We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 5)

64 Komentar

Title : Waiting Outside the Line

Author    : Cahya Khosyiah

Main Cast :  Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |

Original Cast : Yuna | Kim Sangbum |

Special Cast : Lee Jieun |

Pairing        : Myungzy JJANG!

Genre          : Romance, Married Life.

Rate : 18+

Disclaimer : Bae Suzy masih milik Lee Min Ho, Myungzy hanya sebuah fiction yang akan menjadi nyata :D. Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Jika ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback 

R&R
WOTL

/////////////////////////////////////////////////////////////////////

Hari minggu di kediaman keluarga Kim. Seperti hari minggu biasanya, Myungsoo berkutat dengan layar leptop didepannya. Yang berbeda adalah perasaan tak tenang, takut tiba-tiba Sooji ada dibelakangnya. Myungsoo juga tidak mengerti kenapa ia sangat takut melihat Sooji marah, mungkin karna mulutnya yang tajam.

“Dimana Sooji?”

“Dia bilang ada urusan.” Jawab Myungsoo pada sang ayah. Matanya tidak sedikitpun terlaihkan dari leptop.

Sang istri sedang tidak ada di rumah. Kesempatan ini digunakan Myungsoo untuk mengerjakan perkerjaan kantornya. Myungsoo adalah tipe orang yang mudah bosan jadi ia butuh suasana baru untuk menyelesain satu pekerjaan, itulah kenapa ia suka sering membawa pekerjaan kantornya ke rumah.

“Sebaiknya ajak Sooji jalan-jalan ketika hari libur,  agar dia tidak pergi bersama teman-temannya.”

Myungsoo tertengun.

Pergi bersama teman-teman. Seharusnya hari libur dihabiskan untuk bersenang-senang, namun Sooji justru menghabiskan hari minggu untuk mengurusi masalah keluarganya. Myungsoo seharusnya membiarkan Sooji keluar dengan teman-temannya.

Teman?

Benar. Apa Sooji punya teman dekat? Saat pesta pernikahan juga tidak ada gadis seumuran yang mengobrol dengan Sooji. Jika dipikir lagi, wajar saja Sooji tidak punya teman, siapa yang tahan berteman dengan gadis bermulut tajam seperti Sooji.

“Aku akan menjemput Sooji.” Myungsoo menutup leptopnya.

“Untuk apa? Kau akan membuatnya malu. Pastikan saja hal ini tidak akan terjadi lagi.” Sangbum hendak  meninggalkan Myungsoo namun Myungsoo menghentikannya. “Ayah,,,”

“Bagaimana perasaanmu saat ibu meninggal?” Sesuatu yang tabu dibicarakan akhirnya keluar dari mulut Myungsoo. Selama ini Myungsoo menahan kalimat itu tapi dia tak bisa menahan dorongan itu ketika Sooji juga ikut bertanya kepada dirinya.

“Menyesal.” Jawab Sangbum. “Kupikir kau juga sudah bisa menebaknya.”

“Jika aku mengatakan sebelumnya bahwa ibu sakit, apa yang akan kau lakukan?”

“Kau merasa bersalah?” Sangbum dengan suara rendah. “Kalau kau merasa bersalah, jangan lakukan kesalahan seperti ayah. Seseorang akan terasa penting saat dia sudah tidak ada.”

“Yang membuat ayah semakin buruk adalah aku bahkan tidak bisa menjadi pria yang dipercaya ibumu sampai akhir.”

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

 

Myungsoo masuk kedalam kamar, dia sedikit terkejut ketika mendapati Sooji sudah ada di rumah. Apalagi Sooji sedang mengenakan  …

“Seharusnya kau mengunci pintu saat berpakaian seperti itu. Bagaimana jika ada pria tiba-tiba masuk.”

“Siapa pria dirumah ini? Hanya kau. Kau bilang kau tidak akan tertarik meski aku menari dengan tubuh telanjang.” Jawab Sooji tak peduli. Memakai piyama pink dengan hairdryer di tangan kanannya. Myungsoo menegang, menelan ludah ketika bulir-bulir air melewati leher Sooji.

“Aku sangat benci ketika kau pulang dengan keadaan rambut berantakan dan badan berkeringat.” Sooji berucap  tanpa menoleh pada Myungsoo.

