We Home

Thank for visit. leave your coment, please :)

Waiting Outside the Line (Chapter 12)

6 Komentar

Title                 : Waiting Outside the Line

Author             : Cahya Khosyiah

Main Cast        :  Kim Myungsoo | Bae Sooji

Other Cast       : Kim Moonsoo | Choi Minho | Jung Soojung | Lee Sungyeol |

Original Cast   : Yuna | Kim Sangbum |

Special Cast     : Lee Hyeri |

Pairing             : Myungzy JJANG!

Genre              : Romance, Married Life.

Rate                 : 18+

Disclaimer       : Bae Suzy masih milik Lee Min Ho, Myungzy hanya sebuah fiction. Cerita ini merupakan karangan fikti belaka, hasil imajinasi liar author. Jika ada kesamaan karakter adalah sebuah ketidak sengajaan. Cast dalam cerita ini milik agensi, keluarga, dan pacar masing-masing. But this story is my mine.

Huruf tebal untuk flashback

R&R

/////////////////////////////////////////////////

Sooji mengeluarkan toner ke telapak tangan lalu menepukkan ke pipi sambil melihat wajahnya dikaca. Kulit sebening salju kontras dengan bibir merah alaminya. Tangan sang wanita berhenti saat matanya tertuju pada kilauan yang terpasang dijari manisnya.

Myungsoo membuang cincin yang diberikan Moonsoo, kemudian menggantinya dengan cincin pemberian sang pria. Bukankah itu sangat keren?  Sooji mendekap pipinya yang terasa panas, dia sendiri bahkan bisa melihat rona yang muncul dipipinya.

Sooji mendongak jam yang terpasang di dinding. Sudah larut. Mengapa Myungsoo tidak ke atas? Apa yang sedang ia kerjakan diruang kerja? Sooji hendak menyusul Myungsoo namun niatnya terhenti. Akan lebih baik jika ia membiarkan Myungsoo menyelesaikan pekerjaannya. Sooji tidak ingin menjadi istri manjayang mengerecoki pekerjaan Myungsoo.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Di keesokan pagi, Sooji juga tak mendapati Myungsoo ditempat tidur. Sooji berfikir, haruskah ia bertanya pada Myungsoo? Tidak. Hubungan mereka sudah mulai membaik, pertanyaan akan menimbulkan percecokan. Sama seperti sebelumnya.

~

Sooji menghampiri wanita setengah baya yang selalu membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah. “Ajuhmma? Kau sudah datang?”

“Akhir-akhir ini anda pasti tidak sempat sarapan karna sibuk. Seorang istri tidak boleh sakit nyonya.”

“Terima kasih sudah perhatian.” Senyum Sooji. Ia kemudian berjalan menuju ruang kerja Myungsoo, tak mendapati sang suami di ruangannya Sooji pun berniat pergi. Namun melihat meja kerja yang berantakan dia tak bisa membiarkannya begitu saja.

Sooji merapikan map yang berserakan diatas meja lalu mengumpulkan lembaran-lembaran kertas. Saat hendak memasukkan map kedalam laci, dia melihat kotak persegi panjang berwarna silver. Sooji pun tak bisa menahan dirinya untuk tak membuka kotak tersebut.

Omo!!!

Sooji sontak terkejut melihat isi kotak tersebut. Seuntai kalung manis berbandul krystal. Waaah,,, Ini  indah sekali, mata Sooji sampai berbinar karna kilauannya. Jadi setelah memberikan cincin, Myungsoo juga akan memberikan kalung. Bibir Sooji tersenyum merekah membayangkan kalung ini menghiasi lehernya.

Mendengar langkah kaki mendekat, Sooji langsung bergegas memasukkan kotak silver tadi kedalam laci. Ia mengontrok ekspresinya seakan tak terjadi apapun. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Kau tidak melihatnya?” Jawab Sooji datar.

“Aku bisa membersihkannya sendiri.” Timpal Myungsoo tak kalah dingin.

