maksudmu, dengan tidur bersama waniat lain?” Myungsoo mencium ada keslahpaham disini. “Aku benar-benar ke kantor.” jelas Myungsoo.

“Kau masih menganggap aku bodoh? Kau lupa siapa aku? Aku tau keadaan perusahaanmu, luar dan dalam.”

Memang benar saat itu pekerjaan Myungsoo tidak sebanyak itu namun ia berkata jujur. Dia benar-benar ke kantor bukan tidur bersama wanita lain seperti yang dipikirkan Sooji.

Myungsoo memeprhatikan Sooji yang terlihat aneh, ekpresinya tidak seperti biasa. Dia terlihat ,,, lemah.

Myungsoo menyerah menjelaskan pada Sooji. Tok percuma saja, dia tidak punya bukti dan Sooji lebih percaya bukti nyata daripada pemikiran.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Myungsoo penasaran. Sooji memasukkan beberapa barang ke tasnya dan lebih banyak barang ke kotak kubus. “Mengambil barang yang bisa dibawa dan menempatkan barang lainya ke gudang.” Jawabnya.

“Ini ibumu?” Myungsoo mengambil satu frime foto dari dalam kotak.

“Iya. Beliau cantik kan? Setiap bertemu teman ayah, mereka selalu bilang aku  mirip dengannya.”

Myungsoo mentap Sooji kemudian kembali menatap foto ditangannya. Memang mirip. Bisa dibilang Sooji adalah versi muda wanita ditangannya ini.

“Kenapa Ibumu meninggal?” Tanya Myungsoo tanpa canggung sedikitpun. Ia juga kehilangan ibunya, tidak perduli bagaimana pertanyaanmu  kenyataan tak akan berubah, itu juga yang dirasakan Myungsoo.

“Jika kau melihat keriput ayahku. Kau akan tau berapa umur ibuku saat melahirkanku.”

“Maksudmu ibumu,,,?” Myunsoo tak melanjutkan kalimatnya.

“Benar. Beliau meninggal saat melahirkanku. Butuh 20 tahun untuk mereka bisa mendapatkan bayi, jadi walaupun berisiko ibuku tetap membiarkan aku tumbuh dan lahir melalui rahimnya.” Terang Sooji, “Kau? Pasti sulit bagi ayahmu merawat dua anak laki-laki bandel tanpa bantuan seorang wanita. Bagaimana ibumu meninggal?”

“Meningitis” Myungsoo menjawab singkat. Bukan karna dia sakit hati tapi memang begitulah Myungsoo. Ingat?

Sooji terdengar mengela nafas, lagi. “Aku selalu berharap bisa sekali saja melihat wajah eomma secara langsung. Harapan bodoh.” Myungsoo hanya diam mendengarkan kalimat Sooji. “Satu-satunya harapanku adalah melihat wajahnya secara langsung.” Airmata menggenang di kelopak mata sang gadis.

“Bertahan selama dua puluh tahun kemudian merelakan hidupnya untuk melahirkan seorang bayi, dia pasti wanita yang kuat.” Myungsoo akhirnya memberi komentar.

“Heh,,” Sooji tersenyum miring. “Lucu sekali. Bagiku bayi tidak sepenting itu.”

~

 

“Kalian belum pulang.” Ucap Ayah Sooji ketika mendapati putri dan menantunya masih berada dirumahnya setelah jam makan malam.

“Setelah membereskan barangku, ayah.” Jawab Sooji turun dari tangga. “Kalau begitu kami pergi.”

“Eugre,, jangan bekerja terlalu malam karna kau sudah berkeluarga. Myungsoo, tolong bimbing putriku dan aku tunggu kabar gembira dari kalian jangan menunda kehamilan, mengerti?”

“Nde, Appa.” Sooji mengerti keinginan sang ayah. Diumur yang sekarang wajarnya ayah Sooji sudah bermain dengan cucu atau melihat cucunya wisuda dan menikah. Namun lagi-lagi sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, mempunyai anak setelah 20 tahun menikah saja sudah menjadi keajaiban.

