We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 11)

10 Komentar

Title                 : Waiting Outside the Line

Author             : Cahya Khosyiah

Main Cast        :  Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast       : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |

Original Cast   : Yuna | Kim Sangbum |

Special Cast     : Lee Hyeri |

Pairing             : Myungzy JJANG!

Genre              : Romance, Married Life.

Rate                 : 18+

Disclaimer        : Bae Suzy masih milik Lee Min Ho, Myungzy hanya sebuah fiction. Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Jika ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback

R&R

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

 

Myungsoo sedang menjalankan mobilnya diarea pertokoan tengah kota. Karna pekerjaannya sudah selesai dan tak ada salahnya membelikan sesuatu untuk Sooji sebagai hadiah.  Setelah berkeliling beberapa menit, Ia pun berhenti didepan area pertokoan. Didepan toko bunga lebih tepatnya.

Sibuk melihat berbagai jenis bunga, tak sengaja mata Myungsoo menangkap sosok yang tak asing baginya. “Soojung,,,” Sapa Myungsoo menghampiri sosok tersebut.

Perempuan itu menoleh dan tersenyum, “Lama tidak berjumpa.”

“Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Sama sepertimu.” Jawab Soojung. “Kau mencari bunga untuk Sooji?”

“Sebenarnya…” Myungsoo tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk, mengatakan dua huruf ‘Ya’ bisa sesulit ini. “Jika tidak sibuk. Bisakah kita minum kopi bersama? Ada kedai kopi disebarang toko ini.”

“Kau yang tlaktir,,,” Soojung tersenyum.

~

~

 

Sooji membuka lembar demi lembar dokumen yang ada dipangkuannya. Sangat cekatan juga teliti. Sebelum mereka datang, ia harus memastikan tak ada celah sedikitpun pada proposal yang akan ia serahkan pada distributor Thailand.

Tangan Sooji berhenti di halaman ke tiga saat dia mendengar ada panggilan masuk. Sooji melihat nama kontak yang tertera dilayar, Dia menghela nafas. Sooji benar-benar tak ingin diganggu pada saat seperti ini.

“Naya. Wae?” Sooji langsung to the poin.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Bekerja, tentu saja.” Jawab Sooji ketus.

“Keluarlah sekali-kali. Kau bekerja untuk siapa jika bukan dirimu sendiri?” Ucap seorang wanita dari seberang.

“Kau menghubungiku untuk ini?”

“Apakah butuh alasan?”

“Hanya terkejut. Nyonya Yoo Inna istri CEO Mitsu Grup yang terhormat punya waktu menelfonku.” Sooji menyebut nama belakang sang penelfon dengan sangat panjang. “Kau tidak pernah menghubingiku sebelumnya.”

“Di umur yang semakin bertambah kita tidak punya teman selain musuh dimasa SMA.” Jawab wanita yang diketahui bernama Inna ini.

“Aku tidak punya waktu untuk mengobrol.” Balas Sooji.

“Sungguh mengejutkan. Kau sibuk bekerja sedangkan suamimu sedang dinner dengan wanita lain.” Ucap teman Sooji terdengar mencibir.

Alis Sooji menyerit mendengar ucapan Inna. “Berhenti bicara omong kosong.”

Suara dari sebrang sana terdengar berdesis. “Aku akan memotret mereka. Tunggulah.”

Lama Sooji menatap ponselnya yang sudah mati.

“Sajangnim, mereka sudah datang.” Ucapan Hyeri membuyarkan lamunan Sooji.

Sooji bangkit, “Selamat datang,,,” Sambut Sooji tersenyum pada tiga orang berpenampilan rapi. “Senang bertemu anda,,” Sooji bersalam satu per satu dari mereka.

“Dikeadaan seperti ini seharusnya kau membawa kami ke tempat yang bagus.” Ucap salah satu dari pria tersebut.

“Saya membawa anda ke tempat yang mudah kalian cari.” Ucap Sooji masih dengan senyum ramah.

“Hoii,, tidak masalah  tempatnya dimana asalkan bersama Nona Sooji dimanapun akan terasa indah.” Ucap yang lain.

Sooji menunduk mengepal tangan, sedetik kemudian ia tersenyum ramah pada mereka.