Sooji berhenti, “Kenapa kau tidak tidur di kamarmu?”

“Aku tidak suka siapapun masuk ke ruang kerjaku.”

“Seolma,,, kau tidur disini?”

“Keluar.” Ucap Myungsoo amat sangat dingin. Sang pria benar-benar punya banyak wajah. Tadi malam ia sangat manis sampai Sooji tak mampu mengatasinya, dan sekarang dia kembali ke sifat aslinya hanya dalam hitungan jam.

“Kenapa kau bekerja keras untuk pabrikku?”

Sooji tak menjawab pertanyaan Myungsoo.

“Sebagai agent C&P kau bisa saja menarik dana dan mencari perusahaan kosmetik lain yang lebih menguntungkan.”

Sooji berbalik pada Myungsoo yang memunggunginya, “Karna ini cita-cita ibumu.” Jawabnya. “Sebagai pihak C&P aku bisa saja memalukan seperti yang kau ucapkan, namun sebagai seorang wanita aku akan sangat bangga jika anakku meneruskan cita-citaku. Aku tidak bisa berhenti.” Tegas Sooji. Lama tak mendengar suara Myungsoo lagi, Sooji pun keluar dari ruang kerja sang pria.

Myungsoo mengambil dua frame foto yang menjadi satu. Ia memandangi foto dua wanita yang ia cintai. Foto sang ibu dan foto Soojung disebelahnya. “Ibu,,, apa yang harus aku lakukan?” lirih Myungsoo.

~

“Distributor Hongkong tlah diatasi, begitu juga dengan Thailand. Masalah ini akan segera teratasi.”

Ditengah rapat Myungsoo masih sempat melihat ponselnya, mengecek apakah ada panggilan masuk atau tidak.Ia melakukan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya sejak tadi malam Myungsoo mencoba menghubungi Soojung, namun tak ada jawaban dari sang gadis. Di hari ulang tahunnya, Soojung bahkan tidak menerima telfon dari Myungsoo. Apakah sesuatu terjadi pada Soojung? Myungsoo mengkhawatirkannya.

“Aku akan pergi ke Thailand untuk memastikannya. Moonsoo berangkat ke Paris untuk proyek  lain. Produksi akan tetap diurus oleh Myungsoo.”

Sooji melirik Myungsoo yang tak melepas pandangan dari ponselnya. Dia nampak bersemangat ketika ada pasan masuk.

‘Ayah berbicara padamu’ Myungsoo menegakkan badan dan mengitari pandangannya ke peserta rapat. “Aku akan melakukan yang terbaik.” Ucapnya sambil menoleh sebentar pada Sooji. Untung saja Sooji mengirimi ia pesan, jika tidak dia akan tampak seperti orang bodoh.

~

~

“Terjadi sesuatu?” Sooji menghentikan Myungsoo yang hendak menuangkan air putih kedalam gelas.

“Tidak.” Jawab Myungsoo.

“Lalu?” Sooji mengambil teko dari tangan Myungsoo kemudian menuangkan air minum untuknya.

“Hanya lelah.”

“Lelah, gembira, sedih,, wajahmu memang tidak ada bedanya.” Sooji  mengekor dibelakang Myungsoo sampai ke depan pintu ruang kerja Myungsoo.

“Jika kau sudah selesai kembalilah ke kamarmu.”

“Aku akan membuat makan malam.” Tawar Sooji.

“Tidak perlu. Kau juga pasti lelah.” Gless. Myungsoo menutup pintu kerjanya.

“Dasar orang aneh. Dia pikir aku akan benar-benar memasak selarut ini? Aku hanya mencoba bersikap baik karna dia sudah membelikan aku cincin.” Sooji mendumel menuju kamarnya, tepat didepan pintu ia berhenti. “Tapi,,, dia kan belum makan sejak siang.”

“Ah! Molla!” pekiknya.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

“Kau belum berangkat?”