Diam cukup lama. Myungsoo hanya mengamati gerak-gerik wanita didepannya. Pria ini maju lalu duduk dipinggir ranjang menghadap punggung Sooji.  “Hari minggu hari yang baik untuk lari sore.”

“Sekarang alasan apa lagi?” Ucap Sooji dengan nada sinis. “Lari sore dengan celana jeans? Kau punya selara yang buruk tuan Kim.” Sooji menggerakkan kepalanya ke kanan-dan-ke kiri membuat wajah Myungsoo terkena percikan bulir air dari rambut Sooji.

Sungguh demi apapun! Tiba-tiba muncul keinginan Myungsoo untuk membersihkan seluruh bagian tubuh Sooji dari bulir air.

Myungsoo memejamkan mata. Apa-apaan ini? Dia membuka majalah –entah apa judulnya-, mencoba mengalihkan pandangannya dari tubuh Sooji. “Bagaimana dengan Moonsoo?” Tanyannya.

“Dia punya bakat untuk menjadi orang miskin. Dia bahkan tau mana yang seharusnya dimakan saat pagi dan malam hari ketika tak punya uang.”

Myungsoo kembali menahan nafasnya. Biasanya dia akan merasa muak ketika Sooji mengakatakan kalimat kasar, namun sekarang justru Myungsoo merasa gemas dan ingin menerkam Sooji, mengigit bibir yang meloloskan kalimat itu.

“Terimaksih sudah berusaha untuk adikku.” Sejujurnya itu hanya sebuah kalimat agar Myungsoo bisa mengalihkan pikirannya dari tubuh Sooji.

“Aku melakukaanya untuk diriku sendiri.” Balas Sooji. “Membuatku tidak enak jika Moonsoo pergi setelah kedatanganku. Orang mungkin berfikir aku kakak ipar yang kejam atau ada scandal cinta antara kami.”

Pada sisi lain, ucapan panjang lebar Sooji seperti angin lalu bagi Myungsoo, karna pada kenyataannya Myungsoo memang tidak mendengar apapun padahal ia tidak tuli. Sang pria hanya melihat bibir Sooji yang bergerak pelan dari pantulan kaca.

Satu bulir air dipelipis Sooji turun ke bawah  langsung jatuh ke piyama pinknya. Kemudian, satu lagi bulir air yang turun melewati leher jenjang Sooji lalu menghilang dibalik piyama.

Demi Tuhan! Myungsoo ingin sekali menjali salah satu bulir air tersebut.

Menyadari tatapan intens dari Myungsoo, Sooji pun menoleh ke belakang. “Kau tidak pernah melihat waniat cantik? Atau tubuh kekasihmu tidak sebagus aku?” Sooji sengaja menurunkan sedikit piyamanya, mengekspos bahu putihnya.

Bahu Sooji yang sedikit terbuka membuat Myungsoo tak bisa menahan dirinya untuk tidak menghampiri Sooji.

“Myungsoo,,” Sooji memundurkan badannya ketika Myungsoo mencondongkan tubuhnya. Tatapan mata Myungsoo terlihat sangat liar, seperti hewan buas yang sedang kelaparan.

Dan entah kenapa itu membuat Sooji merasa takut.

“Aku juga pria normal Bae Sooji.” Myungsoo berbisik disela-sela leher Sooji.

Sooji mengigit bibir bawahnya ketika merasakan bibir Myungsoo menyesapi kulit lehernya. “Kau mengatakan apa yang ingin kau katakan tanpa bertanya terlebih dahulu.” Ucap Myungsoo sangat pelan. Tangan sang pria aktif melepas piyama dari pemiliknya.

Pihak gadis pun tak mau kalah, ia memasukkan tangannya kesela-sela kaos Myungsoo, menjelajahi perut sang pria. Ciuman Myungsoo semakin agresif ketika merasa Sooji menerimanya. “Perlu kau tau, Aku tidak pernah melakukan apapun dengan Soojung.”  Seketika Sooji langsung kembali ke alam sadarnya. Disaat seperti ini Myungsoo masih memikirkan wanita lain? Kepala Sooji bahkan sampai kosong melayang entah kemana tapi Myungsoo,,,

Sooji mendorong lalu menampar pipi Myungsoo.

