We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 6)

40 Komentar

Title : Waiting Outside the Line

Author   : Cahya Khosyiah

Main Cast :  Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |

Original Cast : Yuna | Kim Sangbum |

Special Cast : Jieun | Sulli | Luna | Inna |

Pairing : Myungzy JJANG!

Genre : Romance, Married Life.

Rate : 18+

Disclaimer : Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Jika ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback

R&R

WOTL
/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

“Masakan kakak ipar memang yang terbaik,,” Moonsoo berucap dengan mulut penuh makanan. Myungsoo duduk di kursi seberang Moonsoo, sedang Sooji berada disamping Moonsoo.

“Kau benar-benar baik-baik saja? Kau seperti tidak makan sebulan.” Ucap Myungsoo.

Sooji menatap dua bersaudara ini, jujur saja awalnya dia khawatir Myungsoo dan Moonsoo tidak akan bersikap santai seperti. Ia mengambil rumput laut lalu meletakkan diatas nasi Myungsoo. “Kau juga makan.” Ucapnya.

Moonsoo berhenti menunyah, dia mendopang wajahnya dan tersenyum dihadapan Sooji. “Sepertinya aku akan segera punya ponakan.” Ucapnya menggoda.

“Makan saja.” Myungsoo menyumpalkan sepotong gimbab ke dalam mulut adiknya, sedangkan Sooji bersikap tak acuh.
“Atau kalian sudah melakukannya? Berapa kali?” Moonsoo belum menyerah meski suaranya nyaris tak jelas. Sooji berdesis, mereka pasti sudah melakukannya jika Myungsoo tidak menyebut nama perempuan lain.

Saat Myungsoo dan Moonsoo tengah asyik bersendau, telfon apartemen Moonsoo berdering, Sooji bangkit berjalan menuju ruang tamu dan mengangkat panggilan tersebut. “Anyeonghaseyo,,,”.

Tak ada jawaban.

“Halo,, Siapa disana?”

Tut,, tut,, tut,,, Sooji menyerit. Penelfon iseng.

“Siapa?” Tanya Myungsoo ketika Sooji sudah duduk kembali ke tempatnya tadi.

“Entahlah,, dia memutus sambungan begitu saja.” Jawab Sooji, dia mengambil ponsel Moonsoo yang tergeletak diatas meja.

“Apa yang kakak lakukan?”
Disisi lain, Myungsoo juga menatap Sooji yang terlihat mengotak-atik ponsel Moonsoo. Mengapa Sooji begitu penasaran dengan privasi Moonsoo? Padahal dengan dirinya saja Sooji tidak pernah melakukan hal tersebut.

“Aku selalu memantaumu, Kim Moonsoo.” Sooji masih sibuk dengan ponsel adik iparnya. “O! Kau masih menyimpan fotoku. Bagus.”Sooji mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.
1
Foto?!! Urat-urat Myungsoo menegang. Sebagai suami, Myungsoo saja tidak punya foto Sooji. Foto pernikahan mereka bahkan belum jadi,,, dan,,, Moonsoo justru menyimpan foto Sooji?!!! Kepala Myungsoo tiba-tiba terasa panas.

“Karna kau terlihat jelek di foto itu.” Myungoo membulatkan mata, dia tak sedang berilusi kan? di depan matanya Moonsoo,, Moonsoo mencubit pipi Sooji!!!

“Apa yang kau lakukan?” Myungsoo menatap Sooji tajam. “Letakkan ponselnya.”
Sooji tak menghiraukan tatapan mematikan dari Myungsoo.“Aku hanya melihat-lihat,,,”

“Letakkan!!!” Myungsoo merebut ponsel dari tangan Sooji dan meletakkannya dengan kasar. Sooji tersentak kaget, dia pikir ia tidak melakukan kesalahan jadi kenapa Myungsoo tiba-tiba marah? “Aku hanya melihat-lihat! Kenapa kau membentakku?!!!” Suara Sooji terdengar bergetar.
“Kau mengganggu privasi Moonsoo.”

“Aku tanya, Kenapa kau membentakku?!!!”