“Aku ingin istirahat dirumah.” Jawab Sooji yang duduk disebrang meja makan dengan Myungsoo.

“Jangan masuk ke ruang kerjaku.”

“Aku  bukan orang tanpa kegiatan, Kim Myungsoo.” Timpal Sooji mengunyah roti selainya.

“Jangan menyentuh barangku.” Myungsoo menegaskan kata terakhir. “Apapun itu.”

“Teman-temanku akan berkunjung karna itu aku akan di rumah.”

“Dan jangan bergosip tentangku.”

Kalimat Myungsoo membuat Sooji muak. Haruskan dia bicara setengah-setengah seperti itu? “Tidak ada hal yang bisa dibicarakan tentangmu, Tuan.” Sooji dengan nada hormat yang dibuat-buat.

~

~

Beberapa menit setelah keberangkatan Myungsoo, Sooji pun menyiapkan jamuan. Daging, ayam, ikan,sayur segar, dan tentu saja kimchi tersaji indah diatas meja. Nuansa hijau-putih menjadi konsep hidangan Sooji. Ditengah meja ia menempatkan Rose green, enam lilin putih disamping kanan dan kiri bunga tersebut.

Tak menunggu lama bel pun berbunyi. Sooji berjalan menuju pintu lalu membukanya. Terlihat tiga temannya berdiri menunggu Sooji mempersilahkan mereka masuk.

“Tidak bisakah kau menyambut kami dengan senyum?” Luna menyengirkan bibirnya, dengan senyum yang dibuat-buat.

“Apa yang kau harapkan dari Sooji? Dia selalu seperti itu tiap kali bertemu kita.” Inna menimpali.

“Masuklah.” Sooji mempersilahkan.

“Kau masih belum tau alasan dia tidak mengundang kita ke pernikahannya.” Lanjut Inna masuk ke dalam rumah kemudian diikuti Jieun serta Luna.

“Kita akan merusak harinya jika kita datang.” Tambah Jieun.

“Waoh,,, Bae Sooji selalu mengagumkan,,” Mata Luna berbinar melihat tatanan meja makan yang disiapkan Sooji. “Upss,, Kim Sooji maksudku.”

“Berhenti melakukan itu.” Ucap Sooji.

“Wae? Aku melihatnya di majalah bisnis pagi ini.” Luna meyenggol lengan temannya tersebut. “Dan dia terlihat luar biasa. Aku sampai berfikir director salah memasukkan foto idol ke majalah bisnis.

“Dia tidak sebagus yang kau bayangkan.”

“Apapun itu, bisakah kita membahasnya sambil memasukkan sesuatu kedalam mulut?” Jieun memasang wajah memohon. “Perutku sudah meneriaki makanan didepan kita.”

“Aku sangat suka sekali pasta macaroni buatan Sooji.” Inna menjadi orang pertama yang menyicipi masakan yang disiapkan sang tuan rumah. Sedangkan Luna mengambil daging bumbu yang ditaburi wijen –Bulgogi-, “Makanan korea adalah yang terbaik.” Katanya sambil mengunyah.

“Dimana Sulli?” Tanya Sooji menyadari satu temannya tak ada diantara mereka.

“Dia akan terlambat. Mungkin sebentar lagi sampai.” Jawab Jieun.

“Apa dia berkencan lagi dengan Teamin?” Pertanyaan Luna tidak terlalu jelas karna mulutnya penuh dengan makanan.

“Seperti yang kau pikirkan.”  Jawab Jieun.

“Daebbak! Suamimu menyuruhmu berselingkuh dengan mantan kekasihmu. Sulli dan suaminya perlu diberi penghargaan.” Ucap Luna kini lebih jelas karna tak sedang mengunyah makanan lagi. “Beginilah kehidupan permaisuri pedamping sang raja. Aku sangat iri pada Jiuen.”

