We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 10)

41 Komentar

Title : Waiting Outside the Line

Author : Cahya Khosyiah

Main Cast : Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |

Original Cast : Yuna | Kim Sangbum |

Special Cast : Lee Hyeri

Pairing : Myungzy JJANG!

Genre : Romance, Married Life.

Rate : 18+

Disclaimer : Bae Suzy masih milik Lee Min Ho, Myungzy hanya sebuah fiction. Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Jika ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.
Huruf tebal untuk flashback
R&R
WOTL
/////////////////////////////////////////////////////////////////

 
Dengan tergesa-gesa Sooji turun dari mobil Myungsoo. Entah apa yang sedang terjadi Myungsoo pun tak tau, hanya saja wajah Sooji nampak tak tenang setelah mendapat panggilan tadi.

“Haruskah aku menunggumu?” Myungsoo.

“Terserah.” Jawab Sooji membelakangi Myungsoo.

“Aku akan menunggu.” Hanya lambaian tangan yang Myungsoo dapat, jawaban tak pasti.
~

Sesampainya Sooji di ruangannya, ia disambut oleh seorang pria yang berpakaian serba hitam. “Saya pikir dia ada di Seoul sekarang.” Ucapnya.

“Benarkah?” Sooji tak sempat duduk, dia berbicara menghadap pria tersebut.

“Saya sendiri tidak yakin, dia sering berpindah dan pekerjaanya tidak pasti. Besar kemungkinan dia sengaja menghindari kita.”

“Begitu,,,” Gumam Sooji.

“Apa kita perlu menambah personil?”

“Jangan.” Sooji menggeleng. “Ayah mungkin tau jika kalian bersikap berlebihan.”

Ini tentang Minho, Sooji tidak mau menyerah jika Minho belum ia temukan. Sooji harus tau bagaimana kabar Minho dan apa yang Minho lakukan sekarang. Memikirkan bagaimana sifat Minho sungguh membuat hatinya tak tenang.

“Lakukan dengan hati-hati, tidak perlu terburu-buru.” Ucap Sooji, dan pria
tadi pun meninggalkan Sooji sendiri di ruangannya.

Minho adalah orang yang tenang, namun jika dia merasa kecewa ia akan melakukan hal-hal bodoh termasuk melukai dirinya sendiri.
~

Sooji memelankan langkahnya ketika melihat Myungsoo masih berada disana. Myungsoo sedang berdiri bersandar pada mobil sambil melipat tangannya. “Kau masih disini?” Tanya Sooji ragu. Kira-kira sudah satu jam lebih Sooji berada diatas dan Myungsoo masih menunggunya, sungguh diluar dugaan.

“Kita pergi bersama jadi kita juga harus pulang bersama.”

“Aku tidak tau ada hal seperti itu.” Sooji menimpali jawaban Myungsoo. “Lain kali tidak perlu memaksakan diri. Aku bukan anak-anak lagi dan ini sidah abad ke 20, siapa bilang suami-istri harus terus bersama.”

Myungsoo mengerti maksud Sooji, namun sebenarnya Myungsoo hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Tak ada alasan tertentu, yang dia lakukan sekarang adalah bedasarkan kata hatinya.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Hari selanjutnya,,,
“Aku tidak mengerti wanita.” Myungsoo menyandarkan punggung di kursi lalu mengoyangkan ke-kanan dan ke-kiri.

“Wae? Sooji lagi?” Sungyeol menaikkan kedua alisnya. “Biasanya wajahmu bercahaya, aku kira hubungan kalian semakin hari semakin baik.”

“Dia menyuruhku melakukan sesuatu tapi saat aku melakukannya dia justru
melarangnya. Sooji itu aneh.” Ucap Myungsoo.
Sungyeol tertawa terpingkal-pingkal tak memperdulikan wajah Myungsoo yang mulai memerah marah. “Ini bukan lelucon.” Myungsoo.
“Haha,, baiklah,, haha,, sangat lucu membayangkan Sooji mempermainkanmu.”

“Apa?!!”

“Maksudku Sooji itu wanita yang berbeda, wanita biasa saja bisa sangat
membingungkan apalagi Sooji.” Sungyeol masih dengan tawa ringan.

“Berikan aku solusi jangan hanya tertawa.”

“Aku pun tak tau.” Balas Sungyeol. “Begini saja,,, karna Sooji adalah wanita yang berbeda. Selalu pikir apa yang disukai Soojung adalah hal yang tidak disukai Sooji, begitu juga sebaliknya.”
“Maksudmu aku harus mengabaikannya?”