Diam. Myungsoo pun tak tau pasti apa penyebabnya. Myungsoo hanya tidak suka melihat Sooji lebih dekat dengan Moonsoo daripada dirinya, Myungsoo tidak suka ketika Sooji tersenyum dengan hal-hal yang berkaitan dengan Moonsoo.

Seakan menonton drama, Moonsoo hanya bisa menatap kedua orang yang saling membentak ini sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Aku hanya melihat ponsel adik iparku, apa itu suatu kesalahan yang besar?” Suara Sooji masih bergetar. “Jika aku memang melakukan kesalahan tidak perlu membentakku, bisa kan?”
Myungsoo menunduk, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu.”

“Apa karna aku wanita asing yang tiba-tiba masuk kedalam hidupmu jadi kau membenciku?”

“Ya Tuhan,, Sooji, kenapa kau menjadi senditif sekali,,”

“Terserah!!” Sooji bangkit dan mengambil tasnya di sofa tamu, ia kemudian keluar dari apartemen Moonsoo.

“Sebaikanya kakak mengejar Soo- Kakak ipar.” Hampir saja Moonsoo menyebut nama asli kakak iparnya.

“Heh,, kami langsung pulang. Kau jaga dirimu.” Myungsoo menepuk pundak Moonsoo lalu keluar menyusul Sooji.

“Em.” Moonsoo mengangguk. “Hati-hati.”
~

“Berhenti bersikap kekanak-kanakan Sooji.” Sooji semakin mempercepat langkahnya ketika Myungso sudah berjarak 3 meter dibelakangnya.

“Jadi kau mau pulang jalan kaki?” Myungsoo berhenti mengejar. Lebih baik mengikuti Sooji dengan mobil nanti jika sudah lelah dia juga akan berhenti.
Tanpa diduga ternyata Sooji berbalik dan menghampiri Myungsoo yang berdiri disamping mobilnya. “Besok aku ingin bawa mobil sendiri.” Ucapnya langsung masuk ke dlam mobil dengan wajah ditekuk.

Myungsoo tersenyum geli.

Ketika dua-duanya sudah berada dalam mobil, Myungsoo tidak langsung menstarter mobilnya. Dia menoleh pada Sooji yang sedang duduk sambil melipat tangannya didepan dada. Myungsoo tidak suka Sooji menekuk wajahnya, meskipun sebenarnya wajah Sooji terlihat menggemaskan saat ini. “Dasar putri manja.” Sooji tersentak saat Myungsoo mencondongkan badannya untuk memasangkan sabuk pengaman ke tubuh sang gadis. “Terlihat sekali kau kurang perhatian.”

Sooji berdesis.

Myungsoo hampir melajukan mobilnya ketika tiba-tiba Sooji mengintrupsi Myungsoo. “Bukankah itu Yuna?” Myungsoo mengikuti arah telunjuk Sooji, seorang gadis mengenakan dress casual masuk ke gedung apartemen Moonsoo tinggal. Myungsoo mengangguk membenarkan, “Mungkin dia ingin bertemu Moonsoo.”

Sooji melirik jam tangannya, pukul 22.00. Terlalu larut bagi seseorang untuk berkunjung ke rumah orang lain. Myungsoo menahan lengan Sooji yang hendak turun dari mobil. “Mau kemana?”

“Seorang gadis berkunjung ke apartemen laki-laki lajang, kau tidak khawatir?”

“Mereka sedang dimabuk cinta, biarkan saja.” Myungsoo mulai melajukan mobilnya.

“Seorang wanita masuk ke apartemen Moonsoo dan kau menyuruhku untuk membiarkannya?!!” Mata Sooji membulat. “Kita tidak hanya bertanggung jawab atas Moonsoo, Kim Myungsoo! Kita juga bertangjung jawab atas gadis itu.”

“Kita akan menegurnya besok, sekarang ayo pulang.”

“Bagaimana jika mereka tidak bisa mengendalikan diri? Lalu mereka berfoto bersama dan menguploadnya di situs sosial media?”

“Hanya berkunjung, itu bukan sesuatu yang besar Sooji.” Timpal Myungsoo. “Jangan berfikir berlebihan.”