“Cinta dimasa SMA,, bukankah itu sangat menyenangkan? Perasaan hangat itu,, aku bahkan masih bisa merasakannya.” Inna tiba-tiba membahas masa SMA. Bukan tiba-tiba sebenarnya, karna kisah cinta Jieun dan suaminya dimulai pada masa SMA jadi Inna ingin mengenang masa-masa tersebut.

“Jika dipikir lagi, waktu itu kita seperti gadis-gadis mesum.” Ucap Jieun sambil tersenyum malu. “Kita selalu menghabiskan musim panas dengan menonton para atlite latihan tanpa baju atasan.”

“Dan yang terbaik diantara mereka adalah Minho.” Inna menambahi.

“Majja!!” Luna langsung menimpali dengan semangat. “Otot diperutnya selalu membuatku lapar.”

“Bicara tentang Minho. Bagaimana kabar dia Sooji?” Tak! Sendok ditangan Sooji tiba-tiba terlepas setalah mendengar pertanyaan dari Luna. Melihat Sooji terpatung sahabat-sahabatnya pun tersadar bahwa  Luna tlah melakukan kesalahan. Mengikuti Luna, Jieun dan Inna juga meletakkan sendoknya.

“Aura siapa yang dingin begini?” Sebuah suara memecahkan kecanggungan mereka. Itu suara sahabat mereka, Sulli.

Melihat seorang pria disamping Sulli membuat  Jieun, Luna, dan Inna langsung bangkit berdiri menyapa pria tersebut. Sebuah penghormatan bagi pemilik rumah.

l-4

“Tak apa. Lanjutkan makan siang kalian.” Ucap Myungsoo.

“Aku akan membereskan ini.” Sooji ikut berdiri, namun wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun,.

“Ya. Sebenarnya kami sudah selesai.” Ucap Inna dengan senyum.

“Kalian sudah selesai? Aku baru saja datang.” Sulli.

“Sebaiknya kita mengobrol diruang tamu.” Luna memberi saran dan langsung menuju ruang tamu tanpa persetujuan siapa pun.

“Yak! Aku belum mencicipi masakan Sooji.” Inna menarik Sulli  yang hendak duduk.

“Apa kalian melakukan kesalahan?” Bisik Sulli.

“Luna menjadi lebih bodoh daripada kau.” Inna membalas bisikan.

Sesampainya mereka diruang tamu, suasana pun masih canggung. Sooji datang membawa minuman dan makanan kecil lalu ikut bergabung dengan mereka.

“Kau lebih tampan daripada yang ada di foto.” Jieun mencoba memecangkan keheningan. Dia berbicara dengan Myungsoo.

“Terimakasih.” Jawab Myungsoo. “Aku melakukan perawatan. Lain kali akan ku perkenalkan kau dengan Dokter kulitku.”

“Itu saran yang bagus.”

“Kau pasti sibuk, tapi kau mau meluangkan waktumu untuk menyambut kami. Terimakasih.” Kini Inna ikut bicara.

“Kalian adalah teman-teman Sooji, dan ini kali pertama kalian berkunjung setelah pernikahan kami. Jadi kami harus menjamu kalian dengan baik kan?”

“Merasa terhormat calon pewaris Kim Corp menyisihkan waktunya untuk kami.” Ucap Luna dengan nada tertawa.

“Aku juga merasa bangga kalian berkunjung kemari. Ku harap kita bisa bekerja sama di masa depan.”

“Owwww.” Sorak Inna dan yang lain.

“Tidak ada hubungan yang murni diantara kita.” Jieun menimpali dengan bercanda.

“Sooji, dimana kamar kamar kecilmu? Ku rasa aku harus kebelakang.” Sulli berbicara dengan Sooji, sedangkan yang lain masih asik mengobrol.

“Ayo aku antarkan.”Tawar  Sooji.

“Tidak perlu. Tunjukkan saja letaknya.”

“Kau lurus saja. Letakknya disamping tangga, pintu pertama” Setelah diberi petunjuk, Sulli langsung bergegas kebelakang.