“Ahbonim, jaga kesehatan anda.” Myungsoo membungkuk memberi salam perpisahan.

Ayah Sooji mengantarkan mereka sampai ambang pintu. Sang pria terlihat sangat rentan, dia mungkin bisa ambruk hanya dengan satu sembusan angin. Sebenarnya Sooji sudah meminta ayahnya untuk pensiun namun beliau bilang ia tidak mau menghabiskan masa tuanya dengan berbaring diranjang.

“Ku pikir kau akan menginap semalam disini. Ayah juga sudah menginjinkan.” Myungsoo memasang sabuk pengaman dan mulai menstarter mobilnya.

“Bagaimana bisa aku meninggalkan rumahku?”  Myungsoo sedikit terkejut melihat lengkungan bibir Sooji. Sang gadis tidak sedang berakting lagi kan? Seharusnya Myungsoo yang merasa tersanjung karena Sooji lebih mementingkan keluarganya daripada keinginnan pribadi.

~

 

Myungsoo memutar tubuhnya kebelakang, sedari tadi Sooji terus berdehem tak jelas. “Ada yang ingin kau katakan?” Sekali lagi hanya deheman Sooji yang ia dengar. “Tidak peka.” Gumam Sooji tidak terdengar di telingan Myungsoo.

“Katakan.”

Sooji berdehem lagi, “Kau,,,” Sooji terlihat ragu, “Kau,, Kenapa kau tidak suka aku? Aku tidak menarik? Maksudku, tubuhku jelek? Atau wajahku yang tidak cantik? Jika melihat tubuhku tanpa melihat wajahku, apakah aku menarik?”

Myungsoo tak menjawab, sesungguhnya dia tak mengerti apa maksud ucapan Sooji, gadis ini terlalu memutar-mutar kalimatnya.

“Ah! Lupakan.” Sooji mengibaskan tangan, masuk ke dalam ruang ganti. “Aku baru saja meminta dia meniduriku? Gila.” Sang gadis menghentak-hentakkan kaki.

“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Keesokan pagi,,,

Sooji keluar dari ruang ganti dengan masih mengenakan piyama murah mudanya, dia berhenti didepan pintu. Dilihatnya Myungsoo masih terlalap diatas ranjang, ini adalah pertama kalinya Sooji mengamati tidur Myungsoo, biasanya dia melewati begitu saja ranjang itu tanpa menghiraukan manusia disana. Myungsoo menyingkap sedikit selimutnya sehingga menampakkan setengah dadanya yang topless.

“Haruskah aku mencobanya?” Gumam Sooji. “Ibuku punya riwayat sulit mempunyai bayi, bagaimana jika aku juga iya?” Sooji menggerakkan kakinya maju, dia duduk disisi ranjang tanpa melepaskan pandangannya dari Myungsoo. Sedetik kemudian dahi Sooji mengkerut, dia segera bangkit seakan tersadar dari sesuatu. “Bae Sooji ingat siapa dirimu. Kenapa aku menjadi rendahan seperti ini?”

“Kenapa?” Sadar ada seseorang disampinya dia bangun, ekspresi wajah Myungsoo nampak tak perduli dengan kehadiran Sooji.

“Setengah enam. Lebih cepat bangun lebih baik.” Jawab Sooji langsung meninggalkan Myungsoo, sebelum sang pria menyadari sesuatu.

~

 

Wanita ini sedang sibuk dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tanggan. Sooji berhenti mengaduk panci ketika Myungsoo lewat didepannya. Ia mengamati gerak-gerik sang suami, mulai dari mengambil koran di ruang tamu sampai duduk di kursi makan.

Sooji berdecak kecil mengingat apa yang dia lakukan tadi malam dan pagi ini. Ini bukanlah dirinya. Sejak kapan Sooji mulai memikirkan orang lain? Lebih tepatnya perasaan orang lain. Ia memikirkan reaksi Myungsoo jika dia melakukan sesuatu atau sesuatu terjadi padanya.