“Dia yang berkunjung di malam hari tapi Aku yang berlebihan?” Sooji berbicara sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria seperti kalian.” Ucap Sooji.

“Kita sedang dijalanan, aku tidak ingin berdebat.”

“Minho yang berpendidikan tidak setinggi kalian saja tau sopan santun.”

“Minho? Siapa Minho?” Myungsoo menoleh sesekali kearah bangku penumpang sampingnya. “Kenapa kau membawa nama laki-laki lain dipersoalan keluarga kita?”

“Ow! Jadi kau menganggapku keluarga? Ku kira aku hanya debu, Aku tak ada apa-apanya dibanding Jung Soo-jung.” Ucap Sooji dengan penuh emosi disetiap katanya.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah,,, sepanjang perjalanan dipenuhi dengan perdebatan tajam.
~

“Aku mencoba mengerti namun jika kau membawa orang lain itu sungguh keterlaluan.”

Sooji berbalik, menatap Myungsoo yang masih berdiri disamping Mobil. Dia berdesis. “Bukankah kau lebih buruk? Kau mengunjungi mantan kekasihmu saat malam pertama kita.”

“Itu hanya kunjungan biasa. aw!!!!” Myungso menjerit kesakitan karna untuk yang kedua kalinya Sooji menendang tulang rawan kakinya.
Sooji berbalik lagi, “Akhirnya dia mengaku kan?” Ia menekan matanya, menghilangkan air mata yang tak bisa keluar. “Sial! Kenapa aku menangis?!” Ucap Sooji merutuk.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Seperti kata Sooji sebelumnya, dia berangkat kantor dengan membawa mobil sendiri. Meskipun Sooji sudah bersikap biasa namun Myungsoo tidak bisa mengangap perdebatan tadi malam selesai begitu saja, perangai Sooji sulit ditebak.

Myungsoo menahan dirinya agar bersikap biasa saja selama di kantor, tidak lucu kan baru dua minggu menikah sudah terlibat pertengkaran? Dan beruntungnya Sooji juga –mungkin- berfikir sama.

“Aku akan pulang terlambat.” Myungsoo memutar tubuhnya ke belakang, dilihatnya Sooji sedang berdiri sambil menenteng dokumen.

“Jieun keluar rumah sakit hari ini.” Jelas Sooji singkat.

“Kalau begitu aku juga ikut, mungkin saja kalian butuh bantuan tenaga laki-laki.”

“Kau masih belum mengerti suasananya ya?”
Benar dugaan Myungsoo, Sooji masih marah. “Kalau begitu jangan pulang terlalu larut.” Pesan Myungsoo.

“Tidak perlu khawatir, Aku tidak suka berkeliaran malam-malam.” Balas Sooji.
~

“Kemana anak-anak itu?”
Sooji menoleh Jieun yang bergumam sambil memasukkan pakaian ke dalam tas besar. “Siapa yang kau maksud?”

“Tentu saja Sulli, Luna, dan Inna, aku menyuruh mereka datang.”

“Itulah kenapa aku tidak mau punya anak.” Suara berisik beberapa wanita masuk kedalam ruangan Jieun, yang dinanti telah datang. Meskipun sudah ada didalam ruang namun Luna, Sulli, maupun Inna nampaknya tak begitu peduli dengan dua orang yang ada disana sejak tadi. Karna,, memang begitulah mereka.

“Warisan? Toh pada akhirnya yang mendapat keuntungan adalah anak meraka bukan kita sebagai menantu.” A! Itu Luna, si mungil yang cantik.

“Ada apa?” Jieun merasa penasaran dengan tema yang dibicarakan para wanita ini.

“Di poliklinik Ibu dan Anak kami tidak sengaja bertemu Ibu hamil yang memeriksakan kandungannya sendiri.” Sulli mulai bercerita. “Dan kau tau? Suaminya meninggalkan dia ditengah pemeriksaan hanya karna mendapat telfon dari perusahaan. Sungguh gila kerja.”

“Benarkah?!” Sooji setengah menjerit. Ditinggalkan demi pekerjaan, kasihan sekali. Jika itu terjadi pada Sooji, ia tidak akan segan untuk menjambak suaminya.