“Kau tahu? Yang menyebalkan adalah ketika seseorang terus bicara tentang bisnis padahal kita sudah mencoba untuk mengalihkannya.” Perbincangan yang menarik antara Myungsoo dengan teman-teman Sooji. Itu nampak dari wajah mereka yang bahagia,dan dibarengi tawa sesekali.

“Atau saat kita membicarakan tentang timnas sepak bola dan dia menjawab dengan perekonomian negara.”

“Katanya kita tidak bisa mengirim atlit bulu tangkis karna perekonoin sedang buruk.”

“Hei  Sooji! Kau mau kemana?” Inna bertanya karna melihat Sooji hendak pergi.

“Sulli terlalu lama dibelakang. Dia mungkin tidak menemukan kamar kecil.” Sooji pun menuju kebelakang, menyusul Sulli. Sesampainya di dekat tangga, dahi Sooji berkerut mendapati pintu ruang kerja Myungsoo terbuka 45 derajat.

“Sulli??” Sooji menemukan Sulli berada di dalam ruang kerja Myungsoo, dengan posisi membelakanginya.

Sulli langsung berbalik, wajahnya nampak merah dan berkeringat. “Aku kira ini kamar kecil.” Ucap Sulli tergagap. Sooji berjalan mendekati Sulli, namun sang sahabat buru-buru menarik Sooji keluar ruangan. “Sudah waktunya kami pulang. Aku akan mengeluarkannya di rumah saja.”

“Neo,,,” Ucapan Sooji segera dipotong Sulli. “Jangan khawatir. Aku tidak melihat apa-apa disana. Tidak terjadi apapun.”

“Chinggu-ya! kita harus pulang!” Ucap Sulli dengan nada keras, seperti memberi pengumuman pada teman-temannya.

“Tapi kau baru saja sampai.”

“Ayo pulang sebelum terjadi perang dunia disini.” Bisik Sulli pada Jieun. Dia juga memberi kode mata kepada Inna juga Luna.

“Sebenarkan aku ingin lebih lama di rumah kalian, tapi kami harus kembali.”

“Aku punya sesuatu untuk kalian bawa pulang.” Myungsoo membagikan bungkusan kepada mereka.

“Kau mengatahui detail tentang kami?” Inna mengecek isi bungkusan tersebut. Bungkusan-bungkusan itu berisi anggur, piringan musik, dan lain sebagainya sesuai dengan kesukaan masing-masing. “Mulai sekarang kalian juga berteman denganku. Jadi mohon dukungannya.”

“Arraso arraso arraso. ”  Balas Luna. “Haruskah kita menjodohkan anak kita kelak?” Ucapnya ditimpali dengan tawa.

“Palli!!!” Teriak Sulli dari dalam mobil Jieun. Entah sejak kapan dia sudah ada disana.

Inna, Jieun, dan Luna pun berpamitan kemudian pulang. Sooji membalas lambaian tangan teman-temannya. “Sulli pasti mendapatkan bahan gosipan.” Ucap Sooji masuk ke dalam rumah, ia berdiri menghalangi jalan Myungsoo. “Kau tidak menyembunyikan sesuatu didalam ruang pribadimu kan?”

“Apa maksudmu?”

“Sulli bertingkah seperti itu setelah melihat sesuatu dalam ruanganmu.”

Myungsoo nampak menegang, dia menunduk lalu berdehem. “Aniyo.”

~

~

“Kemari-kemari.” Sulli menepuk-nepuk pundak Jieun, menyuruhnya menghentikan mobil. “Aku tadi tidak sengaja masuk ke sebuah ruang pribadi, aku menebak itu adalah ruangan suami Sooji.”

“Kalian pasti terkejut dengan apa yang ku lihat.”

“Karna ini kau mengajak pulang lebih cepat?” Tanpa menjawab pertanyaan Luna, Sulli melanjutkan ceritanya. “Foto Myungsoo dengan gadis lain.”