Mata Myungsoo membulat saking terkejutnya. Tadi Sooji menerima perlakuannya kan? Sooji juga seperti menginginkan Myungsoo tapi kenapa tiba-tiba ia mendapat tamparan? Myungsoo tak tau dimana letak kesalahan dirinya.

“Berengsek!” Sooji menendang lutut Myungsoo, kemudian memakai piyama yang sempat dilepas Myungsoo tadi. Sooji lalu masuk ke ruang ganti, meninggalkan Myungsoo yang mengaduh kesakitan.

“Apa yang terjadi dengan gadis itu?” Myungsoo meringis sambil memegangi lututnya. “Apakah aku terlihat begitu nafsu? Ah! Aku benar-benar gila.”

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

 

Myungsoo nampak ragu-ragu untuk duduk kursi seberang Sooji.  Ia merasa jika dia memang bersalah meskipun Myungsoo sendiri tak tau dimana letak kesalahannya.

“Terimakasih sudah menyiapkan setelanku.” Ucap Myungsoo, dia hendak mengambil mangkok nasi dihadapannya namun tiba-tiba Sooji mengambil mankok tersebut. ‘Apa dia akan menghukumku untuk kesalahan yang tak jelas?’ batin Myungsoo, Sooji berniat tidak memberi sarapan pagi untuk Myungsoo.

Sooji meletakkan kembali mankuk tadi. Yang sebenarnya adalah Sooji mengambilkan beberapa lauk untuk nasi Myungsoo.

“Apa ayah sudah berangkat?” Tanya Myungsoo

Tak ada jawaban.

“Soal tadi malam,,,”

“Kita juga harus cepat.” Sooji memutus kalimat Myungsoo sebelum Myungsoo menyesaikannya.

“Aku minta maaf.”

Sooji terdengar mengenduskan nafas. Dia meletakkan sumpitnya dengan kasar lalu berdiri meninggalkan Myungsoo. Sang pria hanya bisa menatap pungung Sooji yang beranjak menaiki tangga. “Gadis itu ternyata lebih menyeramkan saat dia tidak bicara.” Ucap Myungsoo sambil mengosok bulu kuduknya.

~

Myungsoo dan Sooji berjalan beriringan keluar dari rumah. Myungsoo memutuskan untuk tidak mengajak Sooji bicara, toh segala yang diucapkan pasti akan terdengar salah di telinga gadis itu.

Myungsoo masuk ke dalam mobil lebih dulu. “Ayo berangkat.” Myungsoo menstarterkan mobilnya. Ditatapnya Sooji yang masih berdiri diluar tanpa ada pergerakan. “Ayo berangkat.” Ulangnya.

“Aku tebak, kau pasti tidak pernah melakukan hal yang romantis untuk pacarmu.”

“He?” Myungsoo tentu saja tak mengerti kalimat Sooji. Apa hubungannya antara berangkat ke kantor dengan pacar Myungsoo?

“Bukakan pintu untukku.”

Myungsoo langsung membulatkan mata. Sikap kekanak-kanakan Sooji kembali muncul entah karna apa. Myungsoo keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Sooji tanpa berkata apapun, lebih baik untuk tetap diam.

Sooji menghela nafas pelan. Jujur saja itu membuat Sooji sedikit kecewa.

“Apa lagi?” Myungsoo menatap Sooji yang tak kunjung masuk.

“Tidak ada.” Sooji berdehem kemudian duduk ke bangku penumpang.

“Jika kau ingin mengerjaiku pakai cara lain.” Ucap Myungsoo setelah mereka sama-sama berada dalam mobil.

“Aku tidak mengerjaimu.” Timpal Sooji.

Myungsoo mulai melajukan mobilnya ke jalan raya. 06.30, lalulintas memang cukup padat pada jam segini namun masih tergolong lancar.

“Apa kau sedang PMS?”

Sooji hening.

“Bicaralah.” Myungsoo menoleh Sooji sebentar. “Lidahmu memang tajam tapi kau membuatku takut saat kau tak menggerakkan lidahmu itu.”

“Jung Soojung,,,” Sooji berhenti sejenak. “Orang seperti apa dia?” Ucap Sooji pelan dan tenang.