“O! Kau ada disini?” Ucap Inna sedikit terkejut sepertinya dia baru menadari kehadiran Sooji, padahal Sooji bukanlah makhluk kasat mata.

“Apa yang sedang kalian biacarakan?” Sooji lebih tertarik dengan cerita ibu hamil tadi daripada menjawab pertanyaan Inna.

“Jangan punya anak sebelum suamimu sendiri yang memintanya.” Luna berucap lagi.

“Maksudnya?”

“Ya,, kau hanya akan berakhir menjadi alat pelahir bayi jika suamimu tidak menginginkan anak. Saat bayi dia dirawat kakek neneknya, saat sudah besar dia dituntut untuk bersekolah bisnis lalu kapan waktumu bersama anakmu?” Luna memang seorang yang banyak bicara, apalagi jika berkumpul dengan teman-temannya.

“Namun jika suamimu sendiri yang menginginkannya, ada kemungkinan dia kan menuruti perkataanmu.” Tambah Sulli.
Otak Sooji berputar,, gila kerja? Itu Myungsoo. Tidak mengharapkan anak? Myungsoo tidak pernah mengatakan apapun tentang anak. Bagaimana jika saat Sooji hamil dan Myungsoo mengabaikannya? Menyedihkan.

“Ku pikir itu hanya berlaku bagi kalian, Seungho oppa selalu menuruti perkataanku.” Ucap Jieun penuh bangga. Jieun memang satu-satunya dari mereka yang menikah tanpa dijodohkan.

“OPPA!!” Sooji dan yang lain langsung menolehkan kepala ketika Sulli tiba-tiba berteriak . “Aku sedang bersama teman-temanku. Neo?” Sulli terlihat bersemu berbicara dengan orang diberang telfon. “Um,, anyeong,,,”

“Oppa?” Cicit Sooji, Luna, dan Inna bersamaan.

“Jangan bilang itu Teamin?” Luna menatap Sulli dengan tatapan penuh curiga.
Sulli menjawab dengan cengiran. Sooji, Jieun, dan Inna, menganga. Senyum itu berarti membenarkan pertanyaan Luna.

“Kau bisa berfikir kan?” Sooji.
“Aku hanya mencintai orang yang ku cintai, apa yang salah?”

“Suamimu,,,” Sulli mengangkat kedua tangannya, menghentikan ucapan Sooji. “Suamiku juga mencintai wanita lain, dan kami memutuskan untuk tetap mencintai pasangan masing-masing.”

“Maksudmu,, suamimu juga,,,” Kalimat Jieun terputus-putus. “uwaaaa,,,,kalian pasangan gila,,,”

“Dia tau masa laluku dan dia menawarkan untuk melakukan ini.”

“Dan kau setuju?” Inna.

“Sebagai gantinya, aku bersedia menjadi ibu untuk anak mereka nantinya.” Balas Sulli. Suasanya menjadi dingin setelah jawaban dari Sulli. Seburuk apapun wanita, tidak ada satupun dari mereka bersedia diduakan. Setiap wanita punya mimpi yang indah pada pernikahan mereka.

“Ku pikir itu lebih baik daripada kau setiap tapi diabaikan.” Ucap Inna berusaha membuat suasana kembali nyaman.

“Dan kenapa kalian melihatku dengan tatapan ‘kasian’ begitu?” Sulli memasang wajah pura-pura tak suka. “Kecuali Jieun, bohong jika kalian bahagia dengan pernikahan kalian.”
“Inna sering mengunjungi kantor Woobin oppa. Luna, berapa kali kau bertemu Jonghyun? Dan Sooji, jika Minho oppa tidak menolak, sekarang kalian mungkin sudah kabur bersama.”

Mereka menunduk, apa yang dikatakan Sulli tidaklah salah.
~

“Kau sudah pulang?”
Sooji melepas sepatu hag-nya, menggati dengan sendal rumah. Ia melihat Myungsoo yang sedang duduk disofa ruang tamu sambil membaca koran. Sooji berdesis, Myungsoo bilang ia tidak suka sofa ruang tamu tapi kenyataannya sekarang dia justru duduk disana, dan Sooji tebak itu pasti lebih dari satu jam.