“Jinjja?!!! Kau kenal dengan gadis itu?” Inna bertanya penuh semangat.

“Kita mengetahuinya.” Jawab Sulli. “Gadis yang kita lihat tempo hari bersama Myungsoo.”

“Heoll… Mereka pasti punya hubungan khusus kan?” Tanggap Jieun.

“Dia pasti kekasih Myungsoo sebelum Myungsoo menikahi Sooji.” Inna.

“Binggo!!!” Sulli menepukkan jari.

“Apa yang harus kita lakukan?” Luna bertanya pada ketiga sahabatnya. “Sooji teman kita dan Myungsoo juga baru saja menjadi teman kita.”

“Aku tidak bisa membayangkan jika Sooji mengetahui hal ini. Dia adalah wanita yang sangat menjaga kehormatannya.” Sambung Inna.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Luna terheran, di situasi seperti ini Sulli masih sempat menelfon seseorang.

“Teamin adalah teman Minho. Dia pasti pernah mengubungi Teamin, setidaknya sekali.”

“Sulli!!!” Teriak mereka bersamaan. “Kau tau, Sooji tidak akan melakukan hal yang tidak waras sepertimu.”

“Whatever! Apapun yang terjadi aku akan tetap berdiri dipihak Sooji.”

Inna dkk benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala teman mereka satu ini. Jika Myungsoo masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya maka Sooji akan kembali bersama Minho, begitu?

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’

Setelah hari itu, Myungsoo dan Soojung sering bertemu. Entah untuk suatu urusan atau sekedar minum kopi bersama saat jam istirahat.

“Kenapa kau melihat ponselmu terus?” Soojung mencodongkan tubuhnya melihat  layar handphone yang terus disentuh Myungsoo.

“Sedang memastikan Sooji untuk makan siang.”

“Bukankah kalian harus makan bersama. Kenapa kau bersamaku?” Soojung berdecak.

“Dia sedikit rewel dan aku tidak mau mengganggunya.” Jawab Mungsoo.

“Owww,,, Myungsoo tlah berubah karna seorang wanita. Dulu bahkan kau tak peduli walaupun aku sedang diujung tanduk.”Goda Soojung.

“Dia wanita yang sulit dimengerti.” Ucap Myungsoo pelan, nyaris berbisik.

“Ya benar. Harus ada seseorang yang mengalahkan kearoganmu.” Ucap Soojung.

“Aku tidak bisa melakukan apapun saat bersama Sooji.” Myungsoo tersenyum. “Semua yang kulakukan terlihat salah dihadapannya.” Sang pria berhenti sejenak. “Berbeda denganmu… Kau membuatku nyaman.”\

Soojung diam tak berkutik mendengar penuturan Myungsoo yang terakhir.

“Aku harus segera kembali ke sekolah.” Soojung buru-buru membuyarkan lamunannya.

“Haruskah ku antar?” Tawar Myungsoo.

“Tidak. Kau juga pasti sibuk.” Soojung menolak dengan halus.

~

~

Myungsoo melirik mantel yang sedang berada digenggamannya. Saat istirahat siang tadi jaket Soojung tertinggal caf, jadi daripada mengatarkannya ke sekolah lebih baik membawanya pulang. Toh mereka akan bertemu lagi.

“Hari ini kau mebawa jaketnya, selanjutnya kau membawa dia ke rumah ini.”

Sebuah suara dari ruang makan mengagetkan Myungsoo. “Kenapa kau terkejut?” Ucapnya lagi.

“Apa maksudmu?” Myungsoo menyerit.

drama-1 “Aku pernah melihat pacarmu memakai ini. Jaket ini milik dia kan?” Sooji menentengkan jaket yang tadinya berada ditangan Myungsoo.

“Namanya Soojung. Jung Soojung.”

Sooji mulai geram. Dia benar-benar tidak suka nama itu. Terlebih jika Myungsoo yang mengucapkannya.