“Bisa dibilang begitu. Lakukan saja seperti sebelumnya.” Jawab Sungyeol.

“Tapi kau tau kan Sooji bukan orang yang mudah bicara, aku takut hubungan kami
justru akan merengang.” Cukup masuk akal, jika Myungsoo diam Sooji juga diam lalu bagaimana hubungan mereka bisa berkembang?

“Itu lebih baik, daripada Sooji membentakmu.”
Myungsoo menegakkan tubuh. Tidak melakukan sesuatu adalah hal yang salah namun melakukan sesuatu yang salah akan memperburuk keadaan.
Myungsoo menggosok kepalanya kasar. Satu wanita ini benar-benar membuat Myungsoo ingin meledak.
~

Berjalan sambil terus berfikir bagaimana sikapnya nanti jika bertemu dengan
Sooji didalam. Haruskah dia melakukan saran Sungyeol atau melakukan seperti yang ia inginkan.

Myungsoo membuka pintu tanpa memberi salam, dia berjalan menuju tangga. Dilihatnya pungung Sooji sedang bergerak aktif di area dapur. Dia hendak menghampiri Sooji namun baru dua langkah Myungsoo kembali berhenti.

Mungkin dia harus mencoba saran Sungyeol.
Berjalan berlawanan, Myungsoo menggerakkan kakinya menuju tangga. “Kau sudah pulang,,” Myungsoo memutar punggungnnya. “Ya.” Jawabnya kemudian.

“Makan malam akan siap sebentar lagi, mandilah.” Ucap Sooji kepada Myungsoo.
Myungsoo hanya mengangguk dingin.
~

“Apa terjadi sesuatu di kantor?” Sooji menutup pintu kamar mereka sambil mengekor di belakang Myungsoo.

“Tidak.” Jawab Myungsoo singkat.

“Selama makan malam kau tidak bicara sama sekali, kau bahkan tidak menyapa Moonsoo seperti biasa.” Sooji melipat tangan didada. “Aku pikir kau sudah mulai mencair tapi kau justru kembali ke sifat aslimu.” Ucap Sooji panjang lebar.

“Beginilah diriku.” Myungsoo membuka sebuah buku dan mulai menyibukkan diri, sedangkan Sooji hanya bisa meninggalkan sang pria dengan penuh tanda tanya di kepala.

Myungsoo melirik Sooji yang masuk ke ruang ganti. Mungkin ini lebih baik,
Sooji tidak akan marah dengan yang dilakukan Myungsoo dan dia bisa lebih tenang.
“”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Hubungan mereka berjalan damai selama dua bulan terakhir. Tidak ada keributan dan perdebatan yang banyak terjadi antara Myungsoo dan Sooji.

Sooji selalu pulang lebih awal, dan Myungsoo datang satu jam setelahnya. Selesai makan malam mereka mengobrol ringan kemudian pergi tidur. Jika ada banyak pekerjaan di kantor, Myungsoo lebih memilih menyelesaikannya diruang kerja pribadinya. Karna jika dia mengerjakan dikamar tidur, Sooji akan keluar dari ruang ganti dan mengomelinya.

Yang Myungsoo lakukan adalah semata-mata untuk menghindari adanya percecokan antara mereka.

Seperti malam ini,,,
“Bagimana perkembangan pemasaran?” Sooji menghentikan Myungsoo yang hendak keluar kamar.

“Berjalan lancar. Kami sudah mulai memasarkannya di Hongkong dan Thailand.” Jawab Myungsoo. “Terimakasih atas masukanmu.”

“Baguslah.”

“Dan Karyawan mulai menghormatiku sejak adanya rumor penganggkatan Presedir baru.”

“Aku harap itu bukan hanya rumor.”Sooji menimpali ucapan Myungsoo.
~
~

Sooji melihat kalender diatas mejanya.
Sooji pikir mereka sudah sama-sama dewasa, tidak masalah jika membicarakan ini dengan Myungsoo. Ini adalah permasalahan rumah tangga mereka bukan hanya masalahnya sendiri.

Jika Myungsoo bilang tak keberatan kalau mereka tidak punya anak itu akan melegakan, namun jika Myungsoo inginkan keturunan mereka pasti menghadapinnya bersama.
Sooji sudah siap dengan segala kemungkinan, bahkan yang terburuk sekalipun,,,

“Nona,,,” Sooji langsung mengangkat kepalanya karna mendengar sebuah suara secara tiba-tiba, dilihatnya wajah Hyeri nampak begitu panik. “Wae?”