“Kau menungguku?” Sooji duduk disamping Myungsoo.

“Bagaimana temanmu?” Myungsoo tak menjawab pertanyaan Sooji.
Sooji menaik-turunkan kepalanya, “Mungkin dia sekarang sudah tidur dengan nyaman di kasurnya yang empuk.”

“Kau sudah makan?”
Myungsoo menjawab dengan senyum penuh arti, dia menatap Sooji dengan seksama.

“Jangan mentapku seperti itu.” Ucap Sooji merasa risih dilihati Myungsoo dari tadi, apalagi dengan senyum ‘aneh’ dibibir sang pria.

“Kau bertanya tentang makan malamku, aku anggap itu artinya kau sudah tidak marah lagi.”

“Aku mendapat pelajaran hari ini,,, bahwa cinta itu menyeramkan.”
Myungsoo menyerit, sungguh balasan yang tidak sinkron. Setelah berkata tadi, Sooji langsung meninggalkan Myungsoo yang terdiam bingung.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
~
~

“Apa hari ini kau pulang cepat lagi?” Myungsoo menghentikan rutinitas Sooji dipagi hari, memasak.
“Wae?”

“Ini sudah satu bulan dan kau selalu pulang cepat, kau yakin Jieun itu temanmu?”

Sooji memutar bola matanya, “Sudah aku katakan, Aku tidak suka berkeliaran malam-malam. Dan aku bukan single lagi, aku punya mertua yang memperhatikanku.”

Myungsoo mengerti, sebenarnya Myungsoo tidak masalah jika sesekali Sooji pulang terlambat dan pergi bersama teman-temannya tapi sang ayah pasti akan protes.

“Kupikir hari ini aku akan pulang terlambat.” Ucap Sooji kemudian.
“Mau kemana?”

“Jika kau penasaran kau harus menungguku sampai pulang.” Jawab Sooji.
Myungsoo tersenyum tak percaya, dia tidak menyangka Sooji akan berkata seperti itu.
~

Sepulang kantor, Sooji langsung melajukan mobilnya ke area pertokoan kota Seoul. Diantara gedung-gedung pertokoan terdapat satu kedai coffe, Sooji berhenti didepan kedai tersebut. Sang wanita masuk dan duduk di meja dekat jendela kaca.
Sepulum menit kemudian seorang yang ditunggu pun datang.
Seorang gadis berumur setara dengan Sooji duduk dengan malas, raut muka terlihat tidak suka bertemu Sooji. Dan lucunya, Sooji sendiri tak tau penyebab pasti raut muka tersebut muncul.

Sooji mengehela nafas, kesan pertama yang buruk.
Namun demi kepentingan keluarga, nampaknya Sooji akan sering bertemu sang gadis.

“Ada keperluan apa anda menemui saya?” Ucapnya ketus.
“Bukankah seharusnya kau mengenalkan dirimu dulu?”
“Kenapa tidak anda dulu?” Gadis tersebut memutar ucapan Sooji.

Sebulan terakhir Sooji telah melakukan pengawasan pada Moonsoo dan Yuna. Dari laporan, Yuna memang sering datang ke apartemen Moonsoo sampai larut atau Moonsoo yang mengunjungi Yuna. Itu bukan hal yang bagus, apalagi jika ada yang tak suka dan menyebarkan gosip miring. Hal ini akan menjadi scandal buruk bagi keluarga Kim.

“Ternyata kau tidak semanis yang aku pikirkan.” Komentar Sooji, saat Moonsoo membawa Yuna dulu gadis ini terlihat berani juga manis tapi sekarang dia melihat sisi lain dari sang gadis.