“Jika kau sangat menyukainya kenapa tak membawanya pulang saja? Katakan pada ayah kau akan tinggal bersamanya.”

“Kami hanya minum kopi Sooji. Perusahaanku memberikan beasiswa pada sekolah yang sedang ia tempati jadi kami membahasnya.”

“Terserah!” Sooji mengibaskan kedua tangan  keatas lalu pergi.

Myungsoo mengendus berat. Apa yang dia lakukan tidak pernah benar dihadapan Sooji. Menyebalkan.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Dan hari ulang tahun Soojung tlah tiba… Sepulang kantor Myungsoo melajukan mobilnya kearah rumah Soojung. Sesampainya dia disana, Myungsoo meresa heran. Ini terlalu sunyi, tidak ada suara dan tidak ada yang membukakan pintu, Myungsoo menelfon Soojung namun juga tidak diangkat.

Dengan mengingat kembali kode rumah Soojung, Myungsoo memberanikan diri membuka pintu rumah Soojung. Sungguh terkejutnya Myungsoo ketika mendapati sang gadis terkapar tak berdaya di lantai ruang tamu. Badannya panas dan wajahnya juga pucat.

Myungsoo membawa Soojung pulang ke rumahnya, dengan harapan Sooji bisa membantu merawat Sojung nantinya. Tapi sayang, Sooji tidak sedang di rumah. Dia beberapa kali menghubungi Sooji namun tak ada tanggapan dari sang Istri.

Akhirnya, dengan insting Myungsoo merawat Soojung. Mengompres, membuatkan bubur, dan memberinya obat.

~

~

“Kau sudah bangun?” Myungsoo buru-buru memapah Soojung yang terlihat hendak berdiri.

“Kenapa aku bisa di rumahmu?” Soojung  bingung. Seingatnya, dia hendak kerumah sakit karna merasakan badannya tidak enak. Dan entah bagaimana saat ia sampai diruang tamu, Soojung melupakan segalanya.

“Aku kemarin datang ke rumahmu.” Jelas Myungsoo. “Bagaimana keadaanmu?”

“Kurasa lebih baik karna perawatanmu.” Soojung  tersenyum. Dia memang terlihat lebih segar daripada kemarin. Soojung melihat sekeliling kemudian bertanya, “Tidak ada seorangpun dirumahmu?”

“Ayah dan Moonsoo sedang dalam perjalanan bisnis.”

“Lalu,,, istrimu?” Soojung radu menanyakannya.

“Entahlah dia belum pulang sejak tadi malam. Mungkin sebentar lagi .” Jawab Myungsoo.

“Apa dia sering seperti ini?”

Myungsoo tersenyum, “Tidak.” Jawabnya. “Perusahaan sedang dalam masalah jadi dia jarang pulang.”

“Apa  yang sedang kau lakukan?” Soojung melirik dapur yang berasap.

“Aku sedang membuat sup.”

“Bolehkan aku membantumu?”

Myungsoo memiringkan kepala lalu tersenyum. Dia tidak keberatan namun… “Aku baik-baik saja.” Ucap Soojung seolah mengerti isi kepala Myungsoo. Mereka kemudian menuju ke dapur.

“Apa yang ingin kau masak?”

Myungsoo menggaruk belakang kepala, “Entahlah. Aku baru merebus air.” Dia tersenyum kikuk.

“Apa makanan sesukaan Sooji?”

DEG … Benar! Myungsoo sudah berbulan-bulan hidup dengan Sooji namun ia bahkan belum tau apa makanan kesukaan Sooji juga hal-hal lainnya. Sedangkan sang istri sudah tau hal yang ia suaki dan kebiasaan buruk dirinya.

“Kurasa dia suka makan semua.” Jawab Myungsoo

“Kurasa??” Soojung menatap Myungsoo bingung. “Baiklah kita akan masak makanan kesukaanmu saja. Oke?”