“Ditemukan mercuri pada produk kosmetic Kim Copr.”

“Mwo?!!!!!” Mata Sooji membulat lebar, sanking terkejutnya.

“Seorang pelanggan mengirim tuntutan pada pihak Distributor di Hongkong, dia alergi dengan bahan tersebut kemudian lembaga pergadangan China melakukan pemerikasaan dan semua produk yang dikirim ke Hongkong positif mengandung mercuri.” Jelas Hyeri lebih lengkap.

“Selama sebulan lebih aku sudah mengawasi jalannya produksi. Tidak mungkin ada kesalahan.”

“Produk-produk itu sudah dikembalikan ke korea, begitu juga dengan produk di Thailand. Selanjutnya produk yang ada di korea juga akan diperiksa, surat keputusan mungkin sebentar lagi turun.”

Produk kosmetik yang dikerjakan Kim Copr 100% terbuat dari bahan alami. Jika ditemukan bahan kimia didalamnya produk ini pasti akan dibanned.
Sooji mengigit bibir bawahnya. Ini adalah produk impian ibu Myungsoo, juga sebagai pembuktian kemampuan sang pria.
Project ini sangat penting baginya, sekarang dia pasti sedang terpukul.
!!!
Benar! Myungsoo sedang terpukul sekarang. Sooji mengambil tasnya dan bergegas pergi ke perusahaan utama Kim Copr.
~
~
“Myungsoo didalam?” Tanya Sooji tanpa basa-basi.
Lima orang sedang berdiri didepan ruangan Myungsoo. Sungyeol, Moonsoo, dan tiga karyawan yang tak Sooji ketahui identitasnya. Wajah mereka nampak khawatir.

“Dewan direksi sedang melakukan pertemuan darurat tapi kakak tidak mau keluar, dia bahkan menolakku masuk.” Moonsoo menjawab pertanyaan Sooji dengan gamblang.
Sooji memutar knop pintu, sukurlah tidak dikunci jadi mereka tidak perlu mendobraknya.
~

Sooji menghela nafas melihat Myungsoo, sang pria sedang duduk sambil menopang kepala dengan kedua tangan. Rambut dan pakaiannya benar-benar berantakan, biasanya Sooji akan marah jika melihat penampilan Myungsoo seperti itu namun kali ini Sooji justru merasa kasian.
Sooji menarik kursi kedekat Myungsoo, duduk disamping suaminya.
Sooji berdehem, “Jujur saja aku tidak tau harus berkata apa? Kau tau kan aku bermulut tajam jadi bagaimana aku bisa menenangkanmu.” Sooji tersentak karna Myungsoo tiba-tiba meletakkan kepalanya dipangkuan Sooji.
Pelan-pelan tangannya bergerak ke punggung Myungsoo, menepuk tubuh sang pria dengan lembut.
Tidak ada suara yang keluar tapi Sooji tau Myungsoo sedang menangis, ia bisa merasakan rok yang ia pakai mulai basah.

Langit sudah mulai gelap dan Myungsoo tak juga menaikkan kepalanya, begitu juga dengan Sooji yang masih setia menepuk punggungnya. Hingga sampai tangan Sooji naik ke rambut Myungsoo lalu mengusapnya pelan.

“Ibu pasti mengerti.” Sooji memecahkan keheningan yang tercipta sejak dia datang kemari. “Moonsoo, Ayah, dan aku. Kau tidak pernah sendiri. Bersemangatlah.”
Myungsoo mengangkat kepalanya, menatap lekat wajah Sooji.
“Kau yang terbaik, Kim Myungsoo.” Senyum Sooji.
Jantungnya berdetak tak karuan, sangat cepat. Jantung siapa ini?
Entah bagaimana wajah mereka menjadi sangat dekat. Myungsoo dan Sooji saling mengamati satu sama lain, mengikuti mata yang berkedip, nafas yang berhembus, dan,,,

“Itu kalimatku,,,” Ucap Myungsoo menjauhkan wajahnya.
“Kalimat yang ampuh untuk membangkitkan,,”
Myungsoo menoleh.
“,,,mebangkitkan semangat.” Lanjut Sooji. “Kau pikir apa?”
Myungsoo berdesis ringan.