“Aku tidak suka basa-basi jadi mari langsung saja.” Yuna menegakkan tubuhnya. “Jangan mendekati Moonsoo, dan mengirimi Moonsoo foto anda.”
Sooji menyerit. Jangan dekati Moonsoo? itu kalimat yang aneh. Bagaimana mereka tidak dekat? Moonsoo adalah adik iparnya.
A! Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Sooji merutuki Moonsoo, dia pasti tidak menjelaskan hubungan mereka pada Yuna. Sooji tersemyun geli lalu memperkenalkan dirinya, “Aku Bae Sooji -em,, maksudku Kim Sooji, menantu keluarga Kim.”
Yuna terlihat sangat terkejut, matanya melotot dan mulutnya menganga. Sooji hanya takut mata Yuna keluar karna terlalu lebar melotot.
Dengan gerakan terburu-buru atau gugup Yuna berdiri, “Anyeonghaseyo. Choi Yuna Imida. Aku kekasih Moonsoo.” Ucap Yuna dengan semangat, yang membuat Sooji ingin tertawa adalah Yuna membungkukkan badan lebih dari tiga kali.

“Oh. Iya. Hati-hatilah, kau bisa merusak kursinya.”

“Maafkan saya.” Yuna membungkuk penuh penyesalan.

“Duduk lah.”

“Saya pasti terlihat bodoh sekali. Maafkan saya,,,” lagi-lagi Yuna meminta maaf.

“Tidak masalah aku mencoba mengerti.”

“Saat Moonsoo mengatakan anda berperan penting dalam pekerjaannya, saya pikir anda rekan kerja yang berusaha merayu dia , maafkan saya.” Wajah Yuna terlihat memerah, mungkin sanking malunya.

“Aku mengajakmu bertemu bukan untuk melihatmu meminta maaf.” Ucap Sooji.

“Maafkan saya.”
Sooji berdesis, minta maaf lagi?

“Baiklah, mari mulai pembicaraan kita.” Sooji menyesap kopinya sebelum berbicara serius. “Apa kau berencana menikah dengan Moonsoo?”

Yuna nampak berfikir sejenak. “Kami saling mencintai,,,, namun untuk menikah sepertinya kami harus memikirkan banyak hal terlebih dahulu, termasuk restu tuan Kim Sangbum.” Yuna menyebut ayah mertua Sooji dengan nama resmi.

“Jadi,,, apakah kalian berencana menikah?” Sooji hanya meminta jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Yuna nampak berfikir lebih lama dari sebelumnya, kemudian Ia mengangguk yakin.
“Kau tau kan, mendapat restu dari mertuaku itu hal tersulit? Satu tahun tak cukup, mungkin butuh waktu dua, lima, atau sepuluh tahun.”
“Y-ya.”
“Tapi sebenarnya hati manusia itu mudah tersentuh,,, termasuk mertuaku.” Ucap Sooji. “ Aku ada dipihakmu namun aku tak bisa berbuat apa-apa jika kalian tidak berusaha sendiri.”
“Apa maksud eonni?” Yuna menyeritkan alisnya.

Sooji menegakkan badan kemudian berkata, “Bujuk Moonsoo untuk pulang.”
“Tapi,,,aku,,,”
“Aku tau apa yang akan kau katakan.” Sooji berucap tenang. “Kalian harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Kau mengerti maksudku kan?”
“Aku akan berusaha.” Jawab Yuna.
“Bagus.” Sooji tersenyum lebar. “Selanjutnya,,, sering-seringlah datang ke rumah.”
“Baik, aku mengerti.” Yuna mengangguk mantab.
~

Ditempat lain,,
Pria ini benar-benar melakukan apa yang dikatakan Sooji tadi pagi. Sedari tadi Myungsoo duduk disofa sambil sesekali menengok jendela, sang pria terus bergumam kapan Sooji pulang.
Setiap hari bersama dan berbicara dengan Sooji, jadi ketika Sooji tidak ada dirumah saat Myungsoo pulang rasanya sangat hambar.

Ceklek,,,
“Kau sudah pulang,,,” Myungsoo bangkit berdiri.

“Kau benar-benar menungguku?” Sooji berjalan mendekati Myungsoo.
“Aku,,, aku hanya iseng.”
“Kau menungguku kan?”
Dengan wajah datarnya Myungsoo menjawab, “Aku hanya khawatir.” Khawatir? Itu lebih dari perasaan penasaran. Sooji berdehem guna menormalkan detak jantungnya. “Aku tadi bertemu Yuna.”