~

~

 

Myungsoo bergegas masuk rumah ketika melihat mobil yang biasa dipakai Sooji sudah terparkir dibagasi, dia  menuju langsung kamarnya.

“Kau pulang lebih awal?”

Sambil melipat tangan didepan dada, Sooji berjalan mendekati Myungsoo. “Kenapa? Apa akhir-akhir ini kesepian karna istrimu sibuk bekerja? Atau justru kau meresa senang dan berharap aku tak pulang malam ini?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”  Tanya Myungsoo bingung.

Sooji melempar ponsel pada Myungsoo. Untung saja sang pria punya reflek yang bagus, jika tidak ponsel tersebut mungkin sudah hancur.

drama (22)

“Jika kau punya banyak waktu luang seharusnya projectmu tidak berakhir begini?”

Myungsoo menyerit. Apakah gerangan yang membuat Sooji begitu murka. Dia melihat ponsel yang dilemparkan padanya tadi.

“Dari mana kau dapat foto ini?” Myungsoo melihat foto dirinya bersama Soojung sore tadi.

“Ya! Kim Myungsoo! Apa kau tau apa yang ku alami hari ini?” Sooji melebarkan mulutnya sambil mendongak ke atas, memasukkan lebih banyak oksigen  ke dalam dadanya yang sudah sesak dari tadi. “Aku harus tersenyum pada pria yang menggodaku!”

“Siapa yang menggodamu? Kenapa kau tersenyum padanya?” Tatapan Myungsoo menjadi tajam.

“Jelaskan lebih dulu tentangmu. Kau sudah tertangkap basah, Kim Myungsoo.” Mata Sooji tak kalah tajam.

“Kau…” Myungsoo maju satu langkah. “Aku sering melihat ini. Wanita karir melakukan apapun untuk mendapatkan yang mereka inginkan.”

“Hari ini tersenyum, besok ke cafe, lalu hari berikutnya kau memesankan kamar hotel…”

Plak!!!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Myungsoo, “Bisakah kau mengatakan itu? Bahkan saat dirimu yang pergi dengan wanita lain.”

“Aku hanya tidak sengaja bertemu Soojung.”

Tangan Sooji mengepal tertahan, dia benar-benar tak suka mendengar nama tersebut. “Jika kau punya banyak waktu luang, datanglah ke kantorku. Jangan berkeliaran dan berkencan dengan mantan pacarmu.”

“Terserah apa katamu.” Hanya satu kalimat dan Myungsoo langsung pergi meninggalkan Sooji dengan emosi yang meluap-luap.

“Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!” Sooji berteriak.

“Katakan padaku jika sudah selesai.”

Cegles!!!

Myungsoo menutup pintu dari luar.

Sooji mengacak-acak rambutnya. Seharusnya Sooji yang marah, tapi kenapa malah Myungsoo yang pergi. Seharusnya tadi Sooji langsung saja memaki-maki Myungsoo.

“AAK!” Sooji melempar bantal-selimut ke sembarang arah.

“Noona,,” Sebuah bantal hampir saja menghantam wajah Moonsoo.

“Ada apa?” Sooji merapikan rambutnya, menjawab panggilan Moonsooo dengan tenang.

“Ayah memanggilmu.”

Sooji mengecapkan mulut. Ayah mertuanya pasti mendengar pertengkaran antara Myungsoo dengan dirinya.

~

~

“Ahbonim memanggil saya?” Sooji berdiri menunduk didepan ayah mertuanya.

“Kenapa kalian bertengkar?”

“Hanya salah paham. Ini bukan sesuatu yang besar.” Jawab Sooji.

“Myungsoo masih menemui wanita itu?”

“Maafkan saya, tapi ini benar-benar hanya salah paham.” Sooji masih kukuh tak mau bicara yang sebenarnya.

“Mungkin permintaan ku ini terlalu berat untukmu tapi aku akan tetap memintanya. Tolong jangan pernah menyerah pada Myungsoo, aku hanya bisa percaya kau, Sooji.”

~

 

Selesai bicara dengan ayah mertuanya Sooji kembali ke lantai atas dan dia langsung disambut oleh sang adik ipar, Moonsoo.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku sudah gila. Benar-benar memalukan.” Jawab Sooji.