“Ya benar. Hidup penuh keanggunan.” Guman Sooji pelan, namun sepelan apapun itu sepertinya seseorang disamping Sooji menyadarinya. “Kenapa nona berbicara sendiri?”

“Ye?!”  Sooji membulatkan mata. “Bukan apa-apa. Aku sedang bernyanyi.” Jawabnya sesantai mungkin.

“Nona pasti mengingat kejadian tadi malam.” Sooji menautkan alisnya, kejadian tadi malam? Kejadian apa?

“Ketika masa awal pernikahan saya juga begitu, saya sering mengingat perlakuan suami saya di sampai terbayang di pagi hari.”

“Ye?!” Sooji terkejut, dia mulai tahu arah pembicaraan Ajuhman-nya.

“Jadi nona tidak menggunakan ranjang baru? Itu keputusan yang tepat.” Sooji hanya bisa menggaruk tengkuknya sambil mangut-mangut tak yakin.

“Anda tidak memasak nasi gandum?”

Sooji menggeleng sambil tersenyum. “Ini hari minggu. Kupikir kita harus makan enak.” Wanita ini terlihat dimasukkan sup labunya ke empat mangkuk kecil.

“Apa tuan muda akan pulang?”

Sooji menggeleng, “Satu mangkuk untuk ajuhma. Orang yang pantas pertama kali mencicipi masakanku adalah ajuhma.” Sooji menggeser satu mangkuk ke depan wanita baya tersebut.

 

Dengan bantuan pelayan rumah Sooji menata semua masakannya diatas meja makan.

“Kau seperti orang kelaparan.” Duduk diruang makan selama lebih dari setengah jam, bukankah Myungsoo memang terlihat seperti orang kelaparan?

“Aku memang biasa duduk disini. Ruang keluarga kurang terasa nyaman.” Myungsoo menutup koran paginya, mulai fokus dengan hidangan yang disajikan Sooji.

“Bukan nasi gandum?”

Wanita ini selalu berhasil membuat sesuatu yang disentuhnya menjadi menarik. Sekarang didedap Myungsoo ada semangkuk sup labu yang sangat menggoda. Warna orange dari  warna alami labu tidak memudar sama-sekali, sehingga membuat semua orang yang melihat ingin segera menyetuhkannya dengan lidah, dan Myungsoo temasuk salah satunya.

“Setelah kepindahan Moonsoo kurasa kita butuh sedikit energi pembangkit. Walapun tidak bicara langsung, aku yakin ayah kepikiran dengan keadaan Moonsoo.” Jawab Sooji. Menurutnya makanan adalah salah satu cara untuk mengembalikan mood seseorang.

Myungsoo menatap intens wanita yang duduk disebrang meja. Sesuatu hal yang menyiksa adalah ketika kau sudah mengorbankan sesuatu tapi kau tetap tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dan itu yang sekarang dialami Myungsoo, namun disisi lain Myungsoo juga sangat bersyukur bahwa wanita yang ia nikahi adalah Sooji.

Kesalahan sedikit saja, mungkin keluarga Myungsoo sudah berantakan.

“Kalian dirumah?” Sebuah suara membuat Myungsoo kembali ke alam sadarnya.

“Sooji tidak mau menginap.” Jawabnya atas pertanyaan sang ayah.

“Kenapa?”

“Ayah tidak akan suka jika aku meninggalkan rumah suamiku dan menginap ditempat lain.” Sooji menarik kedua ujung bibirnya. “Appa menginginkan aku menjadi sosok seperti ibu.” Lanjutnya.

“Ya. Meskipun aku tidak pernah bertemu beliau secara langsung, aku dengar ibumu wanita yang baik.”

“Appa tidak akan menikahinya jika beliau bukan orang yang baik.” Balas Sooji.