“Jika kau sudah baikan bolehkah aku mengatakan sebagai seorang Bae Sooji?”

Myungsoo mengangguk menyungging senyum. Seorang Bae Sooji yang kasar maksudnya?

“Kau seperti pecundang, menyerah tanpa melakukan apapun. Menjijikkan.” Ucap Sooji dengan nada ketusnya. “Jangan lupa janjimu. Kau akan jadi CEO Kim Copr. Aku bahkan belum mendapatkan apapun darimu dan kau akan menyerah? Aku tidak bisa membiarkannya.”
“Kata pecundang itu keterlaluan Bae Sooji.”
“Lalu apa? Tidak ikut rapat direksi dan membuat orang lain berdiri didepan kantormu, menggelikan sekali. Kau tau?”
“Baiklah Nona pemenang. Beritahu saya apa yang harus kita lakukan?” Myungsoo.

“Kau urus pembenahan internal saja, soal tuntutan dan masalah yang muncul berikan padaku.”

“Kau?” Myungsoo menyerit. Serius Sooji akan membantu dengan suka rela?

“Tentu.” Sooji mengangguk yakin. “Tapi,,, Ingat, saat kau sudah menerima warisan ayah berikan setangah sahammu padaku.”

“Arraso.” Jawab Myungsoo pasrah.

“Aaak! Itu akan lebih banyak dari sahammu yang sekarang.” Ucap Sooji girang.

Biasanya seorang wanita yang serakah dengan harta akan terlihat menyebalkan tapi kenapa Sooji justru nampak menggemaskan. Myungsoo tersenyum lucu dengan tingkah Sooji.
~

“Kalian baru pulang?”
Sooji dan Myungsoo membungkung memberi salam pada Sangbum. “Sudah diputuskan, sebelum surat keputusan turun pabrik akan berhenti melakukan produksi.” Ucap sang ayah.

“Mulai besok saya mungkin akan pulang terlambat.” Sooji berucap pada Myungsoo dan ayah mertuanya. “Project kosmetic ini juga merupakan tangungjawab saya.”

“Apa yang akan kau lakukan?” Sangbum.

“Saya akan mencoba membujuk para investor untuk tetap percaya pada kita, tentu itu tidak akan mudah saya juga harus mengumpulkan data yang terpercaya.” Sooji memberi penjelasan dengan lugas.

“Berarti kau akan mengurus masalah yang terjadi di Hongkong? Baiklah, aku percayakan semua padamu. Kau,,,” Sangbum beralih ke Myungsoo. “Lihat seberapa banyak kau merepotkan istrimu. Dasar.”

Sooji melirik Myungsoo yang menunduk tak membalas ucapan ayahnya.
“Saya naik dulu.” Pamit Sooji.
“Istirahatlah.” Sangbum juga meninggalkan Myungsoo.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Tak seperti biasa, untuk yang pertama kalinya sejak Myungsoo dan Sooji menikah Myungsoo tidak melihat keberadaan Sooji didapur. Dia melihat sarapan yang sudah siap tersedia di meja.

“Dimana Sooji?” Tanya Myungsoo pada asisten rumah tangga mereka.

“Nyonya sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu, saat saya sampai disini beliau sudah selasai memasak.”

Myungsoo melihat jam tangannya, ini bahkan masih pukul 6 pagi. Sooji benar-benar bekerja keras.
“Nyonya juga menyiapkan masakan untuk makan malam.” Tambah ajuhma lagi.

“Moonsoo dan Ayah?”

“Tuan baru saja pergi, adik anda sepertinya masih tidur.”
Myungsoo mengangguk sekali, “Tolong buatkan aku bekal, aku akan memakannya saat perjalanan ke kantor.” Ia pergi meninggalkan meja makan.
~
~

Malam harinya juga begitu. Hal yang biasa Myungsoo lihat tentang Sooji tak bisa ia saksikan lagi. Myungsoo tiba dirumah lebih awal, padahal Myungsoo selalu pulang pukul sepuluh sembilan malam.

Sudah seminggu hal seperti diatas terjadi. Mereka berada di satu rumah tapi tak pernah bertemu. Sooji berangkat pagi-pagi sekali dan pulang saat Myungsoo sudah terlelap. Bahkan seminggu ini Sooji tak lagi memasak untuk keluarga Kim. Tak ada yang bertanya maupun keberatan, mereka mengerti dengan keadaan Sooji sekarang. Apa yang dia lakukan adalah untuk Kim Copr.
Tapi itu mengganggu Myungsoo. Bagaimana bisa Myungsoo hanya mengurusi keadaan produksi sedangkan Sooji bekerja amat keras diluar sana.