“Yuna? Kenapa?”

“Apa yang aku dapat jika Moonsoo kembali ke rumah?”
“Kau,,,??!!” Myungsoo membulatkan mata. “Tunggu saja, dan Moonsoo akan kembali.” Sooji menepuk-nepuk pundak Myungsoo.
Hanya wanita yang bisa mengerti wanita. Mungkin Sooji menggunakan prinsip itu untuk mempermudah usahanya. Apapun itu Myungsoo sangat senang melihat Sooji yang begitu perhatian pada keluarganya. Dan ini membuat Myungsoo teringat pada ucapan Jieun,,,

Pernikahan adalah takdir.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Myungsoo turun dari tangga sambil bersiul ria, kabar baik dari Sooji tadi malam sungguh membuat mood Myungsoo meningkat 100 kali lipat. Dilihatnya Sooji baru saja meletakkan semankuk sup untuk ayahnya. Myungsoo tersenyum lalu menghampiri mereka kemudian duduk dikursi tempat biasa.
“Ini baru pukul 05.30, tak biasanya kau sudah siap?” Sangbum.

“Jam berapa kau bangun?”Myungsoo menyelipkan anak rambut Sooji yang sedikit berantakan ke dalam telinga. Sooji memiringkan kepalanya bingung atas perlakuan Myungsoo barusan, tangannya reflek menyentuh rambut yang dirapikan oleh Myungsoo barusan.

“Aku bertanya padamu dan kau menyapa istrimu? Inilah kenapa orang bilang bahwa mempunyai anak laki-laki itu tidak ada gunanya.”

Myungsoo menoleh pada sang ayah, “Sudah dua minggu ini kami berangkat dan pulang secara terpisah, Aku berencana memberitahu Sooji untuk berangkat bersama lagi.”

“Apa Myungsoo memperlakukanmu dengan buruk?” Sangbum bertanya pada Sooji. Sang gadis menggeleng lalu menjawab, “Kami hanya punya pekerjaan yang berbeda jadi lebih efisien jika kami mebawa mobil sendiri.”

“Baiklah. Kalian lanjutkan sarapan kalian, ayah harus menagani beberapa persoalan di kantor utama.”

Ya, begitulah ayah Myungsoo. Berangkat ke kantor tanpa memperdulikan waktu, bahkan matahari saja belum terbit tapi sang ayah sudah memulai pekerjaannya. Mata Myungsoo terus mengikuti tubuh sang ayah yang berjalan membelakanginya, sampai beliau benar-benar hilang dibalik pintu.
Saat Myungsoo hendak kembali memfokuskan diri ke meja makan, tak sengaja matanya melihat tumpukan amplop di meja ruang tamu. Begitu tertarik, Myungsoo pun mengambil tumpukan amplop tersebut. Diatara tumpukan tadi, ada satu amplop membuat Myungsoo harus membukanya. Surat pernikahan dari departemen kependudukan.
“Apa sudah jadi?” Tanya Sooji ikut mengintip.
“Em.” Jawab Myungsoo seadanya, dia masih fokus membaca isi surat itu. Tiba-tiba alisnya menyerit kemudian menatap Sooji serius.

“Kita hanya makan ini sebagai sarapan?”
“Makan apa yang sudah disiapkan saja.” Jawab Sooji bersiap memasukkan udang ke dalam mulut. Namun gerakannya terhenti oleh pertanyaan Myungsoo. “Kau tidak masak sup rumput laut?”

“Kenapa? Kau ingin makan sup rumput laut? Aku akan memasaknya sebagai makan malam.”
“Bukan aku tapi kau.” Balas Myungsoo.

“Naega wae?”

“Orang seperti apa yang melupakan ulang tahunnya sendiri?”
“Ulang tahun?” Sooji menyerit sedetik kemudian ekpresinya berubah. “Ah,, ini hari uslang tahunku! Aku terlalu sibuk jadi tidak mengingat tanggal.” Jawabnya santai akhirnya berhasil memasukkan udang tadi ke dalam mulutnya.