“Ya. Kau benar.” Sangbung setuju dengan perkataan Sooji. “Itu juga berlaku bagi ku ada ibu Myungsoo.”

“Ngomong-ngomong,,, bagaimana kepribadian ibu mertuaku?”

Sangbum bergeming, “Ku rasa Myungsoo lebih bisa menjelaskan, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak tahu jika istriku sakit.”

Sooji terkejut. Dia mengalihkan padangannya pada Myungsoo yang sedang menunduk menyembunyikan wajahnya. Ayah Myungsoo tidak tau kalau istrinya sakit? Apa yang terjadi disini?

~

Sooji berhenti mengupas sendok dengan spons. Dia sedang membesihkan peralatan makan sampai perkataan ayah mertuanya tadi menganggu pikirannya. Suasana menjadi kaku setelah Sooji menyakan perihal Ibu Myungoo.

Sooji benar-benar tidak mengeti keluarga ini. Hal sekecil apapun sepertinya akan menganggu perasaan anggota keluarga.

 

Disisi lain,,, Myungsoo juga sibuk memperhatikan kegiatan wanita yang satu minggu lebih tlah menyandang status istrinya itu. Disela-sela kegiatannya Sooji terlihat riwuh dengan rambutnya yang terus turun kedepan.

“Seharusnya kau mengikatnya.” Ketidaknyamanan Sooji membuat Myungsoo tidah tahan untuk tidak menghampiri Sooji. Myungsoo menarik rambut Sooji dan menahannya dengan tangannya sediri, sedangkan Sooji sibuk melanjutkan kegiatannya.

“Aku tadi mengikatnya tapi talinya lepas.” Timpal Sooji menoleh ke belakang sebentar.

Sooji masih belum selesai  di dapur dan Myungsoo pun masih menahan rambut Sooji.

“Tentang ibumu,,,” Sooji membuka percakapan. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Ayah tidak menghadiri pemakaman ibu.”

“Bagaimana bisa?!” Sooji terkejut.

“Seperti yang kau dengar. Ayah tidak tau ibu mengindap penyakit meningitis.” Ucapan Myungsoo yang sepotong-sepotong membuat Sooji mulai merasa geram.

Keterangan Myungsoo menggelitik hati Sooji untuk bertanya, “Seumpamanya aku,,,” Sooji berhenti. Lagi? Sooji kembali berfikir tentang perasaan Myungsoo. Dia hampir bertnya apa yang akan dilakukan Myungsoo jika Sooji tiba-tiba pergi. Tidak ada gunanya. “Lupakan.”

“Jika kau meninggalkan rumah ini mungkin aku akan merasa menyesal.” Ucap Myungsoo diluar dugaan Sooji.

Sooji mengdongakkan kepalanya. Mereka saling menatap satu sama lain. Satu alis Sooji terangkat seolah bertanya ‘kenapa?’

“Sebagai seseorang yang menarikmmu ke dalam hidupku aku belum melakukan apapun untukmu.” Sooji cukup tersentuh dengan ucapan Myungsoo. Itu berarti Sooji orang yang dianggap oleh Myungsoo.

“Kau mau kemana?” Myungsoo mengarahkan dagunya ke bungkusan dimeja lain.

Sooji mengikuti arah Myungsoo, “Ke apartemen Moonsoo.” Jawabnya.

“Kenapa tidak bilang?”

“Apakah segala sesuatu yang kulakukan  harus bilang padamu?”

“Tentu saja.” Sooji berdecak ketika Myungsoo melepas begiru saja tangannya dari rambut Sooji. “Terlebih aku suamimu dan kau ingin mengunjungi adikku.”

“Jika maksudmu adalah ingin ikut serta, kau tidak perlu melakukannya .”

“Apa?!” Myungsoo menaikkan satu oktaf nada bicaranya. Tidak lagi, mereka –Myungsoo dan  Sooji- baru saja menemukan komunikasi yang baik.