Myungsoo mendekatkan benda pipih ke telinganya. “Sooji,,” Sapanya.
“Kau sudah menerima surat keputusan?”
“Kau sudah makan siang?”
“Myungsoo, aku sedang bersama tim kementrian ekspor-impor sekarang. Akan ku telfon lagi nanti. Keunon,,”

Myungsoo menghela. Dia merasa bersalah pada Sooji, seharusnya ia yang bertangung jawab dengan project ini namun justru Sooji yang bekerja keras.
~

Myungsoo menunggu istrinya diruang tamu. Ia ingin tau jam berapa sebenarnya Sooji pulang ke rumah.
Waktu menunjukkan pukul sebelas tapi Sooji belum juga datang. Sekitar dua puluh menit kemudian terdengar seorang membuka pintu. Myungsoo bangkit untuk menyambut orang tersebut.

“Kau baru pulang?” Myungsoo sambil menyembunyikan kedua tangannya disaku.

“Aku kira kau sudah tidur.” Sooji nampak tak begitu menghiraukan keberadaan Myungsoo, tak taukah dia? Myungsoo sudah menunggunya lebih dari dua jam.

“Tadi pagi Surat Keputusan sudah aku terima, mereka bilang pabrik dibanned.” Ucap Myungsoo.

“Biarkan aku istirahat, aku sangat lelah. Akan ku urus lagi nanti.” Sooji meninggalkan Myungsoo.

Bukan itu yang ingin Myungsoo katakan. Myungsoo ingin Sooji berhenti dari project, ia tak mau Sooji memaksakan diri seperti ini.

Namun Myungsoo tebak Sooji tidak akan mendengarkannya. Lihatlah, Myungsoo baru saja diabaikan.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Myungsoo turun ke ruang makan dengan membawa satu kardus botol vitamin.

‘Jangan bekerja terlalu keras. Makan buah dan minum ini sebelum kau berangkat.’ Tulisan Myungsoo disalah satu kertas kecil yang ditempel pada botol. “Tolong berikan ini pada Sooji setiap pagi.” Pesan Myungsoo Asiten rumah tangganya, dia sudah menulis note pada setiap botol didalam kardus.

“Semua ini?”

“Satu hari satu botol, dan tolong siapkan makanan bergizi untuk sarapannya juga.”

Jika Myungsoo tak bisa menyuruh Sooji berhenti, setidaknya Myungsoo harus membantunya menjaga tenaga sang wanita.
////////////////////////////////////////////////////////////////////
A/N : Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

41 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 10)

  1. sepertinya ada peran antagons nantinya nih?kira” siapa ya?
    suzy kasian tp myung jg kasian smga masalahnya cepet selesai
    next fighting!!!

    Suka

  2. jd disini tuh sebenarnya siapa yg punya project eh malah siapa yg tanggung jawab.
    Jt terkesan myungsoo tu ga jentle dn pecundang… Tetep seru
    Next chap d tunggu

    Suka

  3. Apa jg2 minho pelakunya,,??

    Suka

  4. Koq berasa *tegang ya???
    Baru aja mulai relaks eehhh tegang lagi bacanya… Moga jelas permasalahannya berawal dan diakibatkan oleh siapa nantinya…

    Ditunggu 😊

    Suka

  5. syp yang nyabotase produk myungsoo? pasti ada yang jahat

    Suka

  6. wah suzy sangat berusaha keras untuk membantu perusahaan myung…suzy fighting

    Suka

  7. Aku kasihan sama suzy, tapi mau bagaimana lagi itu memang sifatnya dan myungsoo harus mengerti tp harus memperhatikan juga

    Suka

  8. aku rindu tulisanmu authornim..
    hwaa kangen myungzy juga

    Suka

  9. Ini kapan dilanjut author..?
    Kelanjutannya udah sangatttt ditunggu.
    Semoga bisa segera update.
    Aku setiaaaa nungguuu^^

    Suka

  10. cie lo myungsoo perhatian
    kasin mereka berdu dak bisa sweet”an lagi semoga masalahnya cepet kelar
    suzy juga semoga bisa cepet punya baby
    next thor gomawo gomawo gomawo
    fighting ya thor

    Suka

  11. Siapa yang memasukan mercury?

    Disukai oleh 1 orang

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s