“Kenapa kalian saling berteriak?”

“Tadi pasti terdengar diseluruh rumah kan? Aku tidak pernah berteriak separah itu sebelumnya.” Sooji sungguh-sungguh merutuki dirinya. Entah setan apa yang tadi merasuki dirinya, sampai-sampai ia tak bisa mengendalikan diri.

“Aku juga baru pertama kali melihat wajah kakak memerah karna marah. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian.” Ucap Moonsoo.

“Apa dia sangat marah?” Batin Sooji. “Tapi kenapa? Karna aku memorgokinya?”

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

 

Dipagi hari Myungsoo sengaja bangun dan berangkat ke kantor saat Sooji sudah berangkat. Dia melewati ruang makan hanya untuk memberi salam pada Ayah dan adiknya, lalu Myungsoo pergi tanpa sarapan. Dia tak punya selera makan pagi ini.

“Nyonya tidak mau minum ini tadi pagi. Apa yang harus saya lakukan?” Ucap ajuhma pada Myungsoo.

“Terserah. Buang saja.” Jawab Myungsoo.

“Sekarang kau berani membuang makanan?” Sangbum mengintrupsi Myungsoo.

“Bibi untukmu saja.” Moonsoo ikut berbicara pada ajuhma.

“Tapi ini sangat banyak, tuan.”

“Untuk keluargamu juga. Kau punya orang usia lanjut kan dirumah?”

“Terima kasih, tuan.” Ajuhma pun pergi dari ruang makan.

“Duduk. Aku ingin bicara padamu.” Ucap Sangbum pada Myungsoo.

“Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu.” Moonsoo pamit undur diri.

“Kenapa kau berteriak pada Sooji tadi malam?”

Myungsoo diam tak menjawab pertanyaan sang ayah.

“Kau pergi kemana kemarin?”

“Aku bicara sangat keras jadi ayah pasti mendengar semuanya.” Myungsoo.

“Ini yang terakhir kalinya aku mendengar kalian bertengkar, jangan ulangi lagi.”

“Aku tidak akan marah jika dia tidak…”

“Jadi kau merasa dirimu benar?” Sangbum memotong ucapan Myungsoo. “ Kau belum mengerti? Walaupun itu bukan Sooji, ayah tetap tidak menyukai Soojung.”

“Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa ayah membenci Soojung.”

“Aku tidak pernah membenci Soojung, aku tidak suka kau menjalin hubungan dengannya.”

“Kenapa ayah tidak menyukainya?” Pertanyaan ini… pertanyaan yang Myungsoo tahan selama 3 tahun akhirnya ia sampaikan.

“Cara berfikir, pekerjaan, latar belakang,  tidak ada yang cocok dengan kita.”

“Tapi aku mencintainya ayah! Sangat. Aku bahkan tidak habis pikir kenapa aku bisa menikahi wanita lain, sampai sekarang aku belum bisa mengeluarkan Soojung dari kepalaku.” Myungsoo tak tahan lagi, ayahnya harus tau perasaan Myungsoo sebenarnya.

“Kita perlu wanita yang kau butuhkan, bukan wanita yang kau cintai.”

“Aku sudah menikahi wanita yang anda butuhkan, jadi terserah saya melakukan apapun.” Myungsoo berbicara tanpa ada emosi, kemudian ia meninggalkan sang ayah.

~

~

 

Pukul tujuh malam.. sebenarnya Myungsoo ingin langsung pulang dan beristirahat di rumah, namun pertemuannya dengan Moonsoo di lobi tadi membuat dia berubah pikiran.

“Kakak sudah ingin pulang?”

                   “Ya. Kau juga? Kita pulang bersama kalau begitu.” Tawar Myungsoo pada Moonsoo.

                   “Tidak. Sooji menyuruhku ke kantornya saat aku sudah selasai. Sepertinya pekerjaan dia sangat banyak.” Timpal Moonsoo.

                   Myungsoo berdecak, ia sudah memperingatkan Moonsoo untuk tidak memanggil kakak iparnya dengan nama.

                   “Biar aku saja yang kesana. Kau pulanglah.”

                   “Kalian sudah berbaikan? Cepat sekali.”

                   Myungsoo menatap Moonsoo tanpa menjawab.