Sooji membersihkan tangannya kemudian memutar tubuhnya menghadap Myungsoo. “Menurutmu Moonsoo keluar karna dia ingin bersama pacarnya?”

“Alasan lain kenapa dia keluar dari rumah adalah karna dia merasa bersalah padamu.” Ucap Sooji sebelum Myungsoo sempat menjawab pertanyaannya. “Berikan ayah dan adikmu padaku. Aku akan membuat Moonsoo kembali ke rumah dengan keinginannya sendiri.”

Myungsoo menelan kembali kalimat yang hendak dia keluarkan. Sebelumnya Myungsoo hanya ingin Moonsoo merasa tenang namun Sooji sudah sampai sana, dia bahkan berfikir untuk membawa Moonsoo kembali pulang. Myungsoo tersenyum lalu maju satu langkah. Mata Sooji membulat sempurna ketika tubuhnya membentur dada Myungsoo. Sooji bisa merasakan satu  tangan sang pria merengkuh penuh pundaknya.

Sooji mematung, jantungnya berdetak sangat keras. Oh, tidak. Sooji bahkan tidak tau jantung siapa yang sedang ia rasakan , Myungsoo atau Sooji?

“Terimakasih karna telah menjadi menantu di rumah ini.” Sooji masih mematung padahal Myungsoo sudah melapaskan pelukannya. Sang gadis mulai berangsur sadar dari kterkejutanya ketika menyadari ucapan Myungsoo. Dia bilang menantu,,, bukan istri.

/////////////////////////////////////////////////

 

A/N :  Maaf ya selalu telat ngepost. Ga usah diterangin kalian juga tau ini musim UTS, musin tugas, jadi mohon pengertiannya.

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and wait next chapter. Annyeooooong. 😀

WOTL

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

47 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 4)

  1. Aigoo suzy baik 🙂 si suzy keknya udh mulai suka sm myung cm ga nyadar hahaha

    Suka

  2. sprti nya udah ada ketertarikan ne dr keduanya….:-)

    Suka

  3. myungzy mulai ada2 something tuh….
    pling suka kalau mrk lg adu argument…kkkk

    Suka

  4. myung jngn bkin suzy eonni sakit hati klo smpe jngn hrap bisa lpas dr aq

    Suka

  5. Maksud perkataan myung yg menantu apa ya??

    Suka

  6. aaaa so sweet

    Suka

  7. suzy baik banget…
    suzy udah mulai ada perasaan sama myungsoo… myungsoonya gimana ?
    kenapa myung bilangnya menantu bukan istri ?

    Suka

  8. Myung knp ga peka bngt si sm situasi sekitar heh
    Sooji harus sabar
    Gmn sooji nikin kel ini bersatu nninya?

    Suka

  9. Wahh, gregetan bcanya,. Suzy kyaknya udah mulai trtarik dg myungsoo..

    Suka

  10. Huh.. hah.. hah…
    pedes, kayak abis makan cabe. haha
    Suzy nya dah respect ke Myungsoo, dan aku kira Myungsoo juga satu tahap lebih baik menerima kehadiran Suzy…
    semoga happy ending dah!

    Suka

  11. Huaaa Walaupun Arogan Suzy itu istri idaman wkwkwk
    Next izin.baca

    Suka

  12. suka bgt ff nya fokus ama suzy myungsoo jadi banyak myungzy moment nya..
    suzy am myung mulai ada rasa sepertinya 😍

    Suka

  13. Huuuuwwwwaaaaa
    Suzy sudah mulai merasakan tanda2 itu… jdi gak sabar baca lanjutannya …

    Suka

  14. Setiap aku komen pasti tentang sifat suzy, tapi aku beneran suka. Menurutku dia itu wanita yg hebat

    Suka

  15. astaga makis ke sini makin sweet
    gemes deh sama myungzy ayo dong janga kepikiran mantan terus
    keluarga mereka berduan sama” gak ada sosok seorang ibu
    ngomong” ayah myungsoo kok gak tau tentang penyakit istrinya?

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s