“Soojung?” dahi Myungsoo mengerut. “Kenapa kau bertanya tentang Soojung?”

Sooji membuang muka, menyesal karna pertanyaannya sendiri. Myungsoo pasti berfikir Sooji sangat penasaran dengan kehidupan Myungsoo. “Tak apa. Lupakan.”

“Dia gadis yang baik.” Myungsoo mulai menceritakan tentang Soojung dan Sooji mendengarkannya. “Ke-Ibu-an. Kadang dia juga dingin. Tidak banyak bicara tapi sangat menggemaskan.”

“Apa Soojung tipemu?” Lagi-lagi Sooji menyesal. Kenapa pertanyaan-pertanyaan bodoh bisa keluar dari mulutnya.

“Em,,,” Myungsoo nampak berfikir. “Bisa di bilang begitu. Mungkin karna aku kehilangan Ibu sejak kecil, jadi aku suka sosok seperti Soojung.”

“Seorang yang keibuan ya?” Heh,, soji menarik nafas lalu menghembuskannya dengan halus. “Itu sangat sulit.”

“Kau bilang apa barusan?” Myungsoo menoleh Sooji lagi. “Ku pikir kau merasa orang yang paling sempurna tapi kau ingin menjadi seperti Soojung? Apa kau juga kagum padanya?”

“Tidak.” Jawab Sooji singkat, sangat singkat.

“Jika kau tidak punya teman di Seoul  akan ku perkenalkan dengan Soojung, dia orang yang mudah berteman juga.”

Sooji fikir itu hanya alasan Myungsoo, agar bisa bertemu Soojung tanpa dicurigai, “Tidak perlu.”

“Ngomong-ngomong, apa kau punya teman?”

“Aku juga baru tau ternyata kau orang yang sangat berisik.” Sooji.

“Hanya bertanya. Karna saat acara penikahan tidak tampak gadis seumuranmu.”

Teman? Bayangan empat gadis muncul di kepala Sooji. Entahlah,,, mereka bisa dibilang teman atau musuh. “Aku punya.” Jawab Sooji. “Mereka ada di luar negeri saat hari pernikahanku.”

“Mereka tidak datang karna kau tidak mengundangnya.”

“Kenapa mereka harus datang untuk memberikan selamat pada penikahan yang tidak aku inginkan,,,”

Skak mat. Leher Myungsoo seperti ditahan oleh sebuah batu, membuatnya tidak bisa bicara bahkan bernafas.

~

 

Pukul 13.00

Sooji melirik jam tangannya, waktu makan siang telah tiba. Wajar saja jika perut Sooji berteriak minta diisi. Biasanya Sooji menghabiskan jam istirahat bersama Hyeri tapi seminggu ini dia harus makan siang sendiri.

Akan menyenangkan jika Myungsoo mengajakknya keluar. Pikiran itu tiba-tiba terbesit di kepala Sooji.

Sooji kembali duduk ketika sebuah manggilan masuk ke ponselnya. Dia melihat nama kontak penelfon sebelum menggeser icon warna hijau “Ada apa?”

“Ada apa?!? Pertanyaan macam apa itu? ‘Kau sudah pulang? Apa kabarmu?’ seharusnya kau mengatakan itu.” Protes suara wanita diseberang sana.

“Kau menggunkakan nomer korea jadi kau pasti ada di korea.”

“zezzz,, setidaknya basa-basilah sedikit.”

“Apa kita biasa berbasa-basi?”

“Semakin bertambahnya umur aku kira kau akan sedikit ramah tapi ternyata kau masih sama.”

“Maaf mengecewakanmu.” Timpal Sooji.

“Itu tidak penting.” Balas orang tersebut. “Sekarang aku sakit, jenguk aku saat jam istirahat.”

“Jika kau sakit seharusnya kau menelfon suamimu, kenapa menelfonku?” Dia –si penelfon- adalah Lee Jieun teman semasa SMA Sooji. Emmm,,, sebenarnya tidak bisa dibilang teman juga.

“Seungho oppa masih ada di Mesir.” Suara Jieun terdengar merengek. “Hei! Aku pulang karna aku merindukan kalian tau!  Kantor Sulli dan Luna terlalu jauh,  Inna sedang dinas. Apa kau juga tidak mau kemari? Jarak kantormu paling dekat dengan rumah sakit.”