                   “Arraso… Aku pulang. Tidak bertanya lagi.” Moonsoo.

Myungsoo berhenti berjalan. Dilihatnya Sooji sedang bersama tiga orang pria yang ia kenal. Pria-pria itu adalah pihak ditributor untuk produknya di Thailand.

Myungsoo melangkah pelan mendekati mereka.

“Kapan kau punya waktu luang? Kau selalu sibuk saat kami ajak ke bar.” Ucap salah satu dari pria tadi.

“Anda tau kan kami dalam masa sulit.” Jawab Sooji senyum.

“Karna itu kau butuh hiburan. Kami akan menyelesaikan segala sesuatu.”

Sooji menggeser tubuhnya mundur ketika satu pria dari mereka hendak merangkul pundak Sooji.

“Kalau begitu lakukan dengan cepat supaya kami bisa berlibur.” Myungsoo datang ditengah-tengah mereka.

“Kenapa kau kesini?” Sooji nampak terkejut

“Istri anda tidak bilang kalau anda akan datang, sepertinya komunikasi kalian tidak lancar.” Ucap pria dengan jarak paling jauh dengan Myungsoo. Jika dekat, Myungsoo pasti sudah menonjoknya.

“Saya tidak perlu bilang hanya untuk bertemu dengan istri saya, bukan?”

“Kim Myungsoo!” Tegus Sooji dengan menyikut perut Myungsoo.

“Jika saya menjadi anda, saya tidak akan mengijinkan istri saya yang cantik  dan rapuh untuk bekerja, apalagi sampai membiarkannya diluar rumah pada jam segini.”

Sooji menatap tajam pria yang berbicara barusan. Beraninya dia merendahkan Sooji, beberapa hari ini Sooji memang berusaha menahannya tapi kali ini tidak lagi. Belum sempat Sooji membalas ucapan pria tadi Myungsoo sudah mendahuluinya.

“Saya tidak mau Sooji menyia-nyiakan bakatnya untuk ke-egoi-an saya.”

Sooji tercengang cukup lama, begitu juga dengan pria-pria tadi. Kalimat yang singkat tapi sangat keren.

“Heiii,,, kenapa jadi tegang begini.” Salah satu dari mereka mencoba melunturkan ketegangan. “Kalau begitu kami pergi dulu.”

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau tau putra sulung Presedir Kim tidak bisa diajak bercanda.” Myungsoo masih bisa mendengar pembicaraan ketiga pria tadi.

“Kenapa kau kemari? Dimana Moonsoo?” Sooji lansung menercaki Myungsoo dengan pertanyaan.

“Kau bilang akan mengurus segala hal tapi sekarang justru memanggil semua orang untuk membantumu.”

“Aku meminta Moonsoo, jadi pulanglah.”  Sooji memutar tubuhnya, meninggalkan Myungsoo sedang Myungsoo justru mengikuti langkah kaki Sooji menuju ruangan sang wanita.

“Mereka juga yang menggodamu kemarin?”

Sooji diam, itu artinya Iya.

“Cari perusahaan lain saja. Aku tidak suka mereka.” Myungsoo dan Sooji sudah berada didalam lift.

“Kau pikir, siapa yang mau bekerja sama dengan kita setelah scandal kemarin?” Sooji menoleh pada Myungsoo.

DEG!

Ada apa ini? Kenapa jantung Sooji berdetak keras saat Myungsoo menatapnya balik? Seperti Sooji kehilangan udara disekitarnya. Tidak mungkin! Bukan! Ini hanya karna mereka didalam lift, jadi kapasitas oksigennya menipis… Sooji berusaha mengelak, dia tidak mungkin gugup hanya karna tatapan dari Myungsoo.

~

~

~

Myungsoo menghela nafas berat. Dia pulang dan tak medapati siapapun berada dirumah. Myungsoo rindu masa-masa dimana dia bisa melihat pungung Sooji saat ia melewati dapur atau saat Sooji berteriak karna membawa leptop ke kamar.

Myungsoo tersentak melihat seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandi, namun sedetik kemudian dia melemas. Pikirannya sudah kacau, sampai-sampai dia melihat Sooji berjalan kearahnya.

“Kau sudah datang?” Dan sekarang ilusinya bicara.