“Apa yang akan kau lakukan dihari ulang tahunmu?” Tanya Myungsoo, dia pikir ini waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu kepada Sooji, mengingat telah banyak usaha Sooji untuk kepentingan keluarganya.

“Biasanya Aku dan ayah akan pergi ke makam ibu, baru setelah itu kami merayakan ulang tahunku.” Myungsoo termenung. Ya benar, hari ulang tahun sooji bertepatan dengan hari kematian ibunya. “Tapi hari ini jadwalku penuh.” Tambah sang gadis.
~

Biasanya Myungsoo berjalan dibelakang Sooji dengan langkah santainya, namum pagi ini sang pria berada di dua langkah didepan Sooji -masih dengan langkah santainya-.
Sooji memiringkan kepala sambil menggaruk tengkuknya ketika dilihatnya Myungsoo sedang membukakan pintu mobil untuk dirinya.
“Ayo masuk.” Perintah Myungsoo.
Sooji mengangguk pasrah dan masuk ke dalam mobil. Sang gadis mengamati setiap gerakan Myungsoo, menutup pintu, memutari mobil, sampai pria tersebut duduk disampingnya.
“Wae?” Myungsoo membalas tatapan Sooji.
“Aku yang seharusnya bertanya kenapa, kenapa tiba-tiba kau bersikap manis? Apa karna ini hari ulang tahunku, kemudian besok kau bersikap tak acuh lagi?”
“Sudah,, jangan terlalu dipikirkan.” Jawab Myungsoo santai, dia mulai melajukan mobilnya.
“Kau membuatku merinding Kim Myungsoo,,”
Myungsoo menyerit menoleh Sooji.
“Aku merasa seperti Cinderella yang sewaktu-waktu bisa menjadi upik abu lagi.”
Myungsoo tersenyum, “Cinderella tidak bekerja di perusahaan C&P.”

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

A/N : Suzy dapet tawaran ngisi OST dan drama adaptasi Webtoon. Serta Myungsoo yang maen drama. 🙂 MissA udah anniver jadi Infinite sebentar lagi juga 5 tahun 😀
Sebenernya sedikit ga ngeh sama drama yang di adaptasi dari Webtoon. Bukan dari segi cerita tapi dari pemilihan cast. Kenapa mereka selalu milih cast yang selalu happening? Kaya dulu Seolhyun, terus sekarang Suzy sama Kim Woobin.
Kenapa mereka ga milih Rockie yang belum pernah main drama? Itung-itung memberi kesempatan yang junior. Sadar atau ngak ‘membandingkan’ itu pasti akan terjadi. Bakalan susah bisa sebagus versi asli dan jika jelek yang dapet dampak ‘buruk’ itu Lead female.
Yah,,, apapun itu mari lihat apa yang akan terjadi berikutnya. 🙂
Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and Wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

40 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 6)

  1. Ternyt yuna salah paham sama suzy kkkkk
    Myung mulai perhatian. Sukka deh tapi gimn klo nnt minhoo balik?

    Suka

  2. Yuna salah paham ama suzy..
    Myung udah mulai prhatian ke suzy, yeayy 🙂 Semoga myungzy ke dpn’nya lebih dket lgi

    Suka

  3. Huah,,,,
    Myungsoo udah nyemek2 manisnya bikin meleleh.. haha

    Suka

  4. Huaaa Myungsoo Mulai cemburu yeth wkwkwww
    Next izin baca

    Suka

  5. Jd udh mulai brsikap bae niih…
    Cepet2 fallin love ya 🙂
    next…

    Suka

  6. astaga myung jealous ama adiknya sendiri.. gemes..
    myung kasi surprise dong si ulang tahun suzy.. btw besok ulang tahun suzy thor..😁😁😍😍

    Suka

  7. Cie cie myung.. Perhatian banget. Hahaa

    Suka

  8. ngakak pas adegan yuna sini sama suzy tiba” jadi baik pas suzy mgenalin diri menantu keluarga kim
    cie lo myungsoo udah mulai ada rasa cemburu sama suzy
    suka deh ayu suzy deketan terus aja sama adiknya myunsoo
    next thor gomawo

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s