Sooji masih ingat betul siapa mereka. Masa dimana mereka masih menyandang status murid SMA. Yoo Inna merupakan kakak kelas Sooji, sedang Jieun, Sulli, dan Luna berada ditingkat yang sama dengan Sooji.

Kelimanya selalu bersaing, dalam hal penampilan, kepopuleran, dan nilai akademik. Segalanya mereka perembutkan. Kendati begitu, ada moment dimana mereka saling mengerti satu sama lain, mungkin karna mereka berstatus sosial sama. Orang pernah berkata bahwa ‘musuhmu adalah teman terdekatmu’ itulah yang terjadi pada hubungan mereka berlima, mereka adalah rival sekaligus sahabat baik.

“Aku tidak sedang di perusahaan.”

“Kalau begitu tegok aku saat pulang kerja.”

“Baiklah,, baiklah. Aku akan menengokmu sekarang.” Sooji akhirnya menyerah.

“Jinjja?!!!” Jieun terdengar antusias. “Aku menunggu.”

~

“Hei!!”

Sooji tidak berhenti berjalan meskipun dia tau teriakan itu ditujukan kepadanya. “Hai!!” Sooji tetap berjalan tanpa sedikit pun peduli. “Hei!! Kenapa kau mengabaikankku? Semua karyawan memperhatikanku.” Sooji berhenti dengan terpaksa karena tangannya ditahan oleh Myungsoo.

“Kau memanggil istrimu dengan ‘hai’?” Balas Sooji.

Myungsoo memiringkan kepalanya. Sejak kapan Sooji peduli dengan hal-hal seperti itu? Ah! Terserah,, itu tidaklah penting. Myungsoo menghampiri Sooji karna dia tidak punya teman untuk menghabiskan jam istirahat. “Ayo istirahat bersama.” Ajaknya.

“Aku tidak bisa.” Jawab Sooji. “Aku ingin menengok temanku yang sedang sakit.”

“Jadi kau benar-benar punya teman ya?”

Sooji mengendus.

“Biarkan aku mengantarmu” Ucap Myungsoo “Aku harus tau orang seperti apa wanita yang ku nikahi.”

Sooji terdiam. Perasaannya menghangat mendengar kalimat Myungsoo barusan, artinya Myungsoo ingin mengenal pribadi Sooji lebih dalam dan ,,, dia dianggap.

Namun itu belum bisa memastikan sesuatu, Myungsoo mungkin belum mempunyai perasaan khusus pada Sooji, buktinya dia masih bersikap sama seperti sebelumnya. Berdiri melipat tangan didepan dada, Sooji melirik tajam kearah Myungsoo. Wanita ini mungkin berniat membunuh seseorang dengan tatapannya.

Meskipun tidak ditampakkan, jujur saja Myungsoo selalu merasa takut dengan tatapan membunuh Sooji tersebut. Otaknya langsung menemukan dimana letak kesalahannya. Dia berjalan memutari mobil lalu membuka pintu penumpang untuk Sooji.

~

Tak butuh waktu lama, 30 menit kemudian mereka –Myungsoo dan Sooji- telah sampai di rumah sakit dimana teman Sooji dirawat. Sooji berjalan didepan membimbing langkah mereka. Di depan pintu bernomer 312 Sooji berhenti. Tanpa mengetuk, sang gadis langsung masuk. Nampak seorang perempuan yang Myungsoo tebak umurnya sama dengan Sooji, dia sedang duduk bersandarkan bantal.

“Apa yang terjadi?” Sooji.

“Tubuhku mengalami perubahan suhu yang terlalu ekstrim.” Jawab pasien itu.

“Kau sudah makan?”

Jieun menggeleng. “Kau membawa pesananku kan?”

“Tteokbboki? Kau sakit tapi meminta Tteokbboki.” Sooji meletakkan sekatong tteokbboki dipangkuan Jieun.

“Segala penyakit akan sembuh jika memakan makanan yang dirindukan. Benarkan Kim Myungsoo-ssi?”