“Ada apa denganmu?” Tepukan tangan Sooji pada pipi Myungsoo yang terasa nyata akhirnya menyadar Myungsoo bahwa ia tak sedang berhalusinasi.

“Kenapa kau ada dirumah?”

“Aku tidak tau ini sampai kapan tapi selagi aku punya waktu aku akan meluangkan waktuku untuk melaksanakan tugas sebagai seorang menantu.” Ucap Sooji.

“Senang melihatmu dirumah.” Sooji berdesis mendengar perkataan Myungsoo.

“Sooji,,, em,,, apa tidak sebaiknya kau dirumah saja?”

“Aku sedang dirumah sekarang.” Timpal Sooji.

“Maksudku,,, tidak berangkat ke perusahaan lagi tetap dirumah setiap hari.”

“Apa-apan ini?” Sooji melempar handuknya sembarang. “Kau bilang kau tidak mau menyia-nyiakan bakatku,,”

“Bukan begitu maksudku,,, Lagi pula kau berbakat dalam segala hal.” Myungsoo

“Baiklah, tapi Kenapa? Kenapa aku harus menuruti perkataanmu?”

“Karna aku,, aku,,” Myungsoo tergagap. “Terserah kau sajalah.” Myungsoo pergi ke lantai atas tanpa melanjutkan ucapannya.

“Bilang ‘karna kau istruku’ saja tidak bisa mau mengatur hidupku, ck,,” Desis Sooji.

Disisi lain…

Sesampainya Myungsoo dikamarnya, dia terus berdumel tak jelas. Myungsoo pasti kehilangan kepercayaan diri saat menghadapi istrinya. Sooji selalu punya sesuatu untuk menentang Myungsoo.

Myungsoo mengambil ponsel dari sakunya yang berdering. Sebuah  alaram pengingat. “Besok ya,,” Guman Myungsoo.

~

~

 

Seorang pramuniaga menyambut Myungsoo dengan ramah. Pramuniaga tersebut bertanya apa yang dinginkan Myungsoo. “Berikan aku kalung untuk hadiah ulang tahun teman lama.” Ucap Myungsoo. Hari ini adalah hari ulang tahun Soojung. Karna waktu itu Soojung mengembalikan kalung pemberian Myungsoo jadi setidaknya Soojung akan menerima ini sebagai teman.

“Kami membawakan terbaik disini. Ini ungkapan cintamu yang besar sedangkan ini bermakna bahwa dia berharga untukmu.” Ucapan wanita tersebut mengingatkan Myungsoo pada perkataan Sooji dulu.

“Kau tau kenapa wanita suka perhaiasan? Karna itu membuat dia merasa berharga.”

                   “Aku pilih yang ini.” Myungsoo menunjuk salah satu dari item yang dibawakan sang pramuniaga, kalung emas putih dengan bandul kecil. “Dan berikan aku sebuah cincin yang paling mahal disini.”

Wanita itu membawakan cincin yang diinginkan Myungsoo, “Apa anda akan melamar teman anda tersebut?”

“Ye?” Alis Myungsoo terangkat. “Bukan. Ini untuk istriku.”

“Anda akan melamarnya dua kali?”

Myungsoo hanya membalas pertanyaan tersebut dengan senyuman. Dia mengamati cincin tadi, modelnya bagus tapi ini berlebihan. Muntianya terlalu besar jadi terlalu mencolok. Dia atak yakin Sooji akan menyukai cincin ini. “Ada yang lain? Istriku wanita sombong tapi dia sangat pintar, tegas, kompeten, dan juga percaya diri. Berikan aku model yang cocok untuk kepribadiannya.”

“Kepribadian yang sangat menarik. Istri anda sangat beruntung mempunyai suami perhatian seperti anda.” Myungsoo tersenyum merekah. Seharusnya Sooji mendengar perkataan itu.

~

~

“Dimana?”

Sooji memutar bola matanya jengah, mengucapkan dua kalimat ‘kau dimana?’ bukan suatu pemborosan kan? “Aku mau pulang.” Jawabnya.

“Aku didepan kantormu sekarang.”

“Kenapa?”

“Kenapa kau selalu bertanya ‘kenapa’? Keluar saja. Tinggalkan mobilmu.” Ucap Myungsoo melalui telfon.