Myungsoo tersenyum tanda setuju.

~

~

Tak lama…hanya sekitar 30 menit Soojung telah menyiapkan sarapan pagi bagi mereka. Saat melihat Soojung dari belakang, Myungsoo teringat dengan hadiah ulang tahun yang ingin ia berikan. Ia pun beranjak pergi dari ruang makan tanpa memberi tahu Soojung.

“Sarapan sudah siapa Myungsoo.” Tak ada jawaban. Soojung melihat sekeliling namun ia tak menemukan Myungsoo. “Myungsoo?” Masih belum ada sahutan. “Myungsoo?!!”

Greep … Soojung terkesiap merasakan lengan Myungsoo melingkari perutnya. “Myungsoo…” Ucapnya lirih.

“Untuk sebentar saja,,, biarkan seperti ini.” Ucap Myungsoo tepat ditelinga Soojung.

“Tapi ..” Soojung semakin terkejut saat Myungsoo memasangkan sebuah kalung pada lehernya. “Apa ini?”

“Saengil Chukae,, my star.” Myungsoo berkata lalu kembali memeluk Soojung dari belakang. “Hari itu aku berjanji akan selalu melindungimu …”

“.. tapi hari ini aku tidak bisa lagi menepati janji itu. Aku melepasmu. Maafkan aku.”

//////////////////////////////////////////////////////////

A/N        : Aku sedang berusaha, berusaha, berusaha. Berusaha nerusin ff, berusaha terus nulis, berusaha terus berharap Myungzy Real.

Thank for read. DON’T BE SILENT READER AND STOP PLAGIATOR!!! Sorry for typo. Stay tune on this blog and wait next chapter. Annyeooooong. 😀

Iklan

Penulis: cakho

Suka ngayal. Mendengarkan semua musik. Random. Multifandom but I'm Anime fan.

6 thoughts on “Waiting Outside the Line (Chapter 12)

  1. Aku bener bener kasian sama sooji disini dia kerja keras buat perusahaan myungsoo tapi myungsoo seolah tidak menghargainya boleh enggak aku reques? Suzy cerai aja sama myungsoo biarin dia hidup sendiri myungsoo nyesel juga biarin hiseu

    Disukai oleh 1 orang

  2. Aku akan trus menyemangatimu author, untuk melanjutkan ceritanya. Sayang aku udah suka sama ceritanya..
    Aku harap disana tidak ada suzy, dan tidak akan tahu masalah soojung kerumah mereka.
    Hwaa aku juga merasa terkhianati oleh myungsoo.
    Dan teman teman suzy memang daebak ya.. Keren deh

    Suka

  3. Hmmm MyungStal… Minho dimanakah dirimu… Wahhh namja macam Myungsoo harus ditinggalksn.. Karena gak memikirkan istrinya sama sekali..
    Klo bisa updatetanya secepatnya yahh..
    Moment Myungstalnya selalu manis.. Karena mereka masih punya rasa.. Klo suzy mah apa atuh.. Benalunya myungstal

    Suka

  4.      ∧_∧ ∩
         (๑・ω・)ノ
         ( つ /
         (  ノ
         (/(/
         ☆
     ☆   │   ☆
      \      /semangat

    Suka

  5. part ini bnr” nyesek bacanya suer, aku ksel bngt sama myung, myung jinja nappeun dy smpe nyuekin suzy cuma karna soojung eeyy suami macamapa dy smoga suzy lg sma minho biar tau rasa si myung eeeyyyy aku ksel bngt sma myung >_<
    thor please next ini bnr" bkin hati ga tnang prlu lanjutannya pleaseeee
    NEXT PART 😀

    Suka

  6. myung kyknya mau ngelepasin soojung…tp tmptnya slh…pasti bkl ada slh phm nih…mslh kalung itu lgi…plus minho…wahhh…ditunggu next partnya…jgn lm2 thor..fighting

    Suka

Tell me what you feel,,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s