Myungsoo yang sedari tadi hanya mengamati perbincangan antar dua wanita itu cukup tersentak ketika namanya tiba-tiba disebut, padahal Myungsoo dan perempuan ini belum berkenalan. Berbeda dengan Myungsoo, Sooji nampak biasa saja dia sudah menebak Jieun pasti mencari informasi tentang suaminya jauh hari.

“Hai,,, aku Lee Jieun teman Sooji. Maaf mengetahui namamu sebelum kita resmi berkenalan.” Perempuan bernama Jieun itu membungkuk memperkenalakan diri.

“Melihat  kau dan Minho jatuh cinta, sungguh diluar dugaan kau akan menikah karna perjodohan.” Ucap Jieun pada Sooji.

Myungsoo cangung. Mereka membicarakan mantan pacar seorang perempuan didepan suami si perempuan tersebut? Dimana sopan santun mereka?

“Tidak semua gadis bernasib baik sepertimu. Jatuh cinta dengan pria kaya dan menikah dengannya.” Jawab Sooji

Ya Tuhan ,, ternyata mereka adalah sekumpulan gadis-gadis bermulut tajam, pikir Myungsoo. Tapi daripada Sooji, perempuan ini jauh lebih baik. Setidaknya dia bicara sambil sesekali tersenyum.

“Kan sudah ku bilang untuk menyerah sebelum kau merasakan sakit, Bae Sooji.”  Ucap Jieun. “Salah takdir juga, kenapa kau bertemu Minho dulu. Lihat jika kalian bertemu enam atau 10 tahun lalu, pasti kalian akan menjadi pasangan yang bahagia.”

“Apa maksudnya?” Myungsoo menyungging ujung bibirnya, dia tidak mngerti sama sekali maksud ucapan perempuan didepannya ini.

“Yang aku tau, type pria yang disukai Sooji adalah seperti dirimu.” Jelas Jieun. Myungsoo langsung menoleh pada Sooji yang dibalas dengan tatapan tajam oleh sang gadis, ‘Apa?!!!’

“Ku harap kalian tidak menyesal ketika mengambil keputusan untuk menikah.” Nada Jieun mulai serius.

Myungsoo dan Sooji sama-sama menatap Jieun, mendengarkan dengan serius perkataan Jieun. Teman Sooji ini lebih lama melewati masa pernikahan jadi mungkin mereka bisa mendapat contoh yang baik dari pernikahan dia bersama suaminya.

“Awalnya aku berfikir aku dan Seungho oppa menikah karna kami saling mencintai.” Ucap Jieun. “Seiring waktu berjalan, kami sadar bahwa cinta bukan satu-satunya alasan kami menikah. Lebih tepatnya kami butuh tempat saling berbagi, kami sudah di takdirkan.”

Sooji tersenyum miring, “Sejak kapan kau percaya takdir? Lucu sekali.”

“Ck,, aku berkata serius.” Jieun berdesis “Aku mengawasi kalian!”

~

“Pekerjaan kita di pabrik hampir selesai, mungkin besok kau bisa pulang lebih awal.” Ucap Myungsoo dari bangku kemudi. “Berkumpullah dengan teman-temanmu, jujur saja hubungan pertemananmu terlihat aneh.”

Bayangan Myungsoo pulang dengan keadaan berantakan kembali muncul di kepala Sooji.

Suzy (21)
“Tidak!” Ucapnya tiba-tiba.

“Tidak masalah, aku juga akan ke kantor pusat jadi,,,”

“Besok, ayo mengunjungi apartemen Moonsoo.” Ucap Sooji langsung.

Myungsoo menoleh sejenak, “Apa Moonsoo sudah tidak apa?”

“Tidak masalah jika mengunjunginya dengan aku. Jadi kita harus selalu bersama.” Sooji memejamkan mata, apa yang dia katakan? “Bukan. Maksudku jika kau ingin mengunjungi Moonsoo, kau harus mengajakku juga.”

Dari pihak Myungsoo, dia terlihat tenang tanpa curigaan sedekitpun. “Aku mengerti.” Jawabnya.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

 

Hari selanjutnya,,,

Myungsoo bersama Sooji  sedang dalam perjalanan menuju kantor cabang, tempat Moonsoo diperkerjakan. Bekerja di kantor cabang lebih baik dari pada di kantor utama karna Sangbum dan Moonsoo pasti akan merasa tidak nyaman jika bertemu setiap hari

Sooji mengamati wajah Myungsoo yang nampak pucat, “Kau gugup?” Tanya Sooji memastikan.