Sambil memegang  handphone ditelinga, Sooji keluar dari lobbi. Dari balik punggung Sooji menghampiri Myungsoo yang sama-sama memegang ponsel. “Apa kita akan pergi kencan?” Tanya Sooji. “Seharusnya kau bilang sebelumnya, agar aku bisa bersiap-siap.”

“Jangan banyak bertanya dan cepat keluar.” Perintah  Myungsoo.

“Aku berada dibelakangmu.”

Myungsoo memutar tubuhnya dan menemukan Sooji sudah berdiri disamping mobilnya.  “Masuk.” Perintahnya membukakan pintu untuk Sooji.

“Kita akan kencan di restoran mana?” Tanya Sooji lagi.

“Aku tidak mengajakmu kencan.” Myungsoo menjawab dengan mata tetap fokus ke kepan.

“Lalu kenapa kau berpakaian rapi?”

“Kita hanya akan pergi ke Sungai Han.”

“Tetap saja. Kau berdandan sebelum pergi tapi kau bahkan tidak memberi kesempatan aku untuk mencuci wajah.” Sooji.

“Pakai ini.” Myungsoo mengambil bungkusan dari jok belakang lalu memberikannya pada Sooji.

Sooji terkejut karna bungkusan tersebut berisi sebuah mantel hitam yang indah. “Kita kembaran?” sang wanita tersenyum.

“Hadiah dari kolegaku. Dia menyuruh kita memakainya saat bepergian di malam hari.”

“Kau sungguh mengejutkan.” Sooji berucap masih dengan senyum. “Aku tidak tau kau punya sisi manis.”

“Kau menyukainya?”

“Tidak buruk.” Jawab Sooji.

“Pakailah. Sebentar lagi kita sampai.”

Sooji menuruti perkataan Myungsoo untuk memakai hadiah mantel yang baru saja ia dapat.

~

Myungsoo dan Sooji tlah sampai ditempat tujuan. Mereka sedang duduk disalahsatu bangku pinggir sungai sambil mendekap cup yang mengebul.

Setelah sepuluh menit sama-sama diam, akhirnya Myungsoo membuka suara. “Berikan tanganmu.”

“Wae?”

“Berhenti bertanya kenapa.” Myungsoo berjongkok didepan Sooji lalu menarik tangan Sooji.

“Sekarang kau tau bagaimana perasaanku saat awal pertemuan kita.”

Myungsoo menatap sejenak cincin pemberian Moonsoo yang melingkar di jari manis Sooji.

“KYA! Apa yang kau lakukan?!!” Teriak Sooji ketika Myungsoo mengunus cincin tersebut lalu melemparnya ke sungai.

Dengan tenang Myungsoo mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. “Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha mengganti kerja kerasmu dengan kesuksesanku. Jadi tunggu aku.” Myungsoo menyematkan sebuah cincin ke jari manis Sooji.

“Myungsoo-ya,,,” Gumam Sooji halus.

“Heiyaa,, kau bisa juga mengucapkan namaku dengan manis. Kau tersentuh karna cincin mahal ini kan? Benar-benar matrealistis.” Belum sempat Myungsoo berdiri, Sooji langsung memeluknya erat. “Gomawo,,, terimakasih untuk berlutut dan memakaikan aku cincin.” Myungsoo tersenyum ringan atas ucapan terimakasih Sooji.

“Apa motifmu memberikan aku cincin mahal ini?” Sooji melepaskan pelukannya.

“Bisakah tidak perlu banyak bertanya dan cukup ucapkan terimakasih?”

“Beritahu aku alasannya.”

“Karna kau pasti tidak mau barang murah.” Jawab Myungsoo.

“Tapi kenapa kau membeli ini untukku?”

Myungsoo bangkit kemudian duduk disamping Sooji.“Sebagai permintaan maaf.” Sang pria memberi jeda pada ucapannya. “Seharusnya aku tidak membentakmu kemarin, saat itu aku kehilangan kendali. Maaf.”

“Hanya itu?”

“Aku bersalah dibagian itu.” Jawab Myungsoo.