“He?!” Mendangar kata pertama yang keluar dari mulut Myungsoo, Sooji bisa memastikan jika Myungsoo memang sedang gugup.

“Bertemu adik kandung seperti bertemu akan bertemu klien besar saja” Terselip nada meremehkan dari kalimat Sooji.

“Apa yang harus aku katakan pada Moonsoo? Sudah lama kami tidak bertemu.”

“Lama apanya? Baru dua minggu, Kim Myungsoo.” Sooji menggeser posisi duduknya mengahadap Myungsoo.

“Tetap saja itu lama.”

“Jika kau ragu, diam saja. Biarkan Moonsoo yang menyapamu. Namun,,, ku pikir Moonsoo merasa lebih canggung jadi usahakan menyapanya lebih dulu.” Nasehat Sooji.

~

Seolah sudah direncanakan, tepat saat Myungsoo dan Sooji akan mengunakan sebuah lift ternyata Moonsoo keluar lift tersebut.

“Moonsoo,,,” Sapa Sooji lebih dulu.

“Oi,, kakak ipar. Kenapa kalian ada disini?”

Sooji menyikut Myungsoo, memberi kode sang pria untuk menyapa lebih dulu.

“Apa kabarmu?” Myungsoo.

“Aku baik-baik saja. Kalian datang untuk mengunjungiku?”

“Hanya merindukan adik laki-lakiku yang paling bawel.” Jawab Myungsoo.

“Aku merindukan sepatu yang hampir melayang ke wajahmu.” Tambah Sooji. Myungsoo dan Moonsoo langsung menoleh ke arah Sooji.

“Ayo ke apartemenmu aku akan memasakakan sesuatu yang enak.”  Sooji menghimpit lengan dua bersaudara tersebut, mencairkan suasana.

“Tentang lelucon sepatu, itu  sungguh tidak lucu Sooji.” Myungsoo.

“Ar-ra-so.” Balas Sooji.

////////////////////////////////////////////////////////////////////////

 

A/N :  Waktu liburan aku gunakan untuk berkunjung ke rumah saudara yang biasanya tinggal diluar kota,,, kalian juga selamat liburan dan menjalankan puasa yaaah,, 😉

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

64 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 5)

  1. penasaran sebenernya minho kemanaa

    Suka

  2. elah myungsoo di saat” romantis dia malah sebut namanya soojung…
    suzy cemburu sama soojung ?
    suzy udah bener” ada perasaan sama myungsoo…

    Suka

  3. Q setuju sama jieun. Cinta buln segalanya
    Q pikir myungzy harus memmikirkn itu khususnya myung
    Knp ini cow ga peka bngt sih

    Suka

  4. Haha, lucu yang terakhir tadi.. Saat suzy nggandeng moonsoo sma myung

    Suka

  5. Suzy, kepribadiannya meanrik banget,,,
    meskipun dingin tapi niat baiknya untuk orang disekitarnya perlu diacungi jempol. aku kagum, salut sama suzy yang kayak gini ❤ ❤ ❤

    Suka

  6. Huaaaa Sepatu melayang wkwksk
    Hahahabkeren thor
    Next izin.baca

    Suka

  7. kapaan mereka bedua bener2 salih jatyh cintaa.. udah gak sabar masa..wkwk
    jieun ama suzy sama aja laaah sama2 bermulut tajam.. tapi keren sih suka ama karakter suzy di sini, cwe kuat bgt ga ada titik lemahnya sama sekali.. nice story thor

    Suka

  8. Kekekekekkekek
    Suzy memang jjang walaupun perkataan dy ceplas ceplos b dingin tapi hatinya baik … q suka katakter dy disini…

    Disukai oleh 1 orang

  9. Ihiiyyy… Hubungan mereka terlihat baik, tp myungsoo masih memikirkan soojung. Walau tidak secara langsung

    Suka

  10. huwaaa ayo dong saling kode
    myungzy mah bikin greget
    ayu cepet punya baby keburu nanti minho muncul ke permukaan *kkk😁
    next thor sumpah bikin greget ff nya

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s