“Baiklah. Terserah kau saja.” Kesalahan yang diperbuat Myungsoo sebenarnya adalah dia bersama Soojung tanpa memberi tahu Sooji, tanpa meminta maaf, tanpa menjelaskan sesuatu. Myungsoo tak mengerti hal itu atau ia mengerti namun pura-pura tak mengerti.

 

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

 

A/N : Sudah berapa abad nih? Hhh maaf ya. Kemarin aku ngurusi scripsi. Terus leppi aku masuk klinik. 2 bulan, ganti layar, ganti keyboard, overhead, komplikasinya parah.

 

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

10 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 11)

  1. long time sekali..
    hampir gak ingat jalan ceritanya XD

    apa myung uda h mulai suka Sooji?

    Suka

  2. Keren bgt. Ah tapi kenapa myung msh mau nemhin soojung 😒

    Karakter suzy keren bgt.

    Suka

  3. Wahh sdh lama yaa… komawo sdh di update..masih geregetan kisah myungsoo dan soojinya.. ditunggu next partnya yaa.. hwaiting

    Suka

  4. Wiihhhh sudah lama banget yah gak dilanjut. Aku dah lupa jalan cerita sebelumnya, tapi ntar deh kalo ada waktu aku baca ulang dari awal. 🙂
    Myungsoo kok menyebalkan banget sih? Malah jadi dia yg marah2 ke Sooji tanpa alasan yg jelas. Padahal dia yg salah karena kepergok jalan sama mantannya. Kalo gitu nikahin aja si soojung sono, kan katanya dia masih sangat mencintai mantannya itu. Gak rela rasanya Sooji nikah sama Myungsoo sementara suaminya itu masih belum bisa menghilangkan nama mantannya di otaknya. Lol
    Sooji mah pantas dapet yg lebih baik dari Myungsoo dan yg pasti yg bisa menerima dia dan mencintainya dengan tulus.
    Btw, welcome back authornim. Semoga segala urusannya lancar dan terselesaikan dgn baik. 🙂

    Suka

  5. sanbil ingat2 ceriranya..
    ini myungzy lagi cerita masalalu merekakan…
    pacar suzy minho kan??
    tetep sebel sama myungsoo..
    bagaimana yah reaksi suzy klo tau myungsoo mau ngasih hadiah ke mantan.. murka kyaknya
    bakalan ada reuni mantan..

    Suka

  6. ya ampun kak aku kangen tulisanmu ini…
    entah ada angin dari mana pulang langsung buka laptop dan liat wp ururan pertama ff ini..
    seneng deh ff ini dilanjut ceritanya, Myungsoo sama Suzy disini masih jadi favorite..
    makin greget bagian myungsoo bilang ke ayahnya dia masih mencintai soojung? oh god andai ada suzy disana mungkin ia langsung lari ke minho wk
    the best deh, makasih ya kak udah mau lanjut ceritanya, kelanjutannya aku tunggu ya,,

    Suka

  7. akhirnya…di lanjut juga thor….myungzy kalo berantem…dua2nya ga mau ngalah…suzy mulai suka tuh sm myung….lanjut thor…fighting…!!!!!

    Suka

  8. omo thor, myungzy mulai sweet2, moga aja smakin akur n jdi saling jatuh cinta

    Suka

  9. aigoo long time no see thor kkk
    myung bilng dy ga bisa lupain soojung? trus knpa dy hrus marah ps suzy senyum kcwo lain? dy egois klw kya gtu
    ada yg msih sdikit ngeganjel gtu ps bca prtengkaran or obrolan antara myumg sma appnya, omongan myung kya nunjukin klw dy blum bisa nrima suzy n msih mikirin soojung mnurut aku klw itu bnr myung bnr jhat >_<
    NEXT PART 😀

    Suka

  10. salam kenal kak. aku reader yang nemu cerita deabak ini gak sengaja pas cari ff.
    ceritanya bagus. maaf ya kak baru koment pas akhir, maaf banget kak
    idih myung masa gitu aja gak peka kalo suzy cemburu malah nyangka suzy itu cewe lain dari pada yang lain. semoga hubungan mereka ada kemajuan. eh itu si soojung kok ada lagi jangan- jangan nanti monho juga ada lagi. kak ditunggu segera next part nya udah gak tahan bolak balik laman.

    Disukai oleh 1 orang

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s